
Seperti mati Ellen tidak bergerak hati nya benar benar sakit, tidak menduga lidah Alex tajam melebihi pedang. perkataan Alex tajam mengunus hati Ellen sampai tembus ke jantung, sungguh tidak pernah di duga Ellen kalau laki laki yang Ia puja siang dan malam bisa berkata seperti ini.
Tubuh Ellen gemetar menahan gejolak dari dalam diri, sungguh Ellen tidak mampu bersuara. Dengan sisa tenaga dan kewarasan yang ada Ellen bangkit melangkah tertatih, Nafas Ellen tersengal menahan segala kesakitan hati.
Dalam sekejab Alex langsung menikam jantung nya tampa perasaan, air mata sudah tidak dapat di bendung Ellen terduduk lemas di lantai menuju tangga, menatap kosong lorong lurus menuju tangga, " Ya Allah sakit sekali " rintih Ellen mencoba bangkit.
Yang terlintas di fikiran hanya harus segera pulang meninggal kan Rumah Alex, Sampai di anak tangga paling bawah Ellen berhenti untuk mengatur nafas agar hati nya sedikit tenang.
" Aku harus pulang " batin Ellen mati matian berusaha menahan tangis agar tidak di lihat kedua orang tua Alex dan Ustad Rajab, namun air mata itu tak kunjung berhenti.
Ellen merasa seluruh hati nya luluh lantak hancur, cinta yang dulu besar di semat dalam hati kini menguap berganti benci, ingin sekali berteriak tapi lidah nya teramat kelu, "Sudah lah aku harus pergi sekarang " batin Ellen menguat kan diri sendiri lalu menuju dapur untuk mengambil milik nya.
" Len sini sayang " panggil Mama Nisa penuh kasih sayang, tapi Ellen memilih mengabaikan karena hati nya terlanjur sakit, sambil tertunduk Ellen melewati meja makan kemudian menyambar tas kecil lalu pergi begitu saja tampa memperdulikan teriakan Mama Nisa memanggil.
Setelah keluar dari gerbang mansion, Ellen benar benar sudah tidak kuat lagi menahan gejolak seketika Ellen merasa tulang belulang nya lolos Ellen jatuh berlutut dengan Air mata mengalir deras.
Ucapan Alex terus terngiang, otak Ellen benar benar tidak mampu lagi berfikir dalam hitungan detik pandangan Ellen menggelap, entah siapa yang sudah membawa nya Ellen juga tidak tau tiba tiba saja tersadar sudah dalam sebuah kamar yang sangat asing.
__ADS_1
" Ohh ternyata kamu sudah sadar " suara berat seorang laki-laki menyapa dari balik tirai kain penutup pintu, hanya kepala laki laki itu yang menyembul.
Ellen diam termangu menatap wajah laki laki yang muncul dari balik kain penutup pintu, " kamu lapar " tanya nya, Ellen seketika menggeleng rasa takut begitu saja menguasai firasat Ellen kalau laki laki di depan nya bukan orang baik.
" Udah gak usah di kasih makan dulu nanti dia ngelawan " ucap Orang yang tidak terlihat, Ellen semakin berdebar membenar kan firasat nya. " Ya Allah tolong Aku " batin Ellen jantung nya semakin berpacu kencang.
Seorang laki laki menerobos masuk dengan wajah sangat menyeram kan, mata Ellen nyaris keluar wajah nya langsung memucat saat melihat laki laki itu detak jantung nya semakin tidak beraturan.
" Ya Allah tolong Aku " teriak Ellen dalam hati, Ellen membuang muka ke arah lain untuk menetralisir rasa takut sungguh wajah laki laki itu tidak enak di pandang, " Heyy.. manis sini liat Abang " ucap nya sambil mencengkram kuat dagu Ellen agar berpaling melihat muka nya.
Ellen merasa nafas nya berhenti di tenggorokan, bau mulut laki laki itu sangat menjijikan. " siapa nama kamu cantik " tanya nya lagi , Ellen menahan nafas agar tidak menghirup bau mulut laki laki itu.
"semakin cantik kamu kalau ngelawan " ucap laki laki itu memajukan wajah nya, Ellen semakin jijik dengan perut yang mulai mual, "lepasinnn " teriak Ellen berontak hingga bisa terlepas dari cengkraman laki laki menyeram kan itu.
" Hahaha.... ternyata kamu kuat juga sayang" ucap nya di barengi tawa menggelegar, " Cih... lepasin saya mau apa kalian " Ellen mendecih jijik menatap sinis kedua nya. " sudah gak usah kamu takut takuti anak orang kasian " ucap satu nya.
Ellen yang memang pernah belajar karate bersiap siap memasang kuda kuda untuk jaga jaga kalau dua laki laki menyerang. " Lo liat tuh gaya nya binal juga, uhh... geram gemes aku " ungkap laki laki itu memprokasi teman nya.
__ADS_1
" Sudah lah lepasin aja !?" ucap yang satu nya lagi. Ellen menatap kedua nya secara bergantian, " apa apaan ini " batin Ellen karena kedua nya terlihat berbeda pendapat.
" Masalah nya Gue ***** nih, bukan nya malah kebeneran ada tempat pelampiasan" ucap nya tampa dosa sambil menyeringai ke arah Ellen.
Darah seakan mengalir deras ke otak Ellen kata kata lelaki itu persis mirip ucapan Alex yang menyamakan Diri nya dengan pelacur, Ellen merasa tersulut benar benar tidak bisa terima " Aaaaaakkkkhh" teriak Ellen melompat menendang kepala laki laki itu hingga tersungkur di lantai.
entah karena terlalu di kuasai emosi Ellen melompat menerjang laki laki yang bermulut pedas di mata Ellen laki laki itu adalah Alex.
Ellen menghajar laki laki itu tampa ampun, melepas setelah laki laki itu terkapar, " apa kamu mau nyusul Dia " ucap Ellen lantang pada laki laki satunya yang cuma nonton bersidekap tampa niat membantu teman nya.
" Pergilah Aku akan memberes kan kekacauan ini " ucap laki laki itu santai tampa melihat Ellen, ucapan cukup santai mampu membuat Ellen terdiam tapi Ellen merasa ada yang salah hingga harus meningkat kan kewaspadaan, segala kemungkinan bisa saja terjadi sekilas Ellen melihat korban yang tidak bergerak seperti mati.
" Duh mampus Gue apa dia mati!? " batin Ellen ketakutan, " cepat kamu pergi sebelum polisi datang " ucap satu nya menyadar kan Ellen karena harus pergi.
Mendengar kata polisi Ellen semakin ketakutan wajah Ziska tiba tiba terbayang, " udah jangan kebanyakan mikir pergi sana " usir laki laki itu. sesaat Ellen menatap kepalan tangan nya " Ya Allah ampuni Aku " lirih nya kemudian mengambil tas Ellen keluar dari kamar kumuh itu dengan langkah seribu bayangan jeruji besi sangat menakutkan.
Entah kebetulan atau apa sampai di jalan raya Ellen mendengan suara serene mobil patroli polisi, ketakutan menyergap Ellen, hanya lari yang terlintas di kepala.
__ADS_1
Ellen berlari tampa tujuan hanya mengikuti langkah kaki, bayangan wajah Ziska selalu hadir di pelupuk mata hingga Ellen tidak sadar ada mobil yang melaju kencang ke arah nya.
"Braaakkk... " tubuh Ellen kepental jatuh tepat menghempas pembatas jalan, Ellen merasa seluruh tubuhnya kebas sempat terbangun dan duduk semua seperti mimpi.