MELANJUTKAN CINTA YANG TERTUNDA

MELANJUTKAN CINTA YANG TERTUNDA
HANYA MIMPI


__ADS_3

Di kantor Alex sedang sibuk dengan beberapa Imail yang masuk, Alex terlalu fokus hingga mengabai kan benda pipih penghubung dunia itu terus berdering sampai berhenti sendiri.


Tapi tidak lama benda pipih itu berdering lagi, karena di rasa terlalu mengganggu Alex mengintip ke layar yang kini menyala " rumah sakit " yang tertera dengan cepat Alex menerima telephone dari rumah sakit.


" Halo Pak selamat siang " sapa dari seberang.


" Ya siang ada apa? " tanya Alex dengan mata fokus menatap layar laptop untuk memperhatikan turun naik nya bursa saham.


" Pasien yang bernama Ibu Nengsih minta pulang sudah tidak mau lanjut pengobatan" ucap suster bagian administrasi memberitahukan kalau Ningsih sudah minta pulang dan tidak ingin di rawat lagi.


Alex diam sesaat, " ya sudah sus minta dokter untuk cek kesehatan nya sebelum pulang dan minta dokter berikan fitamin yang terbaik " ucap Alex.


" Baik Pak selamat siang " ucap suster mengahiri, tapi Alex tidak menjawab lagi malah langsung menutup begitu saja, " huh... dasar orang kaya ya sesuka hati " kesal suster.


Nengsih mengamati wajah putri nya yang nampak muram, ada rasa yang gak enak langsung nyergap sanubari, apa soal biaya itu lah yang terfikir saat ini, Nengsih mengitari setiap sudut ruangan dengan pandangan mata.


ruangan serba putih itu memang terlalu mewah dan Nengsih yakin pasti hanya orang orang berduit lah yang mampu, hati Nengsih gelisah, " Ya Allah baru saja bertemu Aku sudah nyusahin anak Ku" batin Nengsih sambil menatap dalam wajah Rafina, Nengsih meraba hati entah sejak kapan hati nya mulai bisa terima Rafina, Nengsih pun masih bertanya tanya pada diri nya sendiri.


" Apa biaya rawat inap terlalu mahal!?, tanya Nengsih, Ia merasa telah jadi beban bagi Rafina namun sayang baik Eka atau Rafina masih bungkam karena mereka sibuk dengan fikiran masing masing.


" Fin mahal ya biaya nya?" tanya Nengsih lebih membesar kan suara.


" Gak kok Buk. Ibuk malah geratis " jawab Eka Rafina hanya tersenyum terpaksa.


Dahi Ningsih berkerut setelah mendengar kalau Dirinya di rawat tidak di kenakan biaya, Ningsih gak tau mau ngomong apa hingga hanya diam sama seperti Rafina dan Eka.


suasana hening beberapa saat kalau Rafina sibuk memikir kan masalah kelanjutan hubungan dengan Alex, kalau Eka malah menghayal seandai nya punya pacar kaya tajir melintir tentu enak gak perlu harus kerja capek jadi pelayan cafe.


Sedang kan Ningsih diam karena sedang mikir bagaimana kelanjutan hidup nya ikut Rafina atau lanjut menggelandang tampa tujuan, yang jelas fikiran itu timbul karena rasa bersalah atas kesalahan fatal nya telah terang terangan pernah menolak dan tidak menganggap kehadiran Rafina.

__ADS_1


Fikiran nya flas back ke masa lalu terbayang, hingga Nengsih memandang telapak tangan yang dulu Ia gunakan untuk menampar dan menjambak rambut Rafina kala Ia meluap kan amarah, tenggorokan Nengsih terasa kering mengingat itu semua.


Dokter dan suster masuk " permisi.. Ibu udah mau pulang ya? ...kita periksa lagi ya Bu" ucap dokter ramah dan minta Nengsih berbaring.


" cabut infus dulu ya Bu" ucap suster setelah dokter selesai memeriksa ulang kondisi Nengsih.


"Ssstt... "


Nengsih mendesis kala suster menarik jarum infus keluar dari kulit nya bukan karena sakit tapi rasa ngilu, " sudah Bu ini juga ada beberapa fitamin untuk Ibu "ucap suster menyerah kan beberapa bungkus butir pil.


" Makan teratur juga fitamin nya di minum ya Bu " ucap dokter dengan sangat santun, Nengsih hanya mengangguk.


" Ya sudah saya permisi " ucap Dokter tersenyum ramah pada Nengsih, Rafina dan Eka. Dokter dan suster meninggal kan ruang vip kelas satu.


" Kita pulang ya Buk " kata Rafina.


" Oh ya Kak, udah pesen greb atau belum!? " tanya Eka saat mereka jalan beriringan keluar dari koridor rumah sakit.


" Udah Ka." jawab Rafina lalu mengangkat kepala menoleh melihat Nengsih yang berjalan di sisi kursi roda nya. nampak wajah Nengsih masih sedikit pucat, "hhhmm " Rafina hanya bisa mendesah dalam diam melihat wajah Nengsih.


Rafina paham betul dengan sifat Nengsih yang memang keras kepala dari dulu, kenapa tidak memaksa karena Rafina tidak mau kehilangan lagi, percuma kalau memaksa kalau ujung nya Nengsih kabur.


Pertemuan tidak sengaja kemarin jelas nampak perubahan sikap dari Nengsih entah karena tiba tiba bertemu atau memang Allah sudah membuka hati Nengsih untuk menerima nya sebagai anak Rafina hanya bisa berharap kasih sayang itu nyata bukan seperti kemarin kemarin hanya mimpi.


Jujur Rafina sangat bahagia saat Nengsih kemarin mau membalas pelukan nya walau rasa takut itu masih menghantui, tapi Rafina bersyukur karena Nengsih ada di dekat nya sampai hari ini.


Tidak lama mereka sampai di pelataran, ponsel Rafina berdering ternyata panggilan dari supir greb yang di pesan, " Iya Pak ini kami sudah di depan " jawab Rafina ketika supir greb bertanya. " Iya Pak saya yang duduk di kursi roda " jawab Refina setelah itu menyimpan kembali ponsel di pangkuan.


Nengsih merasa sesak di dada mendengar jawaban Rafina saat menelphone, tatapan nya jatuh ke bawah melihat jari kaki Rafina," apa yang terjadi Ya Allah " batin Nengsih sedih dengan keadaan Rafina.

__ADS_1


" Ka kita kesana itu mobil nya " tunjuk Rafina pada satu mobil yang terparkir di ujung parkiran, Eka mendorong kursi roda Rafina tapi baru saja tiba tiba mobil sport hitam berhenti tepat di depan mereka.


Alex turun dengan gagah kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancung menambah aura kejantanan, sesaat Rafina mata Rafina terpaku terpesona dengan kharisma seorang Alex.


" Ibuk udah mau pulang?" tanya Alex setelah salim mencium punggung tangan Nengsih.


" Iya Nak " jawab Nengsih terkesan dengan sikap santun Alex.


" Eka udah pesen taksi nya "


" Bukan taksi kak tapi greb tadi kak Fina yang pesan " jawab Eka.


" ya sama aja Ka " ucap Alex membuat Rafina tersenyum.


Supir greb mendatangi mereka, " gimana Buk jadi!? " tanya pak supir.


"Jadi Pak sebentar ya? " jawab Rafina.


Supir greb hanya mengangguk lalu berbalik meninggal kan mereka.


" Lex makasih ya?, sudah menggratis kan biaya rawat Ibuk " ucap Rafina.


" Gak apa apa Say.. ang " ucapan Alex setengah nya tertelan begitu sadar kalau mereka tidak sedang berdua.


"Gak usah sungkan sudah kewajiban Ku kok" ucap Alex santai menghilangkan gugup.


" Yaudah Aku pulang ya? " ucap Rafina lagi.


Alex kembali mencium punggung tangan Nengsih, " Ibuk jaga kesehatan ya " pesan Alex pada Nengsih.

__ADS_1


__ADS_2