
Ditengan pembicaraan serius antara Mita dan Gyuri mereka di kejutkan dengan kedatangan Julia dari pintu kamar Gyuri, dia datang dengan mbak Wulan yang cuma senyam senyum sambil berdiri di belakang Julia. Mereka masuk dan duduk di sisa ruang di kamar sempit milik Gyuri.
“wah Nasya nangis, lu apain Mit” ucap Julia heboh sendiri sambil memojokkan Mita bercanda
“hahaha melo dia, padahal nggak aku suruh nangis” balas Mita dengan senyum mengejeknya menggoda Gyuri
“ya siapa yang nggak melo sih dengar cerita kamu Mit, gila lu ah” protes Gyuri
“cerita apasih kalian, certain kita juga lah” kata mbak Wulan memprotes karena ketinggalan cerita
Mita menceritakan apa yang dikisahkan pada Gyuri sebelumnya, semuanya tanpa ada yang tertinggal. Mereka terdiam tanpa suara termasuk Gyuri. Julia yang paling gampang baper paling pertama meneteskan air mata, di susul mbak Wulan dan akhirnya Gyuri juga menangis kembali. Pada hari itu terjadi menangis berjamaah di kamar Gyuri. Yah, yang ada di dalam kos kosan Endang itu hanya mereka berempat dan tanpa di sadari mereka banyak kecocokan dan akhirnya membangun circle yang menurut mereka asik.
Mereka saling mendukung dan saling terbuka satu sama lain. Yang tertua di circle itu adalah mbak Wulan, dia adalah mahasiswa semester akhir yang lagi sibuk sibuknya. Sebelumnya banyak anak mahasiswa yang tinggal di kosan endang itu, namun seiring waktu tidak ada yang bertahan lama.
Mereka keluar satu persatu, ada yang sudah lulus dan kembali ke kota asal mereka, ada yang di usir sama bu Endang karena nggak pernah pulang ke kos, ada yang milih buat cari kos kosan lain karena peraturan ketat dari bu Endang yang terkenal judes itu membuat mereka tidak nyaman dan ada yang keluar karena selalu mengalami sleep paralysis (ketindihan) yang menurut mereka lumayan parah. Sampai hingga saat ini yang bertahan hanya mereka berempat.
Suasana melo di kamar Gyuri sore itu masih berlanjut, mbak Wulan yang masih menteskan air mata itu mencoba mengelus Pundak Mita yang bahkan tidak meneteskan satu titik airmata itu.
“uuuh gedek banget aku sama Bude mu, besok liburan kamu ke rumah ku aja lah” ucap mbak Wulan sambil memukul Kasur Gyuri saking jengkelnya
“eits, dia mau ikut aku loh mbak” ucap Gyuri menentang ajakan mbak Wulan untuk mengajak mita kerumahnya
“lah kan kamu ma uke Korea kan”
“iya, tapi ini hadiah buat Mita”
“diih Mita ajanih yang dapat hadiah?” protes Juli yang duduk di samping mbak Wulan
“enggak dong, nih buat kalian hadiah sehat, banyak kan”
Gyuri memberikan parsel buah buahan yang cukup besar kepada mereka berdua dan beberapa susu dan jus buah kemasan. Julia dan Mbak Wulan kaget dan terlihat senang mendapat bingkisan buah yang cukup banyak itu. Mereka memakan buah dari Gyuri Bersama dan bercanda tawa. Gyuri berpamitan untuk pulang pada hari jumat dan untuk study pertukaran kepada teman temannya, dia juga berpamitan tidak tidur di kos malam ini.
“mau tidur dimana kamu?” tanya mbak Wulan curiga sambil senyum senyum
“ditempat Bagas mbak, soalnya besok aku berangkat bareng dia”
“heemmmm.. jangan macam macam kamu ya, inget perempun kamu tuh”
“iya mbak e, tenang saja nggak bakal berlebihan koook” cengir Gyuri
“eehh guys…. BTW kan ada yang pacar baru niiiih, ehem, belum dapat pajak jadian kita yakan Mit, Mbak hahahaha” kata Julia sambil menyenggol nyenggol Gyuri yang duduk sambil senyum senyum salting itu
__ADS_1
“apa siiihhh..yaudah mau makan apa"
“yeeeeyyy makan gratis kitaaa huhuw” teriak tiga kawan lainnya, bersorak karena malam ini dapat makan gratis dari Gyuri
Gyuri sudah menyiapkan semua barangnya yang akan dia bawa besok, dia sudah mengurus ijin kampus untuk izin lebih dulu, dia juga sudah mengurus izin ke ibuk kos dan yang paling utama adalah pada teman temannya di kos Endang, mereka seperti keluarga kedua bagi Gyuri. Tahta Putri dan Rey sebagai sahabatnya bahkan ada di bawah teman teman kosnya, Rey dan Putri hanya sebatas sahabat baik untuknya tapi teman teman kosnya adalah keluarga kedua baginya, kalau orang bilang MY CIRCLE MY SECOND HOME.
Yul menjemput Gyuri pada pukul 07. 30, teman teman kosnya mengantarnya dan menyelamatinya atas kerja keras dan prestasi yang dia dapat dari kerja kerasnya selama ini. Teman temannya bahkan meninggalkan pesan pada Yul agar mejaga Gyuri dengan baik dalam keadaan apapun. Mobil Yul melaju menembus gelapnya malam, melewati ratusan mobil dan motor yang berlalu Lalang di panjangnya jalan raya malam itu. Gyuri melihat keluar jendela melihat ramainya lalu lintas di jalan menuju tempat tinggal Yul.
“sayang kamu kenapa hem?” Yul memegang tangan Gyuri namun Gyuri meletakkan tangan Yul kembali ke stir mobilnya
“hemm… menyetir dengan baik, gunakan kedua tangan mu” Gyuri mengomeli Yul
“Gyuri… teman teman mu baik sekali, bahkan mereka sampai mengomeli ku haahaha…”
“sungguh, hahaha, mereka bilang apa pada mu?”
“mereka bilang aku harus menjaga mu, katanya kalau sampai terjadi apa apa mereka akan mengejarku sampai ke ujung dunia dan menenggelamkan ku di laut”
“hahahaah ya ampus ada ada saja, jadi kamu harus menjaga ku oke”
“siaaapp”
“aah Yuuull… Im so scary” terlihat wajah pucatnya yang tidak bisa Gyuri tutupi lagi
“there’s me baby”
“aah… ayolah, aku takut Yul”
Yul melihat wajah Gyuri yang pucat pasi, keringatnya mengucur deras dari kening dan pelipisnya. Yul memegang tangannya mengingatkan bahwa ada dirinya di sampingnya dan mengajaknya buru buru keluar dari mobil mengambil koper dan tas Gyuri dan segera memasuki lift. Gyri menghembuskan nafas lega Ketika dia sudah berada di dalam lift dengan Yul dalam keadaan baik baik saja. Gyuri mengakat tangan Yul kedepan pandangannya, dilihatnya telapak tangan kekasihnya, dia memejamkan mata dan kembali memebuang nafas lega.
“haaah syukurlah” Yul yang mengerti maksud Gyuri mencoba menggenggam tangan wanitanya dan menenangkannya
“tidak akan terluka lagi sayang”
“aku takut…” Yul mengusap rambut Gyuri dan membawanya kedalam pelukannya
Tidak lama kemudian mereka telah sampai ke depan rumah Yul, dia menuntun Gyuri untuk memasuki rumahnya, Yuri melepaskan tuntunan tangan Yul dengan senyumnya seperti tidak terjadi apa apa pada dirinya sebelumnya.
“aaah… aku kembali” ucap Gyuri pada rumah besarnya yang kososng itu
Yul hanya menggeleng dengan senyum yang sedikit dia sungggingkan di bibirnya. Dia menaruh koper Gyuri di ruang tamu Bersama belanjaan belanjaan yang dia beli sebelumnya agar besok tidak ada yang terlupa.
__ADS_1
“oh… kamu habis belanja?” tanya Gyuri saat melihat banyak tas yang tertata di sofa ruang tamu
“aah iya sayang, aku membeli sedikit oleh oleh untuk mama, papa dan Aksa” jelas Yul
“banyak banget sayang”
“enggak kok, yuk istirahat”
Jam sudah menunjjukkan pukul 10.51 hampir dini hari. Gyuri dan Yul masih terjaga dengan berbagai cerita mereka berdua. Saling bercanda menggelitik satu sama lain dan akhirnya mereka Lelah sendiri. Gyuri mencoba memastikan bahwa Yul tidak gugup untuk menemui papa mamanya besok. Dia takut papanya akan marah karena dia malah pacaran dan tidak serius belajar.
Namun dia sangat mengerti ayahnya, dia tidak akan murka dengan masalah yang bahkan itu adalah hal pribadi anaknya jadi dia cukup baik baik saja setidaknya untuk saat ini. Di saat dia tengah tegang dengan ekspresi ayahnya besok Gyuri teringat sesuatu, ya, tentang garis biru yang ada di tangannya, yang hanya hilang saat dia berada dekat dengan Yul.
Dia menolah kearah Yul yang sedang bersandar pada bantal dan sibuk dengan Hpnya. Gyuri mendekati dan memeluk perut atletis Yul itu, Yul yang mengetahui kekasihnya dalam mode manja itu mematikan Hp yang ia genggam dan meletakkannya dimeja yang tepat disampingnya.
“Yul…”
“emm… kenapa sayang” jawabnya sambil megusap rambut hitam Gyuri
“aku mau minta sesuatu pada mu”
“apa itu, katakan saja”
“akuuu mauuu, nagih jawaban tentang garis biru yang hilang di tangan ku saat dekat dengan mu dan aku ingin bertanya satu hal lagi pada mu”
Yul mengehentikan usapan tangannya pada rambut Gyuri, jantungnya mulai berdegub tidak karuan, Yul sangat takut tentang benang jiwa yang dia ikatkan pada pergelangan tangannya itu. Dia takut Gyuri malah menjauhinya karena dia sudah membuat kesalahan. Ditambah pertanyaan tambahan yang akan Gyuri tanyakan kepadanya.
“pertanyaan apa sayang?”
“neo mwoya, neo nuguya, naneun dangsinege jeongmallo mudseubnida (kamu itu apa, kamu itu siapa, aku sungguh bertanya pada mu)"
Yul beku, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Gyuri dengan berani, dia tidak bisa menatap mata kekasihnya itu. Gyuri duduk disamping Yul yang tengah tertunduk itu, megusap rambut kekasihnya pelan dan mengusap pipi Yul pelan.
“sayang, kamu percaya aku kan? Bukan kah aku pernah bilang akan mempercayaimu sampai akkhir” Yul sedari tadi menunduk akhirnya memandang Gyuri lagi dengansenyum di bibirnya
“aku berjanji tidak akan melukai mu” ucap Yul mengusap dan mencium bibir Gyuri singkat lalu berdiri dari duduknya
Yul berjalan meninggalkan Kasur tempat Gyuri masih terduduk disana, Yul memnaggil Gyuri untuk berdiri disebrang Kasur tepat di depan meja rias Yul. Dia melambaikan tangannya agar Gyuri cepat menghampirinya, setelah memposisikan Gyuri dengan tepat dia meninggalkan Gyuri keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
Gyuri hanya menunggu sambil meilhat indahnya bulan yang menyinari lanngit malam dari balkon kamar Yul. Setelah beberapa saat dia berdiri, terdengar Langkah kaki yang mendekati pintu kamar, ya dia adalah Yul, lambat laun Langkah Yul semakin mendekati pintu kamar.
Gyuri terdiam melihat apa yang di bawa Yul ditangan kananya. Dia membawa pedang Panjang bersarung warna biru tua yang terlihat indah dan mengkilat digenggaman Yul seakan mengucapkan hai ada sang pemilik pedang itu. Badan Gyuri terasa dingin, jantungnya berdetak tak karuan melihat pedang Panjang yang di bawa oleh Yul itu. Jemari Gyuri makin dingin kala Yul semakin mendekat padanya dan akhirnya berdiri dihadapannya dengan tetepan dinginnya.
__ADS_1