
Alex mengiringi kepergian mereka sampai mereka naik dan pergi, setelah mobil yang di tumpangi Rafina pergi, Alex juga segera masuk kedalam mobil kembali ke perusahaan DIRHAM CORPORATION karena masih ada jadwal miting.
Sampai di kantor Alex langsung menuju ruangan nya, Walau punya sekretaris Alex lebih suka persentasi sendiri, bukan apa apa Alex memang sengaja agar Dirinya tidak terlalu kaku karena notaben nya Alex memang sosok laki laki pendiam tidak banyak bicara.
" Brakk... Ya... ampun ribet banget Bos satu ini ini. ngapain lo pulak yang pelajari udah biar si Noni sekretaris baru itu yang persentasi " ucap Yady tiba tiba masuk tampa mengetuk pintu.
" Ya gak apa apa Yad Gue udah terbiasa, Gue takut si Noni itu malah ngangcurin persentasi nya, Lo tau kan ini proyek gede " jawab Alex beralasan sambil meredam rasa kesel karena Yady mengangget kan.
" Terserah Lo lah, tapi Gue yakin kalau si Noni itu bisa persentasi lebih bagus dari Elo " tutur Yady.
Mendengar penuturan Yady. Alex merasa ada sesuatu di balik sikap Yady, " Lo sukak ama tu cewek? " tanya Alex tudupoin pada inti nya.
" Ahh... Lo selalu saja begitu " jawab Yady spontan menutupi degup jantung nya, karena pertanyaan Alex tepat sasaran.
Alex tersenyum melihat raut wajah Yady yang sedikit berubah, " Kenak lo Yad " lirih Alex menutup mab lalu meletakan di atas meja.
Alex mengitari meja kerja nya untuk mendatangi Yady yang kini duduk tertunduk di sofa, " Hmm.. hati hati Bro." ucap Alex setelah duduk di samping Yady.
" Hati hati. maksud Lo? " tanya Yady hanya sekilas menoleh lalu menatap kedepan.
" Ah... gak apa apa cuma Gue khawatir aja, kalau Lo sampe sakit patah hati lagi seperti yang sudah sudah " jawab Alex melipat tangan di dada.
Yady diam semua omongan Alex ada benar nya, " Udah Lo gak usah sedih, apa Gue harus turun tangan biar Si Noni itu gak permain kan Elo " Alex memberi solusi karena terlalu sayang pada Yady sudah seperti saudara sendiri.
__ADS_1
Yady diam tidak tidak menjawab, suasana hening beberapa saat hingga ahir nya ketukan di pintu menyadar kan kedua nya dari kebisuan.
" Masuk... " ucap Alex barengan dengan Yady, kedua nya saling lihat lalu tersenyum.
Pintu terbuka masuk Noni si sekretaris baru yang baru dua bulan bekerja, " silah kan duduk " tawar Yady memasang senyuman seolah olah Dia lelaki paling gagah.
Alex hanya menggaruk tengkuk yang gak gatal, melihat raut wajah Yady yang sangat menggelikan, Alex harus kuat kuat meredam tawa agar Yady tidak kecil hati.
Sementara Noni hanya mengangguk dengan muka masam menanggapi tawaran duduk dari Yady, " cantik sih tapi apa mungkin mau dengan Yady " batin Alex lalu beralih melihat Yady.
" Ya Allah. gak tau diri banget sih Lo Dy " batin Alex melihat Yady menatap Noni dengan binar penuh cinta, sementara yang di tatap malah masam gak suka ingin rasa nya Alex memukul kepala Yady agar Yady sadar dengan ke kurangan nya.
Alex merasa kepala nya berat, heran dengan Yady kenapa tidak sadar sadar dari dulu, udah sering di hina, tapi ya gak salah juga Yady juga laki laki yang punya naluri untuk suka dengan lawan jenis keunggulan Yady cuma di otak briliyan nya.
" Pantas Yady demen semok emang " batin Alex mengakui lalu menatap ke arah lain sambil mengucap istifar dalam hati karena sempat terkesima dengan kemolekan yang ada di depan mata.
" Pak saya mau menyampai kan, infestor sudah hadir di ruang miting " ucap Noni menunduk tidak berani menatap Alex.
" Ya sudah. Kamu duluan " ucap Alex sengaja agar Noni cepat pergi terlalu kasian pada Yady.
"Apaan sih Lo malah di suruh pergi duluan" protes Yady kesal.
" Ya bukan gitu Yad... " , " Gue sadar kok gak mungkin dia mau sama Gue apa salah Gue menikmati ciptaan Tuhan walau cuma bisa liat doang" ucap Yady sengaja memotong ucapan Alex, langsung seperti menghunus hati Alex.
__ADS_1
" Gue sadar kok Lex " ucap Yady lagi dengan sendu, Alex diam tampa bisa berucap mungkin Yady kalau bisa memilih tentu ingin terlahir tampan tampa cela hanya takdir berkata lain Yady harus terlahir dengan kekurangan.
Alex begitu saja teringat akan Ellen dan Rafina, mereka juga cacat satu buntung satu lumpuh, " Hmmm... Yaudah ayok kita keruang miting" ajak Alex.
" Ya maafin Gue ya Lex, Gue tau Lo perduli sama Gue dan Gue juga terima kasih Lo udah anggap Gue saudara" jawab Yady panjang lebar karena tidak mau Alex berfikir lain setelah Diri nya tadi sedikit meluap kan kekesalan.
Mereka berpelukan sesaat lalu pergi keruang miting di mana seorang infestor dari jepang sudah menunggu.
Seperti saran Yady, Alex minta Noni untuk presentasi, Alex kehilangan mod karena keluh kesah Yady sangat mengganggu fikiran nya.
Yady juga begitu hanya duduk mendengar saat Noni persentasi, sesekali Yady tersenyum kemudian menekuk muka saat sadar Diri, itu semua tidak luput dari pandangan mata Alex.
Satu jam ahir nya miting selesai dengan persetujuan kedua belah pihak untuk menjalin kerja sama dengan kontrak yang sudah tertulis, jabat tangan dan foto bersama mengahiri pertemuan tepat pukul lima sore.
Alex pulang dengan wajah masih di tekuk fikiran nya terus ke Yady, hingga sempat berfikir akan menekan Noni untuk menerima Yady, " hah...pusing " Alex memukul stir mobil karena kesal kenapa bisa berfikir untuk memaksakan kehendak demi Yady.
Alex meraup muka dengan kasar lalu melihat pusaran waktu yang melingkar di tangan, " masih sore untuk pulang " llirih Alex lalu berbelok menuju cafe Rafina untuk menghabis kan waktu.
Tiba di parkiran cafe Alex melihat satu mobil sport yang sama merek dengan milik nya hanya beda warna kalau Alex punya warna hitam mobil lain itu warna merah.
Alex turun lalu masuk kedalam cafe, dari tempat nya berdiri saat ini, Alex bisa melihat Rafina dan Nengsih sedang berbincang bincang dengan seorang laki laki yang umur nya kira kira sepantaran dengan Nengsih.
" Siapa sih laki laki itu tamu Bu Ningsih kah atau tamu Rafina " aliran panas kecemburuan begitu saja merebak di dada Alex, tidak ingin di cap tidak punya kesopanan oleh Ningsih Alex memilih meja paling ujung dan pura pura seperti pengunjung biasa.
__ADS_1