
Perlahan Elen jongkok di samping Alex, tanggisan manggil nama Rafina sungguh sangat menyayat, Elen berusaha menelan ludah yang kini terasa sangkut di tenggorokan.
" Lex kamu sayang sama Mama kamu?, mau ketemu Fina? " tanya Elen gak tau harus bicara yang bagaimana membujuk Alex.
Alex mengangguk tampa melihat Elen di samping nya, jantung Elen seperti di gedor gedor Alex menatap kedepan dengan tatapan kosong dan itu membuat Elen sangat takut.
Sepintas Elen menoleh melihat Mama Nisa, "kalau sayang sama Mama Kamu coba Kamu liat Mama Kamu" ucap Elen. Alex menuruti ucapan Elen nampak Mama Nisa terduduk lemas sambil menatap nya juga.
" Pulang ya kasian sama Mama Kamu " ucap Elen lagi sengaja mencoba menggugah hati Alex. lagi lagi Alex mengangguk lalu bangkit menghampiri Mama Nisa.
Mata Mama Nisa berkaca kaca hanya dengan anggukan mengucap kan terima kasih pada Elen, lalu ikut Alex naik kedalam mobil.
Elen bisa bernafas lega pada ahir nya berhasil membujuk Alex,mau ikut pulang bersama orang tua nya, hari menjelang magrib Elen pulang setelah mobil yang membawa Alex dan keluarga nya sudah menghilang dari pandangan mata.
Sambil berjalan pulang Elen teringat lagi saat Alex memeluk nya tadi, ada rasa hangat yang menjalari hati saat terbayang pelukan Alex.
Keesokan hari nya Alex kembali lagi, Mama Nisa benar benar kewalahan karena harus menghadapi emosi Alex yang berubah ubah.
Setiap hari Alex mengamuk minta pergi kerumah Rafina dan itu berulang kali sampai hampir dua minggu sampai Alex di katai orang terkena gangguan mental karena sering bicara sendiri.
Papa dan Mama Alex sampai membayar beberapa bodyguar hanya untuk menjaga Alex agar tidak di ganggu anak anak sekitar situ, Mama Nisa tidak sanggup berkata kata dengan keadaan Alex sekarang.
__ADS_1
Sudah dua hari Elen bolak balik kerumah Alex atas permintaan Mama Nisa, sekarang Elen sudah sampai dari pagi, terduduk menyaksikan Mama Nisa mencurah kan seluruh kasih sayang nya dalam merawat Alex yang kerap bertingkah seperti orang gila, entah lah Elen juga tidak mengerti kenapa ada cinta yang begitu besar.
" Ya ampun kenapa harus gak ngerti bukan nya Aku juga gitu punya cinta yang besar cuma miris hati yang Aku tuju telah tertambat dengan hati sahabat ku sendiri" Elen bicara dengan diri sendiri.
Setiap memikir kan soal cinta Alex pada Rafina, Elen merasa sedih sendiri karena diri nya terlalu menyedih kan sudah demikian bodoh menyimpan rasa itu sampai sekian lama, andai saja Alex tau apakah Alex akan membuka hati melupakan Rafina dan bisa menerima diri nya. selalu pertanyaan itu hadir begitu saja.
" Tenang tenang Len, semua akan ada jalan nya " Elen menenang kan diri nya sendiri. bagaimana pun persaan memang tidak salah tapi tetap tidak bisa memaksakan, Elen hanya memperhatikan interaksi Alex dan Mama Nisa.
" Bang makan ya Nak " bujuk Mama Nisa suatu sore, malam Elen memang menginap karena permintaan Mama Nisa.
" Fina Mah Fina datang mau ketemu Abang" jawab Alex tidak mau menerima suapan malah terus menyebut nama Rafina.
" Abang Istifar ya Nak, kalau Abang sayang sama Fina. Abang harus berdoa biar Fina ingat Abang " ucap Mama Nisa di barengi lelehan air mata, Elen merasa hati nya tercubit melihat kesabaran Mama Nisa.
" Tan biar Elen ya yang nyuapi " Elen meminta menggantikan Mama Nisa. menatap Elen sesaat lalu Mama Nisa menyerah kan piring berisi nasi dan lauk pauk ketangan Elen, berharap Alex mau di bujuk seperti kemarin.
" Lex makan ya?.. " Elen menyodor kan sesuap nasi kemulut Alex, entah setan apa yang sedang mengusai diri Alex. dengan wajah marah Alex menatap seketika lalu menepis kasar tangan Elen hingga sendok berisi nasi itu tercampak berikut piring yang di tangan Elen juga terlepas jatuh hingga pecah dengan isi berserakan di lantai.
" praank... Abanggg.. " teriak Mama Nisa shock dengan kelakuan Putra nya, Elen gemetar menahan gejolak amarah yang awal takut akan reaksi Alex tapi setelah beberapa hari rasa takut itu berganti muak.
kalau tidak karena permintaan Mama Nisa sudah pasti Elen tidak akan mau menghadapi Alex padahal udah hampir dua minggu selalu mendampingi Alex karena permintaan Mama Nisa.
__ADS_1
" Kamu apaan sih kepengen ikut mati...,mati sana susulin cinta kamu, Apa kamu gak lihat itu Mama kamuu...hahh... egois... " teriak Elen geram sambil menarik dan meremas kerah leher baju kaos yang di pake Alex lalu menghempas dengan sangat kasar.
Alex terdiam menatap Elen dengan tatapan kosong, disudut Mama Nisa menangis sesengukan hati nya sangat terpukul melihat keadaan Putra sematang wayang nya sangat menyedih kan.
Elen keluar dari kamar Alex untuk ambil alat pembersih lantai, " bener bener gila, aduh Fin semoga kamu tenang di sana, Maaf kan Aku kalau sudah sampai ke titik ini" batin Elen entah kenapa akan ada selalu rasa bersalah dalam hati.
" Ngapain Len? " tanya Bik Sum saat lihat Elen celingak celinguk cari peralatan pembersih lantai, " Aduh Ibuk ngagetin aja! Elen mau cari sapu ama pengepel soal nya Alex gak mau makan " jawab Elen sambil ngelus dada kaget karena tiba tiba aja Bik Sum menegur dari belakang.
" Olah...yaudah biar Saya yang bersihin" ucap Bik Sum melewati Elen gitu aja.
Elen berdiri nunggu Bik Sum ambil peralatan pembersih lantai, " Udah ayok atau Nak Elen mau makan?, itu saya udah masak makan lah" tawar Bik Sum.
" Gak usah Buk nanti aja " jawab Elen lalu ngikuti langkah Bik Sum.
Elen membawa sapu dan lain nya berikut Bik Sum, " Ya Allah Nyah ada apa ini? " tanya Bik Sum saat melihat lantai berserak nasi dan pecahan piring.
Mama Nisa diam tidak menyahut pertanyaan Bik Sum , hati nya kebas melihat keadaan Alex, sementara Elen memperhatikan Elex yang kerap kali bicara dan senyum senyum sendiri.
" Nyah saran Bibik ya panggil aja orang pintar itu lo kayak pak ustad " ucap Bibik sambil ngepel bagian yang kena tumpaham nasi.
" Iya Bik nanti aja nunggu Papa nya Alex pulang " jawab Mama Nisa setuju dengan saran Bik Sum gak ada salah nya mencoba mungkin benar Alex bisa sembuh, Mama Nisa juga tidak mau melihat keadaan Alex semakin terpuruk, ternyata Alex memiliki cinta yang besat untuk Rafina.
__ADS_1