
Lelah muter muter tidak menemukan, Alex memutus kan untuk pulang, waktu sudah semakin beranjak tengah malam , " ahhhh " desah Alex kesal karena tidak juga menemukan keberadaan Elen.
Setelah melihat mobil yang di kendarai Alex keluar dari parkiran apotik, Elen keluar dari mobil, Elen merasa semakin bodoh kalau teringat pertanyaan Alex kenapa Ia menghindar.
"Perasaan ku memang tidak salah, tapi yang salah hanya keadaan, Ya Tuhan kenapa harus Aku " rintih Elen menangis sejadi jadi nya, tidak menyangka hati nya akan berlabuh pada tempat yang salah.
Prov Elen.
Jauh dahulu saat masih sama sama sekolah, dalam diam Elen sudah menyimpan rasa untuk Alex namun setelah mengetahui hubungan Alex dan Rafina, Elen memilih untuk memendam perasaan nya tidak mau menyakiti persahabatan dengan cara menikung atau jelas merampas.
Elen terlalu menyayangi Rafina bukan hanya sekedar sahabat, Elen tidak mau persahabatan nya hancur hanya karena memperebut kan satu hati yang sudah jelas tidak bisa menerima isi hati nya.
Hari ini Elen duduk di bawah pohon yang ada di halaman sekolah maksud nya mau menunggu Rafina, dari hari kehari Elen merasa dada nya penuh, karena perasaan cinta yang tidak bisa Ia nyatakan.
Lima belas menit lagi Sudah hampir bel Rafina belum juga kelihatan, " Apa Dia gak sekolah ya? " batin Elen sambil mandang jauh keluar pagar dan sial nya Elen harus menyaksikan nampak Rafina jalan bersama Alex.
Hati Elen terbakar, kecemburuan itu seketika mengusai dirinya. " cihh... dasar lo*** " makian itu tampa sadar keluar dari bibir tipis Elen. " Asstafirullah " serunya menutup mulut tersadar kalau sudah mengeluar kan kata makian.
Kesal itu tidak bisa begitu saja hilang, mengingat Rafina dan Alex bergandengan tangan Elen bener bener tidak bisa menerima keadaan itu, hati nya sakit.
Elen duduk di bangku nya, suara riuh murid murid lain tidak bisa mengalih kan amarah di dada Elen. Hati nya begitu marah Elen melihat bangku kosong di sebelah Rasa nya Elen pengen tendang jauh bangku itu biar Rafina gak duduk di dekat nya lagi.
" Dasar gak tau diri anak haram, sama kayak ibuk nya lo*** " Elen memaki maki dalam hati, sedang Elen sibuk menggerutu Rafina masuk, Elen menunduk rasa marah cemburu kesal semua jadi satu.
__ADS_1
Ingin rasa nya Elen mencakar dan menjambak sahabatnya, tapi itu semua hanya dalam hati. " Udah lama sampek Len? " tegur Rafina, " gak baru aja" jawab Elen dingin melihat kearah lain.
Jam pelajaran di mulai Rafina berkonsentrasi pada pelajaran, sedang Elen sibuk menata perasaan nya sesekali Elen melirik Rafina dalam hati Elen terus bertanya salah dan benar tentang rasa yang tumbuh untuk Alex.
Hingga pelajaran usai Elen sama sekali tidak konsentrasi, " Len Aku duluan ya? " ucap Rafina sudah berdiri siap untuk meninggal kan ruang kelas, Elen mengangguk kemudian menatap kedepan pintu kelas Alex sudah berdiri, tentu menunggu Rafina.
Hati Elen semakin kebas seharus nya Alex menunggu dan menjeput Diri nya, huffff... Elen membuang nafas agar mengurangi sesak di dada, dari pada melihat kemesraan mereka Elen lebih milih menekuri lantai agar perasaannya tidak semakin sakit.
Dari waktu pulang sekolah hingga malam fikiran Elen terus tertuju pada Rafina dan Alex " El Kamu udah makan? " tanya ziska kakak Elen yang muncul dari balik pintu.
" Belom kak gak selera" jawab Elen kembali bertompang dagu, Ziska tidak langsung pergi. termenung sang adik membuat nya bertanya tanya ada hal apa yang membuat sang adik murung.
" Kakak masuk ya? " ijin Ziska. Elen hanya mengangguk tampa mau melihat.
Elen menoleh melihat Ziska, " Gak ada kak " jawab Elen lalu kembali menekuri meja.
" Dek lihat Kakak, kalau ada masalah cerita sama kakak " ucap Ziska penuh sayang.
Elen menarik nafas panjang, " Beneran Kak El gak ada masalah apa apa " jawab Elen.
Ziska menelisik wajah Elen dari samping, naluri seorang kakak mengatakan kalau sang adik memang ada masalah, Ziska ingin adik nya berbagi masalah apa pun itu.
" Yaudah lah kalau Kamu gak mau cerita berarti Kakak gak ada arti nya bagi kamu " ucap Ziska kata kata jitu yang selalu Ia gunakan kalau sang adik tidak mau terus terang.
__ADS_1
" Bukan gitu Kak " sambar Elen membuat Ziska terkikik dalam hati seperti biasa Elen akan luluh kalau Ziska sudah mengeluarkan kata kata jitu.
Ziska dengan semangat duduk kembali di samping Elen, sementara Elen binggung harus mulai cerita dari mana.
Melihat sang adik diam seperti orang kebingungan Ziska kembali menatap Elen, " apa ini masalah nya berat ya? " batin Ziska karena Elen seperti kembali termenung.
" Kak apa kalau kita suka sama seseorang kita harus ngungkapi perasaan kita!? " tanya Elen.
Ziska menatap kedalam manik mata sang adik, kata suka yang keluar dari mulut Elen membuat Ziska bertanya tanya dalam hati, " suka apa?, apa mulai suka lawan jenis " batin Ziska.
" Kamu suka sama cowok ya? " tanya Ziska tepat sasaran membuat pipi Elen bersemu merah.
Ziska tersenyum lihat dari rona di wajah sang adik Ziska tau sekarang adik nya mulai dewasa bukan lagi adik kecil yang selalu minta di temani tidur dengan alasan takut tidur sendiri.
Sebagai seorang Kakak Ziska hanya bisa mengingat kan dan memberi nasehat, " Hhmm... Dek. kalau kamu suka dengan punya orang itu gak baik, perasaan atau suka yang di paksakan akan lebih menyakit kan pada ahir nya " ucap Ziska.
Elen mendadak tersedak ludah nya sendiri, " Uhuk... uhuk... " Elen terbatuk mendengar ucapan Ziska, " Kamu kenapa ?" tanya Ziska sambil menepuk nepuk punggung Elen.
" Kak El suka dengan teman sekolah, tapi dia udah deket dengan teman El yang sekelas dan semeja dengan El " ucap Elen meluap setelah batuk batuk nya usai.
Ziska menatap Elen dengan mata melebar, ungakapan Elen barusan berarti sama seperti yang Ia tebak tadi, " Sini.. " Ziska menarik sang adik kedalam pelukan nya.
" Dek dengar ya?, suka sih itu biasa nama nya kita manusia bisa melihat tentu akan tertarik dan suka. tapi kalau suka dengan yang namanya punya orang itu gak boleh apa lagi punya temen sendiri kamu gak mau kan persahabatan hancur hanya karena egois ingin memiliki yang jelas jelas gak mungkin bisa terima kamu, kita gak ada keturunan pelakor dek jangan buat Mama papa menangis di sana " ucap Ziska panjang lebar memberi nasehat, Elen menangis tersedu di dalam pelukan Ziska.
__ADS_1