MELANJUTKAN CINTA YANG TERTUNDA

MELANJUTKAN CINTA YANG TERTUNDA
TIDAK PANTAS


__ADS_3

Di dalam cafe terlalu ramai semua pegawai sibuk melayani tamu, Eka juga sampe kewalahan keluar masuk pintu samping yang terhubung dengan gudang juga parkiran, saat meletakan krat minuman mata nya melihat ke arah parkiran dan melihat Rafina.


Eka sempat melempar senyum pada Nengsih, membuat Nengsih merasa malu hingga menundukan kepala melihat ke bawah, " Ahh Aku jadi malu kenapa belum pergi juga dari sini padahal anak ini sudah begitu baik memberikan ku dua potong kue enak " batin Nengsih menatap ujung jari kaki, miris kaki hanya beralas sandal jepit itu pun udah tersambung sambung dengan tali.


" Sayang sebaik nya kita masuk aja!?, gak baik kamu lama lama di luar mana mau hujan " ucap Alex menengadah menatap langit yang pekat, " Iya Kak masuk yuk? " ajak Eka yang di balas gelengan kepala Rafina, Eka juga sambil mengamati Nengsih dengan dahi berkerut.


Nengsih mengangkat kepala menatap Alex dada nya merasa sesak saat mendengar sebutan sayang yang di ucap kan Alex untuk Rafina, rasa sedih yang menggumpal juga bahagia begitu saja membuncah dalam dada nya, tampa sadar setetes air mata lolos begitu saja, di dalam hati Nengsih melafaz doa singkat untuk kebahagiaan Rafina.


Nengsih mengira kalau Alex suami Rafina, sebagai seorang Ibu harapan terbaik untuk kebahagiaan sang Putri, walau tidak terucap tapi dari sorot mata kuyu Nengsih dapat terlihat jelas.


" Ibuk kok belum pulang tadi kata nya mau pulang? " tanya Eka pada Nengsih, " ehh... hihihi i..yah.. I..Ibuk ma..ma.. mau pulang " jawab Nengsih terbata tersadar dari alam fikir nya sendiri dan Nengsih ingin segera pergi, rasa malu menyelimuti diri Nengsih begitu saja.


" Ohh.. Ibuk udah dari tadi di sini? "... tanya Rafina kembali meraih tangan Nengsih hingga tidak jadi melangkah, sementara Eka menatap Nengsih dan Rafina secara bergantian dengan segala pertanyaan , " Buk boleh peluk Ibuk? " Rafina menengadah dengan wajah penuh harap.

__ADS_1


Sekilas Nengsih menatap wajah Putri nya, Nengsih dapat melihat kerinduan yang begitu dalam dari sorot mata Rafina, bentuk mata Rafina persis sama mirip dengan ayah biologis nya, sebelah hati Nengsih merasa iba juga karena tidak menyangka kalau putri nya masih hidup, tapi sebelah nya lagi begitu ber api api dendam karena Rafina punya kemiripan dengan lelaki yang sudah mengecewakan dan juga menghancur kan hidup nya.


" Ibuk boleh ya? " pinta Rafina lagi sambil menggoyang goyang tangan Nengsih layak nya anak kecil, " ahh..iya Nak " jawab Nengsih kaku, sedari Rafina terlahir baru kali ini Nengsih mendengar permintaan Rafina yang ingin memeluk nya.


Rafina menarik pinggang Nengsih agar lebih mendekat, " Rafina kangen Buk " ucap Rafina sambil melingkar kan kedua tangan di pinggang Nengsih, jantung nya berdetak lebih cepat rasa bahagia begitu membuncah hingga memompa jantung nya lebih cepat.


sedang Nengsih seperti terpaku dada nya berdebar debar suasana begitu mengharu biru, putri nya baru pertama kali memeluk nya, pelukan Rafina begitu hangat. Nengsih tidak dapat menyembunyi kan lagi rasa haru hingga mengusap kepala Rafina berulang kali, Nengsih memejam kan mata sejenak untuk merasakan kehangatan yang menjalari sanu bari nya, kenangan kekejaman yang Ia lakukan untuk Rafina waktu dulu terus tergambar di pelupuk mata sehingga rasa bersalah semakin mendera jiwa nya.


" Maaf kan Ibuk Nak " gumam Nengsih nyaris tidak terdengar, Nengsih sedikit menunduk untuk mencium puncak kepala Rafina itu pun sambil menyusut air mata yang mengalir ke pipi, sementara Eka dan Alex saling bengong dengan fikiran mereka masing masing larut dengan pemandangan haru di depan mereka.


Rafina semakin kuat memeluk pinggang Nengsih, " Tidak Buk...Ibuk jangan pergi, Fina cuma punya Ibuk " ucap Rafina dengan suara bergetar menahan tangis, kaki Nengsih mendadak lemas seperti terpaku suasana yang benar benar buat seorang Nengsih tidak bisa berkutik, saat ini Nengsih tidak dapat menjabar kan dengan kata, bahagia rasa bersalah bercampur jadi satu.


Huuuu....Tangis Nengsih pecah, " maaf kan ibuk " ucap Ningsih tidak kuasa beranjak rasa bersalah yang seakan menggerogoti seluruh hati nya, Nengsih membalas pelukan Rafina sungguh kali hati seorang Nengsih lemah.

__ADS_1


"Duaaaarr... duaaaar... duaarr... " tiga kali petir di angkasa seakan jadi saksi atas apa yang sedang terjadi, Alex yang hanya berjarak beberapa langkah menghampiri Rafina dan Nengsih, " Ibuk... sayang yuk masuk yuk udah mau hujan nih " ucap Alex tepat berdiri di samping Rafina dan Nengsih.


Rafina dan Nengsih seakan tuli tidak mendengar ucapan Alex mereka masih terus saling berpelukan sambil meratap, Alex meraup muka hanya bisa diam ketika Rafina dan Nengsih sama sekali tidak merespon ucapan nya.


Rintik hujan pun mulai turun seakan langit ikut menangis, kilat menyambar nyambar di langit, Nengsih melepas pelukan Putri nya, " masuk Fin nanti kamu sakit nak " ucap Ningsih penuh kelembutan.


Ucapan Nengsih bagai air es yang menyejukan hati rasa hangat menjalar di sanubari Rafina, Sebutan Nak baru keluar pertama kali setelah bertahun tahun lama nya dan kata itu yang memang paling Rafina rindukan sejak dulu, " Ibu ikut masuk ya? " pinta Rafina memelas Ia begitu ingin di manja.


" Iya Ibu ikut kok" jawab Nengsih yang juga tidak punya pilihan lain karena hanya Rafina yang Ia punya saat ini, sesaat mata Nengsih terpejam sambil menengadah merasakan tetesan hujan yang langsung jatuh menerpa wajah, " Buk maaf kan Nengsih ya? " batin Nengsih karena siluet wajah Nenek Yati melintas begitu saja saat Ia baru memejam kan mata.


Rintik hujan semakin rapat tidak ingin Rafina kehujanan Alex mendorong kursi roda Rafina, sementara Nengsih masih berdiri, Alex sempat melirik Nengsih saat melewati, Nengsih sendiri masih merasakan terpaan air hujan jatuh.


" Ibuk masuk yuk " ajak Eka setelah Alex mendorong kursi roda Rafina , " Ahh.. iya Nak " jawab Nengsih tersadar, Nengsih melangkah memasuki areal dalam cafe lalu berhenti, pandangan nya menyapu setiap sudut memang tidak semua pengunjung cafe melihat kehadiran mereka hanya beberapa menatap intens, Nengsih enggan lanjut apa lagi dengan penampilan lusuh dan dekil saat ini.

__ADS_1


Nengsih merasa sangat tidak pantas, " Ibuk hayo kenapa berhenti? " tanya Eka yang ikutan berhenti saat Nengsih berhenti melangkah, " Ibu tidak pantas kamu aja masuk " ucap Nengsih.


__ADS_2