
Mama Nisa tidak sanggup berkata apa apa lagi, melihat perjuangan cinta Putra nya yang begitu besar. bener kata Alex sebagai orang tua tentu nya Mama Nisa ingin melihat anak nya bahagia, yang harus Mama Nisa lalukan hanya lah berdoa dan memberi suport atau nasihat.
Terdengar Azan, " Bang solat jama'ah yuk?, Abang jadi imam ya " ucap Mama Nisa lalu turun dari atas tempat tidur, begitu juga Alex Mereka melaksana kan solat isya dengan begitu khusuk.
Di tempat lain terlihat sepasang anak manusia yang tidak muda lagi sedang duduk menikmati indah nya lampu lampu kota, kerab kali kedua nya saling menoleh dan lempar senyum.
" Neng mau kan ikut bersama Ku, Kita buka lembaran baru!? " tanya Ronal di sela sela kebisuan mereka , sesaat Nengsih menatap pria yang pernah menikahi nya, " apa keluarga Mas mau terima Aku!? " jawab Nengsih tertunduk bagaimana pun dulu keluarga Ronal sangat menentang dan Ronal sendiri sudah tega menyianyia kan kepercayaan nya dan juga meninggal kan nya begitu saja.
" Hmmm... tidak ada alasan mereka untuk menolak pilihan Ku, " ucap Ronal pasti sambil membuka kancing kemeja atas dada nya mendadak terasa panas.
" Aku tau Neng Aku sudah salah besar meninggal kan Mu dan Anak kita, tapi perlu Kamu ketahui Aku tuh sakit waktu harus berpisah dengan kalian. Aku terpaksa Neng huk.. huk.. huk..." Ronal berhenti bicara karena terus batuk.
" Rasain tuh akibat udah jadi suami gak becus" batin Ningsih, mendengar batu Ronal terus terusan Nengsih gak sampe hati menyerah kan sebotol air mineral, " ini minum dulu Mas " ucap Ningsih menyerah kan sebotol air mineral ke tangan Ronal, Ronal tersenyum di tengah batuk batuk ada terselip rasa bahagia karena Nengsih masih care dan perhatian kecil ini sangat bermakna bagi Ronal.
Ronal membuka tutup botol lalu meminum setengah isi botol, " Terima kasih Neng " ucap Ronal terasa batuk nya mulai reda, Ronal meletakan botol di tengah tengah diantara mereka, Nengsih hanya mengangguk tampa ekpresi kemudian suasana kembali bisu sejenak.
__ADS_1
" Mas apa dulu setelah Kamu ninggalin Aku, apa Kamu ada menikah dengan orang lain? " tanya Ningsih dingin, pertanyaan itu begitu saja muncul di kepala, Ronal menoleh melihat wajah Nengsih dari samping.
"Aku minta maaf ya Neng, " ucap Ronal, " jadi Mas ketika dulu kamu ninggalin Aku apa karena orang tua Mas menjodoh kan Mas dengan orang lain? " tembak Nengsih sedikit gerah tiba tiba rasa cemburu itu hadir karena jawaban Ronal minta maaf.
" Sumpah demi apa pun Aku tidak pernah menikah, waktu itu dua pilihan di kasih Papa. pilihan pertama Aku harus keluar negri untuk ngurusin bisnis Papa yang di sana, yang kedua menikah dengan anak teman Papa. jelas Aku milih yang pertama karena cinta Ku hanya untuk kamu Neng" jawab Ronal sendu.
Mata Nengsih meminching hati nya masih ragu untuk menelan bulat bulat penjelasan Ronal, logika bagaimana pun Ronal laki laki normal apa mungkin akan sanggup bertahan selama itu.
" Ahh... gak mungkin lah " batin Nengsih lalu menoleh menatap Ronal, " Kalau memang iya begitu kenapa Kamu tidak bawa kami Mas? "tanya Nengsih masih menatap Ronal.
" Neng Aku udah sempat kepikiran akan bawa kalian, tapi Papa sengaja menambah personil penjagaan Aku sempat melawan Neng tapi ketika Aku berhadapan dengan Mama Aku gak bisa berbuat apa apa, karena Aku gak mau jadi anak durhaka, tapi Aku memilih jadi suami durhaka terhadap istri dan anak ku, Aku sadar Neng sudah berdosa tapi Aku bisa apa, huk.. huk.. , aku gak bisa ngelak Neng Aku sadar sepenuh nya sadar kalau Aku udah salah huk... huk... huk...." Ucap Ronal berhenti karena batuk terus menerus, tapi ada sedikit kelegaan setelah meluap kan gumpalan yang selama ini terpendam di hati.
" Gak.. gak.. tau nih huk... huk... huk.. " jawab Ronal terus batuk, Nengsih mengusap usap punggung Ronal terasa perubahan pada tubuh Ronal yang dulu kekar kini sedikit k urus, karena setau Nengsih, Ronal laki laki yang disiplin menjaga pola makan.
" Ayok Mas kita pulang sekalian kamu beli obat kasian juga Fina " ajak Nengsih beralasan, tidak ingin Ronal bertambah masuk angin. Ronal mengangguk tidak menjawab melain kan ikut Nengsih bangun dan mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Berbeda tempat di cafe Alraf, suasan riuh sangat ramai pengunjung, tapi di satu ruangan aura nya begitu pilu, hanya terdengar isak tangis yang tidak kunjung reda dari sore tadi.
Eka duduk di sudut ruangan dengan bibir terkatub rapat, sudah kehabisan kata kata dan kehabisan akal untuk membujuk Rafina, sesekali eka juga menyeka mata nya karena kesedihan Rafina, Eka juga ikutan terhanyut.
Dalam diam Eka mengetik pesan untuk Alex berikut foto Rafina yang sedang menangis, tidak sampe semenit pesan balasan sudah di terima Eka, " Ya sebentar Ka Saya kesana " isi balasan Alex.
Eka kembali menyimpan ponsel ke saku lega karena Alex bersedia datang dengan begitu Eka bisa keluar membantu yang lain.
Tidak lama Alex sudah tiba di parkiran, begitu juga Nengsih dan Ronal, " Halo Om, baru nyampe jugak " sapa Alex ramah karena mereka sama sama baru keluar dari mobil, kebetulan mobil mereka berdampingan parkir.
" Ya ini baru sampek hukk... hukk... " jawab Ronal sambil terbatuk, " Mas Aku duluan ya? " pamit Ningsih ingin masuk duluan, " Om sakit kah? " tanya Alex setelah Nengsih meninggal kan mereka Alex juga khawatir karena wajah Ronal terlihat pucat, "hukkk... hukk... " Ronal menggeleng tidak menjawab karena batuk nya semakin menjadi jadi.
" Yaudah kita masuk dulu yuk Om " ajak Alex sambil mengetik sesuatu di layar ponsel pintar milik nya, " Yah... " jawab Ronal mereka jalan bersisian.
Sampai di dalam mereka di sambut Eka, " Om, Kak keruangan Kak Rafina aja. Ibuk juga ada di dalam mari Eka antar " Eka berbalik untuk mengantar Alex dan Ronal keruangan Rafina.
__ADS_1
Alex dan Ronal masuk, kedua nya sama sama terdiam karena melihat Nengsih sedang memeluk Rafina, Alex mengamati wajah Rafina yang terlihat sembab dan bengkak pada mata.
pintu kembali terbuka, " Maaf Kak Alex ada orang tuh di depan nyariin Kakak, kayak nya dokter " ucap Eka lalu kembali keluar yang di ikuti Alex dari belakang, sampai di luar seorang dokter sudah menunggu Alex karena tadi Alex sempat meminta nya datang.