
Malam itu semua dewa dan dewi yang di turunkan ke bumi merasakan kekuatan besar yang muncul, Putri dan Rey yang tengah asik mengerjakan tugas kelompok terperanjat dan membulatkan matanya.
"Sarang... Energi ini..."
"keseimbangan... Apa Gyuri kembali?"
Seluruh jagat raya malam itu merasakan kembalinya keseimbangan. Pohon pohon seperti menari, angin bertiup lembut, langit malam yang sebelumnya mendung kembali diterangi cahaya bulan, kota kota yang bahkan tidak pernah mendapatkan sinar bulan dan selalu menghadapi cuaca buruk kini setelah beberapa tahun lenyap dan kini bisa merasakan sinar bulan, Malam itu terasa sejuk dan tenang.
Bukan hanya jagat raya yang sedang merasakan kembalinya sang keseimbangan dan ketenangan. Namun di balik langit yang luas itu dunia para dewa juga sedang porak poranda menghampiri pemimpinnya. Dewa langit yang sebelumnya duduk tenang di singgasananya kini berdiri tanpa aba aba dengan wajah kaget, istrinya yang duduk tepat di sampingnyapun mengeluarkan ekspresi kaget, dewi itu menteskan air mata sambil berkata pelan.
"anak ku... Kembali" ucap dewi kebijaksanaan yang merupakan istri raja itu
"putri ku, kembali... Aku harus menyuruhnya pulang" ucap dewa langit yang mulai melangkah pergi dari singgasananya, namun bliau teehenti, tangannya di pegang oleh sang istri
"cukup... Biarkan dia di bawah sana lebih lama, aku yakin pemuda itu akan menjaganya"
"pemuda pembunuh itu? Bagaimana aku bisa percaya pada pembunuh putri ku?" dewa itu melepas tangan yang menahan tubuhnya untuk melanjutkan langkahnya
"kkwae chinaehaneun! geuga sarinjarago hwagsinhabnikka? maldo an doeneun yogeulo yogkkaji haesseo (cukup sayang! apa kamu yakin dia pembunuhnya? kau bahkan mengutuknya dengan kutukan yang tidak main main)"
"nuneuro bogiedo (aku bahkan melihatnya dengan mata ku)"
"yeobo, sarinjaga pihaejareul wihae uneun geoseul bon jeogi issseubnikka? ne yogdo geochimeobsi badadeulyeosseo nal mideo o haneurui sin nae nampyeon (sayang, apa kamu pernah melihat, pembunuh yang menangis tersedu sedu melihat korban mereka? dia bahkan menerima kutukan mu tanpa protes sedikit pun, percayalah pada ku wahai dewa langit, suami ku)"
"nado uri adeului jugeume maeu seulpeossjiman jidojaroseo urineun gongjeonghaeya haji anhgessseubnikka? (aku juga sangat sedih dengan kematian anak kita, tapi sebagai pemimpin bukankah kita harus berlaku adil?)"
Dewa langit memijit keningnya dengan mata berkaca kaca, ujung telinganya begitu merah, dia hanya menutup matanya yang berair, sang dewi kebijaksanaan sangat mengerti apa yang di rasakan oleh suaminya, dirinya juga begitu kehilangan atas kepergian anak pertamanya. Sang istri mengelus punggung dewanya dan menuntunnya duduk kembali pada singgasananya.
Tidak berselang lama para dewa dewi lainnya datang menghadap sang pemimpin. Mereka meributkan dan bertanya apa dewi keseimbangat telah kembali, namun di tengah keributan itu, aura sang keseimbangan kembali menghilang. Langit kembali mendung. Dewa dewi yang baru saja sampai ke altar dewa kembali ribut dan bingung. Kenapa aura itu hilang lagi.
"wahai dewa langit, apa keseimbangan tidak akan kembali? Kenapa auranya hilang kembali?" ucap salah satu dewa yang tengah bersimpuh di hapadapan pemimpinnya dan di ikuti suara ricuh para dewa dewi lainnya
"simpan pertanyaan kalian dan tetap menunggu, aku pun ingin anak ku berada disini namun aku tidak bisa menghidupkan yang sudah mati" ucap dewa langit dengan suara tegasnya
__ADS_1
"kembali ke tempat kalian masing masing dan lakukan tugas kalian dengan benar agar dunia ini masih bisa seimbang jika tidak kiamat tidak akan bisa di pungkiri"
Dewa dewi yang berkumpul di altar itu menunduk hormat dan kembali kepada kesibukan masing masing. Dewa langit kembali duduk di singgasanya, dia menggosok wajahnya pelan dan mendekat kepada istrinya.
"kenapa kehadirannya tidak terasa lagi dewi ku?"
"aku juga tidak tau wahai dewa, sebenarnya apa yang sudah terjadi"
...****...
Malam itu setelah memeriksa ruang meeting Aksa tidak langsung beristirahat. Dia melanjutkan lukisannya yang belum selesai di samping jendela besar kamarnya. Terlihat langit malam yang begitu mendung dan tanpa bintang. Kilatan petir kecil membersamai awan awan menung yang berjalan memenuhi sisi langit yang masih di terangi oleh cahaya bulan.
"huft... Selalu saja mendung" gerutu Aksa
Dia kembali menggerakkan kuasnya pada lukisan yang hampir setengah selesai itu. Namun selang beberapa menit perasaan aneh muncul. Aksa melihat langit yang di tutupi awan mendung tiba tiba cerah. Bintang bintang dan bulan sabit yang menghiasi langit malam itu terlihat indah. Awan mendung yang sebelumnya menutupi langit seakan minggir, setelah sekian purnama Aksa mendengar suara jangkrik di pelataran rumahnya yang cukup luas.
"museun iriya? oneul bameun wae ireohge joyonghae (apa yang sedang terjadi? kenapa malam ini jadi setenang ini)" Aksa membuka jendela kamarnya, dia menghirup udara malam itu seperti sedang menikmatinya
Aksa melanjutkan lukisannya, dia merasa bisa menyelesaikan lukisan sulit yang tengah dia garap malam itu berkat ketenangan yang dia rasakan. Otaknya jadi fresh dan bahkan banyak ide baru muncul membanjiri kepalanya.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama, setelah sepuluh menit berlalu ketenangan yang sebelumnya dia rasakan menghilang begitu saja. Langit kembali bergemuruh, langit malam yang sebelumnya cerah kembali di tutupi awan gelap dengan petir menyambar hebat.
Aksa menyudahi lukisannya malam itu dan menutup jendela kamar besarnya lalu bergegas menuju ranjangnya. Perubahan dalam sekejap itu membuat Aksa bingung namun dia tidak terlalu memikirkannya, (alam kadang berubah begitu cepat itu yang terjadi saat ini) ucap Aksa dalam hati.
****
"Aksaa Aksaaa... Pasti belum bangun" teriak mama Gyuri memanggil anak keduanya namun tidak juga dapat jawaban. Bliau menaiki tangga dan mengetuk pintu kamar Aksa
"nak bangun, mau ikut ke runah saki nggak?"
"ikut mah Aksa baru selesai mandi"
"mama tunggu di bawah ya"
__ADS_1
"oke ma"
Mama Gyuri sibuk menyiapkan sarapan pagi itu dan memasukkan beberapa makanan untuk di bawa kerumah sakit. Mereka akhirnya makan bersama dan pergi ke rumah sakit.
Mereka akhirnya sampai di loby rumah sakit dan segera menuju ruangan tempat Yul di rawat. Aksa adalah yang paling pertama sampai di ruangan karena dia mengkhawatirkan kakaknya. Namun saat dia membuka pintu, Aksa terpaku dan tidak segera memasuki ruangan. Orang tuanya yang tertinggal di belakang sudah sampai menyusul Aksa. Mereka menyuruh Aksa cepat masuk dan tidak menghalangi jalan.
Aksa masuk dengan derap langkah yang dia hentak hentakkan menghampiri lelaki yang tengah memeluk kakanya dalam tidur itu.
"ya ireona, naega gamhi nunareul anabwa o (hey bangun, berani sekali memeluk kakak ku ha)" Aksa memukul mukul Yul hingga dia terbangun
"yayaya apa (hey hey itu sakit)"
"sanggwaneobs-eo, ireona (aku tidak peduli, bangun)"
"gerae geurae miraeui hyeongsu, o geogi eomma appa annyeonghi jumuseyo (ya ya calon adik ipar, oh ada mama dan papa, selamat pagi)"
"jal jasseoyo? oneurui jeormeumui mitgeoreum (apa tidur mu nyenyak? dasar anak muda jaman sekarang)"
Mama Gyuri tersenyum dan meletakkan makanan yang dia bawa lalu membangunkan Gyuri yang bahkan tidak bangun srtelah Aksa membuat keributan.
"Gyuria ireona"
"oh eomma wae yeogiisseo?, na chuunde eomma wae chimdaeeseo ja? naega yeogi eonje wa? (oh mama, kenapa sudah disini?, aku kedinginan ma, tapi kok aku tidur di kasur? kapan aku naik kesini?)
"neo honjaya, geuga chagabge malhaesseo, gerlaeseo nan neol nohajwosseo (kamu sendiri, katanya kedinginan, jadi aku mengizinkan mu naik)"
"jinjja mianhae? Khamsahamnida hehe (maafkan aku, terimakasih ya hehehe)
Papa Gyuri hanya diam, ekspresi yang dia keluarkan sama seperti Aksa, namun tidak sedetail Aksa, bliau hanya diam dan menyilangksn tangannya. Melihat anaknya sudah tumbuh dewasa dan sudah tau cara mencintai orang lain.
__ADS_1