MELANJUTKAN CINTA YANG TERTUNDA

MELANJUTKAN CINTA YANG TERTUNDA
PLUS PLUS


__ADS_3

Kedua suster itu saling tatap, mereka sama sama merasa malu juga patah hati tidak menyangka lelaki yang ahir ahir ini sering jadi buah bibir mereka ternyata sudah punya tambatan hati.


kedua nya tertunduk lesu mengumpulkan keping keping hati yang retak, " sudah lah mari kita lihat pasien " ucap salah satu tampa semangat, mereka berjalan beriringan menuju kamar Nengsih tidak ada pembicaraan mereka sama sama diam.


Sementara Alex dengan gaya cool melewati koridor rumah sakit sesekali bibir nya tersenyum kala mengingat ocehan dua suster tadi, Alex menuju parkiran.


Di dalam ruang rawat, Nengsih duduk dengan gelisah, tangan yang bergerak sesuka hati membuat darah tersedot keselang dan Nengsih tidak menyadari apa yang terjadi dengan infus, Nengsih terlalu fokus berfikir bagaimana caranya pergi sebelum Rafina datang.


Nengsih merasa ketakutan akan rasa bersalah yang telah Ia perbuat, belum siap untuk bertemu Rafina. lama setelah kejadian rumah terbakar Nengsih mengira Rafina sudah ikut terbakar sama dengan Nenek Yati Ibu kandung nya, detak jantung Nengsih seperti berlarian ketika mengingat setiap kesalahan yang telah Ia perbuat dulu.


" hik... Ya Allah Engkau terlalu sempurna menuliskan cerita hidup untuk ku " lirih Nengsih dengan sesak yang sudah tidak dapat di bendung, Nengsih meratap tampa suara tidak sadar kalau ada dua orang suster masuk kedalam ruangan saat ini.


" Ya ampun Ibuk..." pekik panik salah satu perawat yang masuk, Nengsih juga kaget langsung meraup kasar muka untuk menghapus jejak air mata nya, kedua suster berbisik dengan cekatan bekerja, mereka juga tidak ingin kena marah apa lagi di pecat karena lalai menangani pasien lasak seperti Nengsih.


Nengsih tidak diam saat selang infus di ganti berikut botol cairan infus juga ikut di ganti, Nengsih hanya melihat botol infus bekas pakai nya sudah berubah warna merah karena tercampur darah nya.

__ADS_1


" Ibuk jangan banyak bergerak ya Buk? " pinta perawat, masuk satu perawat lagi sambil membawa napan stenlis di tangan, salah satu perawat langsung saja menghampiri dan melapor kan apa yang barusan saja terjadi dengan Nengsih.


" Ibuk... baring ya? pinta suster yang barusan saja masuk, Nengsih hanya mengangguk lalu berbaring suster mengambil spet suntik yang telah berisi cairan obat, setelah suster menyuntikan cairan Nengsih merasa kan perih di bawah kulit dan daging tangan yang dipasang infus, " sudah ya Buk istirahat " ucap nya tersenyum ramah.


Nengsih diam cendrung dingin dan datar menanggapi senyum suster yang terlihat lebih dewasa dari pada dua suster yang tadi, ya mungkin dia suster senior dari dua suster tadi tidak sampai beberapa menit Nengsih merasa kan kantuk, " kalian ikut saya " ucap suster senior pada dua suster lain dan Nengsih masih dapat mendengar walau samar.


" Ya " jawab mereka serempak, meninggalkan Nengsih yang mulai pindah ke alam mimpi. Alex datang bersama Rafina saat waktu sudah menunjukan tengah malam, sempat sebelum pergi Alex membujuk Rafina agar menunda keinginan pergi kerumah sakit tapi Rafina yang keras kepala tentu sangat susah untuk dibujuk.


Mau tidak mau Alex menuruti keinginan Rafina, Eka juga di minta Alex untuk ikut bersama mereka, sepanjang jalan Rafina terus menangis walau tampa suara Alex begitu sabar dan mengerti apa yang ini sedang di rasakan Rafina.


Dalam diam Rafina menyimak walau hanya jawaban Alex yang terdengar tapi Rafina paham apa yang di bicarakan Mama Nisa, Rafina merasa telah banyak merepot kan Alex, " Lex Aku minta maaf ya udah ngerepoti Kamu " ucap Rafina gak enak hati.


" Apaan sih Yank " jawab Alex meraih tangan Rafina lalu menciumnya penuh cinta, Rafina merasa dada nya berdesir hangat, Eka dibelakang terbelalak menyaksikan interaksi mereka " apa mereka lupa kalau ada Aku " batin jomblo Eka berontak.


" Duh iri gue kapan sih gue juga punya kekasih ya minimal buat gue semangat menjalani hidup " lagi lagi Eka membatin jiwa jomblo nya terbakar sambil menghembus nafas panjang Eka memilih melihat keluar jendela terlalu malas melihat keintiman yang akan bikin hati nya gelisah.

__ADS_1


Mereka sampai di rumah sakit di mana Nengsih di rawat, Eka duluan turun ketika mobil sudah masuk dan berhenti di areal parkiran, tampa di suruh Eka seakan tau apa yang harus Ia lakukan.


Alex turun lalu tersenyum pada Eka yang telah membantu nya menurun kan kursi roda dari bagasi, Alex membuka pintu sebelah Rafina terheran masih saja mata Rafina basah dengan air mata, " udah dong Yank Ibuk gak papa kok" ucap Alex sambil menyelip kan tangan di bawah punggung Rafina.


" Bukan itu Aku jadi gak enak sama Mama Nisa karena sudah menahan kamu terlalu lama " ucap Rafina begitu saja mengalih kan ucapan Alex, jarak yang begitu dekat Alex begitu saja menatap mata bengkak, gemes ingin rasa nya langsung sesap bibir basah Rafina agar tidak cerewet ngomong kalau Dirinya terbebani.


" Gak udah ngomong kayak gitu Sayank, Aku tulus sama kamu " Ucap Alex masih dengan jarak yang sama hembusan nafas keduanya beradu sama hangat entah siapa yang mulai bibir kedua nya bertemu begitu lembut membuat kulit kedua nya seperti tersengat sesuatu yang memabuk kan.


" Hmm.. hmm.. " Eka mendahem dua kali di belakang Alex walau tidak dapat melihat jelas tapi decapan halus yang terdengar cukup buat Eka meremang dan paham apa yang sedang terjadi sebab Ia pernah mendengar yang seperti itu waktu teman satu pekerjaan nya dulu ajak nonton film plus plus.


Alex dan Rafina mengahiri tautan bibir mereka, dengan penuh semangat Alex mengangkat Rafina untuk memindah kan ke atas kursi roda, tampa bica karena masih malu dengan Eka, Alex mendorong kursi roda menyusuri koridor rumah sakit dan Eka hanya mengikuti dari belakang dengan rasa menyesal telah ikut.


sampai diruangan Nengsih masih tidur karena penggaruh obat yang di suntikan agar Nengsih lebih banyak istirahat, " Lex kamu pulang ya kasian Mama " ucap Rafina setelah melihat Nengsih tidur, " Kamu gimana Yank kalau Aku pulang " tanya Alex yang masih ingin selalu berada di samping Rafina.


"Ada Eka" jawab Rafina, " Ok baik lah " Alex mengeluar kan dompet lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.

__ADS_1


__ADS_2