Mata Ke 7

Mata Ke 7
BAB 5 BAGAS


__ADS_3

"kamu mau kemana"


"mau tidur di sofa"


aku menarik selimut kasur ku untuk menutupi badannya, (apa yang Nasya pikirkan tentang ku, apa dia pikir aku tega membiarkannya tidur disofa) batin ku sedikit kesal, aku mendorongnya ke atas kasur agar dia bisa berbaring disana. Hari sudah hampir subuh dan kita masih terjaga, aku berbaring di sampin Nasya yang terbelit selimut karna ulah ku.


(apa ini saat yang tepat aku menanyakan hal itu, ah atau besok, tapi kurasa ini waktu yang pas, tapi bagaimana aku memulainya) batin ku, aku memberanikan diri ku memulainya, aku menarik nafas ku dan berusaha sebiasa mungkin namun ritme jantung ku sangat cepat seperti hampir meledak malam itu.


"haruskah kita pacaran" kata ku dengan wajah sedatar dan sebiasa mungkin sambil menghadap langit langit kamar ku.


"aaah kamu suka aku" tanya Nasya kembali pada ku dengan wajah percaya dirinya


"kau tidak pernah menyangkal jika orang menyebut ku pacar mu"


"aku hanya malas menjelaskan pada mereka"


"apa kau tidak pernah berdebar melihat ku"


"emm ku rasa tidak"


Dada ku seperti tertusuk mendengar semua jawabannya, seperti tidak ada harapan lagi untuk ku memilikinya. Tapi entah kenapa aku belum ingin menyerah malam itu. Aku memindahkan badan ku menindihnya sambil mendekatkan wajah ku.


"apa kau tidak merasakan sesuatu jika sedekat ini" kata ku, jantung ku sudah berdetak sangat kencang tidak karuan.


"tidak" jawab Nasya singkat dengan wajah datarnya


"bahkan jika aku mencium mu" kata ku reflek keluar tanpa perintah dari otak ku


"lakukanlah dan aku akan memebenci mu"


Tubuh ku rasanya membeku, aku menjauhkan wajah ku dari hadapan Nasya, sungguh aku tidak ingin di benci oleh orang yang menolong ku dari dunia ku yang sunyi seperti dulu. Aku menjauhkan wajah dan ingin menjauh dari hadapan Nasya, tapi dia menahan ku dia memegang kedua pipi ku dan dia terlihat mengamati wajah ku dengan saksama.

__ADS_1


"baiklah ayo pacaran, tapi kau masih punya PR"


Aku sedikit membulatkan mata ku karena kaget dengan ucapan Nasya, aku reflek membalas tatapan Nasya dan melihat dia tersenyum. Aku mendengar bahwa hubungan ini akan bersyarat, tapi anehnya aku merasakan ketulusan ketika melihat wajahnya.


"apa itu" jawab ku dengan bibir sedikit tersungging karna senang, rasanya ingin melompat kegirangan tapi ja'im.


"dapatkan hati ku terlebih dahulu"


"lantas kau mengajak ku pacaran karna apa"


"i dont know, rasanya di dekat mu energi ku seperti terisi kembali"


"ha"


Aku melihat pergelangan tangan ku yang di beliti tali jiwa Nasya, mereka seperti bergerak ingin kembali benang benang yang tengah berada di tubuh Nasya keluar perlahan menarik pelan benang benang yang membelit di pergelangan tangan ku. Pria joseon itu datang di balkon kamar ku, ku lihat mulutnya bergerak memberi tau ku sesuatu.


"sinisiyeo, joheun iri aniraneun geol aljanhayo (lepaskan lah dewa, kau tau itu bukan hal baik)


"aniyo (tidak)"


"kau tau aku punya keahlian baru dengan hanya menatap mata mu kan"


(ah benar juga, mata ke 7 gyuri, mata alam semesta, dia tidak perlu bertanya tentang apa yang ingin di ketahuinya, cukup dengan menatap mata lawan bicaranya saja dia akan mengetahui semua yang ingin dia tau) batin ku, aku langsung mengalihkan pandangan ku, masih terlalu awal untuk Nasya mengetahui semuanya tentang kita berdua. Nasya mengganti posisinya dan sekarang dia berada dia atas ku dan aku sebaliknya. Selimut yang membelit tubuhnya sudah jatuh ke lantai.


"sya kamu tau apa yang kamu lakukan"


"aku tau, tapi aku belim selesai berbicara pada mu"


Wajahnya tampak sedikit serius, sudah tidak ada senyum di wajahnya. Pertanyaan yang di lontarkan pada ku setelahnya membuat tubuh ku membeku, aku hanya diam dengan wajah kaget lidah ku kelu tak bisa mengelak tak bisa bicara (apa dia melihat semuanya, apa dia tau yang ku bunuh saat itu dia dan Kang) batin ku.


"kau tidak perlu menjawabnya sekarang, aku tau otu pertanyaan yang cukup sulit untum di jawab"

__ADS_1


"maaf aku tidak bisa menjawabnya sekarang namun itu bukan kehendak ku, kau hanya perlu tau itu" perasaan ku cukup tenang karena dia belum melihat semuanya bahkan dirinya dan aku bersyukur dia mempercayai ku saat itu.


"apa saat ini kita resmi pacaran"


"iya mungkin"


Aku tersenyum senang dan memeluk Nasya erat erat hingga tak sadar kalau dia sampai susah mengambil nafas, aku merasa keberanian ku tidak sia sia untuk mendapatkannya malam ini. Meskipun ada kisah pahit di antara kita, aku ingin mencoba mengukir kenangan indah tentang kita berdua di bumi ini.


Aku merubah posisi kami seperti semula dan membuat tanda cukup lama di leher Nasya. Wangi sabun mandi yang dia gunakan menusuk hidung ku, Nasya mendorong dorong tubuh ku yang menindihnya.


"mphk ah" aku mengambil nafas setelah melepaskan leher Nasya, terlihat tanda hitam kemerahan di leher Nasya aku mengusapnya sisa saliva ku yang menempel di lehernya (akhirnya aku memiliki mu lagi) batin ku.


Terdengar suara Nasya yang sedang memarahi ku, aku tidak bisa menahan diri karna terlalu senang dengan keadaan saat ini. Aku mengangkat Nasya membenarkan posisi tidurnya dengan benar, aku berencana tidur di sofa malam ini


"Hey awas saja kau macam macam aku sudah menyiapkan nomor polisi jika kau bertingakah aneh aneh" kata Nasya dengan memperlihatkan nomor polisi yang dia tulis di ponselnya


"Hahhah iyaaa, tidurlah sayang hari ini begitu melelahkan"


"Geli aku kamu panggil gitu udah sana di pojok, pokoknya jangan lewati guling paham"


"Wah aku boleh tidur disini, Oke baiklah selamat tidur pacar ku"


Aku akhirnya batal tidur di sofa malam ini, aku tidur di sisi kasur di samping Nasya malam itu, dia bahkan langsung terlelap tanpa memegang ponselnya sedikit pun, aku hanya memandangi wajah cantik dewi ku yang tengah tidur dengan lelap malam itu. Dia berbalkm dan memeluk guling yang di jadikan pembatas tadi. Mata ku mulai berat dan akhirnya terlelap, entah sudah berapa lama aku tertidur aku merasa ada yang memeluk ku, aku membuka mata ku yang sangat berat untuk di buka, pandangn ku masih kabur karena habis tertidur, aku memfokuskan pandangan ku dan terlihat Nasya sedang memeluk ku, aku kembali memeluknya dan ingin tidur, terdengan beberapa kali dia tertawa dalam tidurnya


"apa yang begitu menyenangkan hingga kau tertawa seperti itu" aku mengusap rambut lembutnya pelan takut dia terbangun


"taehyung" kata Nasya dalam igauannya


"siapa yang dia panggil" kata ku dengan suara pelan


"taehyung saranghae" gigaunya sambil senyum senyum

__ADS_1


"what, apa itu mantanya" kata ku mengira ngira dengan perasaan kesal


"saranghae" Nasya menciumku, dia menempelkan bibirnya pada bibir ku, lama sangat lama sambil masih dalam keadaan tertidur dia memanggil nama laki laki yang tidak ku kenal itu. Nafas kita bertukar wajah kita sangat dekat aku hampir gila dibuatnya. Senang dan kesal yang ku rasakan, bagaimana bisa dia memanggil lelaki lain saat dia sudah punya pacar. Dia membalikkan posisi tidurnya membelakangi ku, aku memeluknya dan melanjutkan todur ku lagi karrna masih sangat mengantuk.


__ADS_2