
Suasan menjadi panik, Mama Nisa bangkit mengajak Ronal menuju garasi lewat pintu samping sebelah ruang tamu, " ini kunci tolong bawa kluar mobil yang hitam itu saja" tunjukMama Nisa menyerah kan kunci mobil ketangan Ronal.
setelah menerima kunci dan Mama Nisa berbalik Ronal masuk, ckk.. ckk... decakan kagum keluar gitu aja, barisan mobil yang tersusun rapi membuat Ronal kagum dengan kegigihan saudara sepupu nya.
" Alfatiha " Ronal melafaz dan mengirim sebait doa untuk almarhum Kakak sepupu nya, lalu menekan tombol pada remot kunci.salah satu mobil berbunyi Ronal tau itu mobil kesayangan Almarhum semasa hidup.
" Harum nya masih sama " lirih Ronal ketika sudah duduk di dalam mobil, sekilas kenangan melintas begitu saja, saat Ronal ingin meminjam mobil baru Kakak sepupu nya.
" Gak bisa. Lo pake mobil lain aja Gue ada janji " langsung gak di kasih Almarhum.
" Kakak aja naik mobil lain ini biar Gue yang bawak " pinta Ronal memelas karena udah janji bakalan naik mobil keluaran terbaru.
" Gak. itu di situ kunci Lo pake mobil lain aja " ucap Almarhum menunjuk deretan kunci yang tergantung lalu pergi masuk kedalam meninggal kan Ronal. Setelah berganti baju almarhum kembali ke garasi mendapati Ronal tengah termenung.
" Yaudah Lo antar Gue dulu, baru bawak ni mobil jangan lupa tepat jam sembilan jemput Gue " ucap Almarhum, ahir nya mereka sama sama pergi untuk menemui tambatan hati, mengingat itu Ronal tersenyum sedih.
Sementara di dalam, Mama Nisa kelabakan Bik Sum gak kunjung sadar capek di tepuk tepuk bahkan udah di oles minyak kayu putih Bik Sum belum juga sadar.
Mama Nisa melirik Nengsih dengan kesal karena Nengsih cuma bengong, " manusai bukan sih kok malah bengong bukan nya bantu " batin Mama Nisa gak ngerti kok Nengsih kayak orang gak punya hati malah cuma berdiri.
__ADS_1
" Tolong dong " ucap Mama Nisa minta Ningsih membantu nya untuk mengangkat Bik Sum, " Oh iya Mbak " jawab Nengsih salah tingkah menggaruk tengkuk nya, " yaudah kita anggkat yuk " ajak Mama Nisa, mereka ingin anggkat Bik Sum sampe keteras karena sudah mendengar suara mobil.
Mama Nisa mengangkat di bagian bahu sedang Ningsih di bagian kaki , heran nya tubuh Bik Sum tidak sedikit pun bergerak seperti kaku, entah mereka yang gak kuat atau tubuh Bik Sum yang memang terlalu gemuk.
" Ya Allah nopo abot tenan to Mbak..!!! teriak Nengsih ngos ngosan kesal, wajah Mama Nisa langsung menjadi pucat pasi, jantung nya seperti lompat di serang takut kalau Bik Sum sudah pindah alam. .
Dengan dada yang terus berdebar Mama Nisa meletakan jari di bawah hidung Bik Sum , ternyata ada hembusan hangat "syukur lah masih bernafas " lirih Mama Nisa kembali duduk di lantai, lega ternyata Bik Sum masih hidup.
" hoooaammm" Bik Sum menguap sambil mengeliat seakan baru bangun dari tidur nyenyak, " Ya Allah sampean ngerjain to Mbak" omel Ningsih tampa sungkan, Ronal yang baru masuk juga mendengus kesal lihat Bik Sum.
" Sopo seng ngerjain, iki beneran koe to Neng sek urep koe? " tanya Bik Sum melihat sekilas lalu nunduk karena takut gak berani melihat muka Nengsih kalau iya beneran nyata kalau memang hantu gimana?.
" ihhh... wedi Aku " Bik Sum bergidik ngeri, Mama Nisa mengernyit kan dahi menyimak sambil menatap Nengsih lekat, " kalau Bik Sum kenal tentu mereka tetanggan, " ohhh iya" timpal Mama Nisa baru teringat kapan pernah bertemu Nengsih, sedang Ronal diam hanya menyaksikan sambil bersedekap.
" Iya Mbak mohon maaf ya soal tempo hari " ucap Nengsih malu sambil mengatup kan kedua belah tangan, tidak menyangka kalau Rafina kemarin ada datang. Mama Nisa mengangguk, masih jelas teringat bagaimana mulut tajam Ningsih dulu.
Kemudian Mama Nisa beralih menatap Ronal dengan tatapan bingung, karena Ronal datang bersama Ningsih " apa mereka ada hubungan!?" batin Mama Nisa, mata Mama Nisa memiching untuk minta penjelasan dari Ronal kenapa Ronal bisa bersama Ningsih.
" Nyah saya kedapur dulu Ya?, " Mama Nisa mengangguk, "maafin Bibik udah bikin Nyonya khawatir tapi ini gara gara si Nengsih ini Bibik fikir Dia itu hantu karena Bibik kira ikut kebakar waktu kebakaran itu " ucap Bik Sum panjang lebar.
__ADS_1
Nengsih melotot, " Sopo seng hantu Mbak, sampean nek ngomong kebangetan wong sik urep kok malah di anggap mati" Nengsih gak segan segan ngomel di depan Ronal dan Mama Nisa.
" Siapa yang kebakar? " celetuk Ronal.
Bik Sum mengangkat kepala nya melihat Ronal " Ya Gusty, iki sopo!? " Bik Sum kaget menatap yang tengah menatap nya minta penjelasan, "ini kan laki laki yang ada di foto " batin Bik Sum, dulu pernah lihat foto Ronal di kamar Nengsih.
"kalau di lihat lihat wajah nya memang mirip dengan Rafina" Bik Sum membatin, Mama Nisa bangun dari lantai lalu mendekati Ronal.
" Rumah Nenek nya Rafina kebakaran, ada dua jenajah yang di temukan salah satu nya di pastikan Nenek nya Rafina, kalau satu nya lagi... " ucapan Mama Nisa terhenti karena memang gak tau siapa satu nya lagi yang ikut terbakar saat kebakaran itu terjadi.
Ronal mengusap kasar wajah nya lalu menatap Ningsih dengan tatapan sedih, ternyata kehidupan Nengsih cukup pahit, pantas lah kalau Nengsih begitu marah dan mengatai nya bajingan.
" Yasudah kita duduk dulu " ajak Mama Nisa, Ronal dan Ningsih duduk bersebrangan dengan Mama Nisa, " Mbak Rafina itu anak Ku" ucap Ronal membuka pembicaraan diantara mereka.
Mama Nisa yang tadi nya mau ambil gelas berisi minuman dingin, terhenyak mendengar ucapan Ronal tidak jadi mengambil munuman nya, ucapan Ronal membuat nya terkejut tidak mampu berkata apa apa.
" Maaf Mbak kalau sudah buat Mbak kaget " timpal Rolan kemudian mengeluar kan satu bungkus rokok dari saku kemeja nya, " Kamu ngerokok sekarang?" tanya Nengsih, " Iya sejak sering begadang " jawab Ronal santai.
" begadang.." Nengsih mengulang bahasa Ronal, " Trus sejak kapan kalian nikah kok sampe almarhum Mas Mu gak pernah cerita malah bilang Kamu menghilang!?" tanya Mama Nisa.
__ADS_1
" Iya Mbak waktu itu kami baru nikah itu pun secara sembunyi sembunyi tau lah Mbak gimana tabiat almarhum Papa Ku, kalau Udah bilang gak ya enggak, Terpaksa keluar dari rumah tampa bawa apa apa " jawab Ronal panjang lebar, sementara Ningsih tertunduk menyadari perpisahan mereka dulu bukan karena Ronal punya perempuan lain.
"