
Setelah dapat ijin dari Ziska, Elen ikut naik ke mobil Papa nya Alex, Elen duduk di belakang sedang Pak Ustad duduk di depan berseblahan dengan Papa Alex yang duduk di balik kemudi.
Dari balik tirai jendela Ziska melihat kepergian mobil yang membawa Elen, Ziska hanya bisa berharap tentang cinta Ellen yang selama ini di pendam, akan terus berbesar hati seperti Ia lakukan selama ini, " hufff... " Ziska membuang nafas kasar tidak sanggup membayang kan kalau Ellen terluka dengan perasaan nya sendiri Ziska kembali menutup tirai.
Lumayan panjang perjalanan ahir nya mereka sampai di Mansion, Ellen langsung turun begitu sampai. " Ayo Pak Ustad sudah sampai " ucap Papa Alex sambil senyum dibalas anggukan oleh Pak Ustad.
Ellen ngeloyor masuk langsung menemui Mama Nisa di kamar Alex, Ellen sudah tidak sungkan lagi karena Mama Nisa sudah mengatakan kalau Ellen putri kedua nya setelah Rafina.
Walau sempat gerah karena lagi lagi Rafina terdepan, tapi Ellen tetap harus berbesar hati karena baik Alex atau Mama Nisa terlebih dulu kenal Rafina ketimbang Diri nya.
Mama Nisa turun setelah di kabari Ellen dan sang Suami sempat menelphone kalau Ia sudah ada di bawah bersama seorang Ustad, " Mari silah kan masuk Pak " ucap Mama Nisa mempersilahkan dengan ramah.
Mama Nisa mengatup kan kedua tangan di dada sebagai tanda salam sebagai perempuan muslimah tentu Mama Nisa tidak akan mau bersalaman atau berjabat tangan dengan yang bukan mohrom.
Pak Ustad tersenyum lalu sedikit membungkuk, saat menyambut sapaan Mama Nisa, " Ayo mari Pak " ajak Papa Alex melewati Mama Nisa, Ustad Rajab mengikuti sepasang suami istri itu dari belakang.
" Mari silah kan duduk Tad " ucap Papa Alex, "sebaik nya saya ketemu dulu dengan putra Bapak " pinta Pak Ustad tidak ingin mengulur waktu.
" Mari Tad kamar anak saya ada di atas " ucap Papa Alex mengajak Pak Ustad Rajab naik ke lantai dua, sedang Mama Nisa langsung kedapur setelah masuk tadi untuk menyiap kan beberapa hidangan penyambutan Pak Ustad yang tentu belum sempat makan gara gara dijemput Suami nya.
__ADS_1
Papa Alex masuk ke kamar bersama Pak Ustad, nampak Alex sedang tidur pulas karena suara dengkur halus nya terdengar. " ini putra Bapak? " tunjuk Pak Ustad ke arah Alex yang kini berbaring dengan mata tertutup, " iya Pak Ustad " jawab Papa Alex berubah muka muram.
Tampa berucap apa apa lagi Pak Ustad menatap wajah Alex secara batin, secara batin pula Pak Ustad melihat luka yang begitu dalam pada Diri Alex.
Pak Ustad duduk di pinggir ranjang dan meraih telapak tangan Alex, beberapa doa di ucap samar oleh Pak Ustad.
Papa Alex hanya memperhatikan saja interaksi Pak Ustad pada putra nya, lebih baik menunggu dari pada mengganggu fikir hati Papa Alex lalu duduk di ujung bawak kaki Alex.
" Permisi " Ellen tiba tiba muncul dengan napan di tangan, Pak Ustad menoleh gara gara Ellen konsentrasi Pak Ustad buyar seketika. " letakan di meja itu saja " ucap Papa Alex ingin Ellen segera keluar agar tidak mengganggu aktifitas Pak Ustad.
Ellen hanya menunduk entah kenapa aura kamar Alex seperti seram menakut kan. Ellen meneguk ludah yang terasa lengket di dinding kerongkongan sambil melangkah ke meja yang ada di kamar Alex.
Setelah meletakan napan di atas meja tampa sepatah kata Ellen berbalik dan pergi dari kamar Alex ," kok udah turun? " tanya Mama Nisa lihat Ellen sudah kembali ke bawah.
" Oh yaudah kalau gitu, Kamu bantu susunin piring di meja saja" jawab Mama Nisa lalu meraih sutil pengorengan.
Selesai menata hasil masakan di atas meja Papa Alex dan Pak Ustad pun turun, sambil berbincang bincang mengenai Alex, " bagaimana kalau anak bapak sementara bawa aja ke pasantren saya? " usul Pak Ustad pada Papa Alex.
" Apa menurut Ustad itu yang terbaik? " Papa Alex balik nanya. Pak Ustad tersenyum " enggak ada yang gak mungkin dengan ijin Allah gak ada salah nya juga kita coba" jawab Pak Ustad di balas anggukan Papa Alex.
__ADS_1
" Yaudah Pah ajak Pak Ustad makan dulu " ucap Mama Nisa menghampiri suami nya menghentikan percakapan Pak Ustad dan Suami nya.
" Waduh gak usah repot repot Bu " timpal Pak Ustad merasa sungkan, " udah Tad ayo gak usah pake gak enak " Papa Alex mengajak Pak Ustad karena Ia juga sudah lapar masakan sang istri memang selalu menggugah selera.
Ellen yang sempat nguping pembicaraan Pak Ustad dan Papa Alex, tampa setau Mama Nisa pergi keatas untuk melihat ke adaan Alex.secara perlahan Ellen memutar handle pintu agar tidak membangun kan Alex.
" Deg.... Deg... " jantung Ellen berirama setelah membuka pintu ternyata Alex sedang duduk di pinggir tempat tidur, " Udah bangun Lex? " sapa Ellen takut dan menjaga jarak takut kalau kalau Alex ngamuk.
" Ya " jawab Alex tampa melihat , suasana hening Ellen memperhatikan Alex dengan dada berdegup karena Alex terlihat normal, " Apa Dia udah sadar " batin Ellen berdiri di muka pintu tidak berani mendekat iya kalau beneran Alex udah sadar kalau belum bisa celaka karena Alex akan melempar dengan apa saja.
Biar pun belum pernah kena amukan Alex tapi Ellen tetap takut apa lagi saat Mama Nisa nunjukin beberapa luka akibat cakaran Alex.
" ngapain Kamu di sini!?" ucap Alex masih dengan tertunduk dan membuyar kan lamunan Ellen, " Apa kamu gak sadar kalau beberapa hari ini Aku selalu berada di rumah kamu " jawab Ellen apa adanya.
Alex mengangkat kepala nya, selintas kenangan mereka sekolah melintas dan itu membuat mata Alex kembali basah, " Dia sudah pergi Len " ucap Alex kembali tertunduk dalam dan Ellen paham siapa yang di maksud Alex.
" Ya sudahlah Lex iklas kan biar Fina tenang Aku siap kok jadi temen curhat kamu " jawab Ellen menatap langit kamar ucapan itu ngeluncur gitu aja entah berharap atau apa Ellen juga gak ngerti dengan dirinya sendiri.
Ellen coba mendekat setelah cukup mengumpulkan kan keberanian, " Buka lembaran baru Kamu gak bisa selama nya begini Lex " ucap Ellen mencoba memberi kekuatan dan meraih tangan Alex.
__ADS_1
" Plak... jangan sentuh " Alex menepis kasar tangan Ellen, " Buka lembaran baru Kamu bilang, biar pun kamu menjajakan dirimu seperti pelacur belum tentu Aku mau buka lembaran baru dengan kamu " tambah Alex berapi api.
Ellen terhenyak dengan ucapan pedas Alex, kata kata Alex bagai pedang menebas setengah hati nya.