MELANJUTKAN CINTA YANG TERTUNDA

MELANJUTKAN CINTA YANG TERTUNDA
SEWALI


__ADS_3

Setelah apa yang di sampai kan Ronal, suasana sepi mereka bertiga terdiam, Mama Nisa cukup shock dengan apa yang di sampai kan oleh Ronal, tidak menyangka kalau Rafina sebenar nya keponakan dari almarhum suami nya walau ponakan jauh tetap ponakan juga.


Tidak ada lagi percakapan karena mereka sibuk dengan percakapan batin sendiri, Ronal juga tenggelam dalam fikiran nya sampai waktu hampir senja dan sebentar lagi masuk magrib, " Yaudah Mbak Kami pulang dulu? " ucap Ronal bangkit dari duduk di ikuti Nengsih.....


" lah Kamu kemari cuma mau ngomongin itu? Enggak mau ketemu ponakan kamu dulu sebentar lagi dia pulang kok" ....Mama Nisa mencoba menahan Rolan dan Nengsih karena masih banyak yang akan Ia tanyakan.


"besok Kami balik lagi yang terpenting udah lihat Mbak sehat sehat aja udah senang "... ucap Ronal sedikit lapang dada karena atas penjelasan nya tadi Nengsih terlihat anteng tidak ada sekalipun nyolot atau bantah, itu di artikan Ronal kalau Nengsih sudah mengerti dan Mau memaaf kan Diri nya.


" Yaudah hati hati " jawab Mama Nisa, " Pamit ya Mbak " ucap Nengsih kemudian memeluk Mama Nisa " Maaf kan Neng atas kesalahan tempo hari ya Mbak!? " bisik Nengsih, " Ya ndak apa Mbak maklum kok " jawab Mama Nisa kemudian meleray pelukan mereka, Nengsih melangkah di belakang Ronal, Mama Nisa juga ikut mengantar tamu nya sampai di teras.


Menghilang nya mobil Ronal di balik pintu gerbang, Mama Nisa menghubungi Alex putra nya, Mama Nisa sengaja sengaja tidak terima alasan apapun memaksa agar Alex segera pulang.


Alex yang sudah selesai solat melipat sajadah sambil melirik Mama Nisa yang duduk termenung seperti sedang memikir kan sesuatu, " Mah kenapa Mah?, Mama sakit? " tanya Alex menghampiri Mama nya.


" Bukan sakit tapi shock " jawab Mama Nisa, Alex menaikan sebelah alis nya, perkara apa yang bikin Mama Nisa bisa sampai shock.


" Apaan sih Ma? " tanya Alex setelah meletakan sajadah di tempat nya, kemudian duduk di samping Mama Nisa penasaran ingin dengar lebih lanjut cerita apa kok bisa Mama Nisa sampai shock.


" Tadi sore sepupu Papa dateng sama istri nya...." ucap Mama Nisa, Alex mendengus ternyata cuma soal sepupu Almarhum papa nya yang datang tapi Mama malah nyuruh pulang seolah ada perkara penting apa.


" la trus yang bikin Mama shock apa sih?" alex jadi gak ngerti masak sepupu dateng Mama nya bisa shock bukan nya senang ada yang berkunjung memang saudara almarhum banyak sih.


" Ih.. kebiasaan sukak motong bukan nya di denger dulu " cebik Mama Nisa.

__ADS_1


".Iya deh maaf, Mama makin cantik aja sekarang' cup... " Alex mencium pipi Mama Nisa membuat perempuan paruh baya itu mendelik karena kelakuan manja Putra nya.


" Abang sini hadap Mama! " pinta Mama Nisa beringsut naik dan bersandar di dinding.


" Iya " Alex menaikan kedua kaki duduk bersila agar bisa menghadap Mama Nisa.


Mama Nisa mengulum senyum lihat kelakuan Putra nya, gak tau apa kah putra nya akan senang setelah tau atau malah sebalik nya, " Tadi Ibuk nya si Rafina dateng bersama suami nya" ucap Mama Nisa.


"Degg..


" Deg..


" jantung Alex berdenyut lebih kencang, paham suami yang Mama Nisa maksud pasti laki laki yang tadi Ia temui di cafe.


Dada Alex semakin berdegup, " pantas mirip Papa, apa Aku sudah salah menyukai saudara Ku. Aduh bagaimana ini, kalau Papa Rafina dan Papa ku sewali mana bisa Aku melanjut kan hubungan ini !?" batin Alex merasa hati sedih dan mendadak kosong.


Ciuman panas tadi pagi begitu saja terbayang, Alex merasa hati nya seperti di pecut, " Ya Allah apakah rasa ini salah " batin Alex merasa sakit kenapa baru sekarang baru tau kalau Rafina saudara cobak dari dulu tentu akan mengatur hati untuk tidak mencintai begitu dalam.


" Rafin Itu anak dari sepupu jauh papa kamu nama nya Om Ronal " ucap Mama Nisa, menatap Putra nya diam Mama Nisa jadi dilema memang tidak tau apa yang ada di fikiran Alex sekarang hingga Mama Nisa juga ikutan diam.


" Ma apa Papa nya Rafina dan Papa Abang apa sewali? " pertanyaan itu begitu saja keluar dari mulut Alex, karena sedikit banyak paham tentang agama Alex tidak ingin buat kesalahan itu semakin dalam.


" Ya gak Sayang " almarhum Neny kamu itu adik beradik dengan momi nya Om Ronal," (sebutan Neny untuk oma atau nenek dari Alex) , jelas Mama Nisa membuat Alex bernafas lega.

__ADS_1


" Kok mendengus gitu lega ya!? " tanya Mama Nisa mengedip kan mata sebelah, setelah dengar hembusan nafas kasar dari putra nya.


" Apaan sih Ma " ucap Alex melihat kesamping Mama Nisa selalu bisa bikin Putra nya salting.


" Berarti Papa nya Om Ronal bukan keluarga Dirham kan Ma? " lagi Alex menanyakan itu


" Bukan Sayang," Mama Nisa menatap putra nya. " alahhh...yang takut cinta nya kandas nanyak nya terus menditail " jawab Mama Nisa membuat Alex tersenyum malu juga merasa lega hati.


" Mama mau tanyak sama Abang!, Apa Abang beneran sukak sama Rafina!? " seketika Alex menatap perempuan yang telah melahirkan nya, heran kenapa pertanyaan itu lagi yang di pertanyakan.


hening...


hening....


Diam nya Mama Nisa karena mikir bagaimana cara menyampaikan keberatan akan hubungan Alex dan Rafina, apa lagi jelas jelas sekarang keadaan Rafina sudah tidak seperti dulu lagi, sebagai orang tua Mama Nisa berharap Alex memiliki jodoh baik fisik mau pun hati.


Memang Rafina baik hati, tapi bagaimana dengan fisik apa Ia mampu mengurus rumah tangga dengan kondisi nya seperti itu, bagaimana Alex memperkenal kan Rafina pada relasi bisnis apa Alex gak malu nanti. ungkapan ungakapan itu lah yang terus berputar putar di kepala Mama Nisa.


ingin terus terang takut Alex patah hati seperti dulu, kalau tidak terus terang akan selalu jadi ganjelan di hati.


" Ma...apa Mama keberatan karena kaki Rafina yang lumpuh!? " tanya Alex langsung pada intinya, " Ya gak gitu Bang, Mama hanya ingin Abang punya pendamping yang bisa ngurus abang " jawab Mama Nisa hati hati, agar Alex paham akan maksud Mama Nisa.


" Mah.., Mama sayang Abang kan?.," Ya " jawab Mama Nisa, "Mama percaya kan kalau Abang akan bahagia!?" Mama Nisa mengangguk, " Rafina itu masih bisa di obati Mah, Abang juga tau kalau Mama Ku ini pasti menginginkan yang terbaik, Mama gak keberatan kan kalau Abang biayai pengobatan untuk Rafina !?" Mama Nisa mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2