
dua jam setelah nya Ningsih siuman, berulang kali Nengsih mengerjab kan mata untuk lebih memperjelas pandangan, ruangan serba putih bau obat obatan sungguh membuat perut Nengsih tidak nyaman dan Nengsih merasa mual.
" Oh Ibuk sudah siuman " tanya suster cantik yang kebetulan baru masuk untuk memeriksa keadaan Nengsih, suster cantik itu tersenyum ramah" dimana saya sekarang? " tanya Nengsih, suster menaikan alis sebelah mendengar pertanyaan Nengsih, " Apa Ibuk ini lupa ya, oh iya tadi waktu di bawa pak Alex ibuk ini pingsan" batin suster " Ibu di rumah sakit sedang di rawat " jawab suster sambil memeriksa infus.
Nengsih diam setelah mendengar jawaban suster mencoba mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi hingga Ia bisa berbaring di dalam ruangan rawat inap rumah sakit , rangkaian kejadian awal bertemu Rafina juga kembali teringat ucapan Nenek Yati, " ya Allah apa yang harus aku lakukan " batin Nengsih sambil menengadah menatap langit langit ruang inap rumah sakit sambil mengingat semua perjalanan hidup setelah kelahiran Rafina.
Sementara di cafe Rafina terus memikir kan keadaan Nengsih Rafina menangis hati nya tidak tenang ingin tau bagaimana keadaan Nengsih, Rafina beberapa kali mencoba menelpon Alex untuk menanyakan keadaan Nengsih, Eka hanya bisa duduk setelah lumayan kewalahan menghibur Rafina.
" Kak yang sabar ya?, Ibuk pasti baik baik saja" ucap Eka kembali menenang kan Rafina yang terus terusan berdecak kesal karena Alex tidak mengangkat panggilan nya, ponsel di genggaman berdering dengan segera Rafina menggeser tombol hijau untuk menerima.
" Hik... hik.. Wa'alaikum salam gimana Ibuk? " tanya Rafina tudupoin begitu sambungan telepon tersambung dan Alex baru mengucap kan salam, " Ibu di rawat sayang sudah jangan nangis Ibuk gak kenapa- kenapa kok " jawab Alex di seberang hati nya tercubit saat mendengar suara tangis Rafina.
" hu....tolong jemput Aku " pinta Rafina terdengar sangat sedih dan memelas, " yaudah Kamu siap-siap sebentar Aku jemput ya? " jawab Alex gak sampe hati mengerti perasaan Rafina, mungkin kalau Ia di posisi Rafina pasti akan panik juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Setelah sambungan telophone terputus, Alex langsung pergi ke ruangan Nengsih di rawat, " Ehh maaf bapak keluarga pasien? " tanya suster yang kebetulan membuka pintu saat tangan Alex baru ingin menggapai handle pintu, Alex sempat terperanjat kaget karena serba tiba-tiba.
Suster cantik menatap Alex tampa berkedip, ketampanan Alex benar-benar membuat nya terhipnotis dengan maha karya ciptaan Tuhan, " tampan sekali..." pekik suster dalam hati tidak di sangka bisa melihat Alex secara langsung, " Ya saya keluarga nya! " jawab Alex singkat mematah kan imajinasi suster hingga tersadar dengan warna pipi merona malu, "oh..ya.. hehehe.. yaudah silah kan masuk pak " jawab suster sedikit salting menyingkir sambil tertawa menunjukan deretan gigi putih rapi.
Alex menatap begitu dingin tampa basa basi lagi langsung masuk setelah suster menyingkir, baginya sudah biasa menghadapi tatapan kagum dari lawan jenis, suster masih terkagum dengan ketampanan Alex, detak jantung berlarian " uhh...tampan sekali " suster merba dada nya sambil menatap punggung Alex hingga hilang di balik pintu.
" sambong sih, tapi biasa lah orang kaya cakep memang suka gitu sifat nya rada angkuh " batin suster berlalu meninggal kan ruangan Nengsih.
" Ibuk sudah siuman? " tanya Alex mendekati ranjang Nengsih, " ya sudah Nak " jawab Ningsih singkat merasa gugup dan sungkan karena Nengsih berfikir kalau Alex adalah menantu nya.
" Ya jangan Buk, Ibuk harus disini dulu minimal dua hari agar Ibuk bener bener sehat" Alex menahan Nengsih agar tetap di rawat, " tapi nak ini pasti mahal " ucap Nengsih beralasan seolah tak enak hati kalau menantu nya harus keluar uang buat bayar biaya rawat.
" Enggak kok Buk, tenang aja Ibuk istirahat Saya mau jemput Fina " ucap Alex lalu beranjak pergi, membuat Nengsih diam tidak sempat memikirkan alasan berikut nya, Alex pergi keruangan khusus suster jaga untuk meminta tolong agar salah satu suster menemani Nengsih tapi baru sampai di depan pintu langkah Alex terhenti di depan pintu tidak sengaja mendengar percakapan suster di dalam.
__ADS_1
" Eh.. lo tau kan anak nya Almarhum Pak Dirham pemilik rumah sakit ini...., Ya Aku udah lihat dia di berita berita bisnis yang lagi trending itu kan?...-- iya bener... tapi sekarang ini dia lagi ada disini ciinn...., hah... yang bener lo?, iya bener ngapain jugak gue bohong malah gue tadi ketemu kok sama orang nya " percakapan dua suster di dengar langsung oleh Alex.
Alex tersenyum tatkala mendengar pujian yang di tujukan untuk nya, " hhmm segitu jadi idola nya gue " batin Alex sambil merogoh saku karena ponsel nya bergetar tertera nama Rafina.
" Ya halo sayang sebentar ya ini lagi mau jalan " ucap Alex, dua suster yang sedang menceritakan tentang Alex langsung berhenti ngegosip mereka mengintip karena suara berat Alex cukup membuat mereka perbincangan di antara kedua nya terputus.
" Nah lo liat kan itu dia gue gak bohong" bisik suster cantik yang tadi sempat bertemu Alex, " Iya ganteng banget aduh gue jadi susah nafas ni cin jantung gue kayak lompat lompat" jawab satu nya lagi, " ssstt...lu jangan kenceng kenceng ngomong nya ntar di dengar nya gimana? " suster cantik kesel dengan teman nya.
" Misi sus.. " sapa Alex berdiri tegak, kedua suster yang merunduk saling tindih terkejut, "aduh ciiinnn.. " mereka sama sama terjerembab ke lantai, " maaf maaf Aku gak sengaja " ucap suster cantik bangun dari atas tubuh suster yang satu nya.
Alex tersenyum dengan adegan di depan mata, "rasain lo bedua jam kerja malah ngobrol mana ngobrolin gue lagi " batin Alex kesal juga merasa geli dengan kedua suster itu, " maaf Pak ada yang bisa kami bantu !?" tanya suster membuang nafas berat sambil tertunduk menahan malu.
" iya tolong jaga pasien di ruangan A satu " jawab Alex datar, " baik Pak saya segera kesana" ibuh suster masih nunduk tidak berani bersitatap dengan Alex, " Yaudah kalau begitu saya pergi'' ucap Alex langsung pergi saja meninggal kan kedua suster
__ADS_1
kedua suster itu masih diam