
Eka terdiam sambil melihat Ningsih dari atas kepala hingga bawah, " cantik sih tapi sayang kotor" batin Eka paham maksud Nengsih, Eka melihat penampilan Nengsih walau belum tau cerita sebenar nya tentang Ningsih, tapi dari panggilan Rafina tadi Eka mengambil kesimpulan kalau Nengsih adalah Ibu kandung kakak angkat plus bos tempat Ia bekerja yaitu Rafina.
" Ibuk ayo Buk gak usah sungkan masuk saja Kak Fina pasti marah kalau Ibuk pergi " tutur Eka mencoba membujuk Nengsih agar tetap masuk, Nengsih diam hati nya menolak untuk melangkah masuk, otak nya berkerja mencari alasan tepat agar bisa pergi sesekali mata melirik sekeliling sah saat Ia jadi tontonan beberapa pengunjung.
Rasa semakin malu memenuhi dada Nengsih, Ia menatap kebawah rok yang kumal serta sendal jepit yang sudah tersambung sambung tali sungguh bukan tampilan yang pantas untuk masuk ke cafe yang bersih apa lagi semua pelangan cafe nampak banyak anak anak muda yang modis, " Pantas mereka melihat Ku seperti itu " batin Nengsih tidak suka dengan tatapan beberapa pengunjung.
" Ahh ini bukan tempat ku, aku harus pergi Aku gak mau mempermalukan diri ku sendiri, tapi bagaimana dengan Fina, kenapa Ia duduk di kursi roda apa yang terjadi aduh bagaimana ini " monolok Nengsih jadi serba salah ada rasa tidak tega kalau pergi begitu saja.
Melihat lagi sekeliling tapi kali ini Nengsih membuang rasa malu, Nengsih melihat Beberapa pemuda pemudi sedang berbisik bisik sambil melihat ke arah nya bahkan ada yang sampai nunjuk nujuk Nengsih segala, biar gak dengar apa yang mereka bicara kan tapi Nengsih merasa kalau Dirinya lah yang jadi topik pembicaraan mereka " pasti mereka sedang omongin Aku , Ya Allah kenapa sih harus bertemu " batin Nengsih menyesali.
" Ayo Buk kita langsung aja keruangan kak Fina" ucap Eka menyadar kan Nengsih dari lamunan, " tolong permisiin Ibuk sama Rafina ya, kapan kapan dah Ibuk kesini lagi " jawab Nengsih tetap bertekat untuk pergi.
Nengsih berbalik ingin kabur pergi untuk meninggal kan cafe tampa permisi dengan Rafina, Nengsih benar benar merasa salah tempat kalau tetap masuk, tapi baru aja dua langkah.
__ADS_1
" Ibukkk...mau kemana!? " tegur Eka terdengar cukup keras seperti membelah bising suara pengunjung juga hujan yang begitu deras.
Nengsih berhenti tubuh nya membeku pandangan nya tertuju pada lantai basah, otak nya ikutan beku tidak tau harus berbuat apa satu sisi ingin berada dekat dengan putri nya karena hanya Rafina satu satu yang Ia punya.
" Ibuk... mau kemana? " ulang Eka berdiri di samping Nengsih sambil memegang pergelangan tangan Nengsih, sesuai permintaan Alex mendorong lagi kursi roda Rafina untuk menyusul Nengsih, saat ini ada beberapa pengunjung cafe menatap nya dengan tatapan tidak biasa bahkan ada yang berbisik bisik Rafina tidak perduli karena yang terpenting sekarang cuma Nengsih Ibu nya.
Nengsih melihat Eka, " biar kan ibuk pergi ya nak, Ibuk gak pantas ada di sini " ucap Nengsih agar Eka tidak menahan langkah nya, " jangan Buk masih hujan deras" Eka berusaha menahan karena lihat Rafina sedang menuju ketempat mereka sekarang.
Nengsih menoleh kebelakang melihat Rafina yang sedang di dorong Alex, Nengsih semakin dilema Seketika Nengsih merasa mentok kepala nya pusing pergi sudah tidak mungkin tinggal juga tidak pantas, pandangan mata nya menggelap tiba tiba, Ningsih merasa tulang belulang nya lemas Nengsih jatuh langsung tampa sempat Eka menopang tubuh nya, di atas lantai basah cafe yang terkena tempiasan air hujan Ningsih tergeletak dengan posisi miring.
Tampa sepatah kata Alex langsung berjongkok mengangkat Nengsih, dengan panik Alex membopong Nengsih keluar dari cafe, Alex tidak perduli membawa Nengsih ke mobil nya. Alex memacu kendaraan nya membelah hujan yang lebat rumah sakit terdekat tujuan nya.
Sesekali Alex melirik Nengsih yang duduk bersandar tampa sadar kan diri, ".Apa benar ini Ibuk nya Rafina " batin Alex kembali fokus dengan jalanan, sebenar nya Alex belum yakin seratus persen kalau Nengsih beneran orang tua kandung Rafina, Alex menepis fikiran Itu " keselamatan orang lain itu lebih penting " gumam Alex kembali fokus.
__ADS_1
Beberapa menit Alex sudah sampai di rumah sakit, petugas yang sudah siap siaga langsung menyambut saat Mobil Alex sudah sampai di depan pintu masuk Rumah sakit.
Ningsih langsung di tangani pihak rumah sakit, dua orang perawat di bayar Alex untuk membersihkan Nengsih sebelum Dokter memeriksa Nengsih.
Sementara Nengsih masih belum sadar kan diri, Nengsih masuk ke alam mimpi seolah sedang bepergian jauh ketempat yang tidak Ia kenali sama sekali, di ruangan yang serba putih Nengsih sendirian, ingin sekali bertanya sekarang Ia berada di mana tapi tidak ada nampak siapa pun yang ada di situ.
Nengsih menatap dan mengamati tempat nya saat ini, dinding yang semula di kira nya beton kokoh ternyata hanya gumpalan asap yang tebal menyerupai dinding, Tempat apa ini? " batin Nengsih mencoba bangkit tapi tidak bisa seluruh persendian nya seakan mati rasa, " Ya Allah, apa Aku sudah mati " batin Nengsih menatap sekeliling sekali lagi " Ndok Anak mu iku yo mbok jogo " tiba tiba terdengar suara yang mirip suara mendiang nenek Yati sangat familiar.
Nengsih melihat kiri kanan berusaha mencari dari mana asal suara tadi, " Bune tah? " tanya Nengsih berusa bangun untuk duduk tapi tetap tidak bisa, tiba tiba aja suasana seakan berubah mencekam Nengsih ketakutan melihat lagi ke kiri dan kanan sambil waspada.
Di sisi sebelah kanan asap putih yang menyerupai diding memudar secara perlahan samar Nengsih melihat Nenek Yati sedang duduk, ingin rasa nya Nengsih bangkit untuk memeluk dan meminta maaf pada Nenek Yati tapi Dirinya seakan tidak bertulang.
Nengsih merasa dada nya sesak saat melihat Nenek Yati tersenyum, " Bune maafin Nengsih yo " ucap Nengsih sesegukan, semua kelakuan buruk nya dulu kembali teringat begitu saja.
__ADS_1
" Sudah Ndok koe pulang jogo anak Mu " ucap Nenek Yati mendekati Nengsih, usapan dingin nan lembut dapat di rasakan oleh Nengsih di atas kepala nya, " Aku melu Bune " pinta Nengsih dengan air mata bercucuran, " ojo koe bali jogo anak mu" pesan Nenek Yati lalu menghilang dari pandangan.
''Bune... hik.. hik.. Bune Aku melu...melu.. " tangis Nengsih pecah, apa yang pernah Ia lakukan kan dulu masih lekat di ingatan nya bagai potongan puzel dan Nengsih menyesali semua yang telah Ia lakukan.