
Dokter Santo terdiam merasa sangat familiar dengan nama yang di sebut kan Alex, " Yady.. Yady...siapa ya " gumam Dokter Santo mencoba mengingat ingat ada berapa orang yang punya nama Yady seingat nya hanya ada satu Yady yang di kenal, " Ohhhh...Maksud Lo si Yady idiot itu yang dulu suka di buli ama anak jurusan Gue!! " tanya Dokter Santo sambil terkekeh.
Bagaimana pun masa masa kuliah amat berkesan bagi mereka yang pernah mengecap jadi anak kampus.
" Iya... Si Yady suryady, gak rugi Gue dulu bela belain Dia " jawab Alex bangga.
" Masa sih Dia bisa lebih pinter dari Elo!?" tanya Dokter Santo tidak percaya kalau Yady yang nyata nya idiot bisa begitu jenius.
" Lo gimana sih masak seorang bergelar Dokter kayak lo bisa ngomong kayak gitu!?, Iya Dia memang jenius cuma fisik nya aja yang begitu, kalau gak ada Dia. Gue rasa Gue gak bakal punya gelar S satu," Alex membela dan mengakui kalau Yady memang jenius dan telah berjasa dalam hidup nya.
Dokter Santo merasa seperti di tampar, ucapan Alex menyadar kan nya kalau tidak boleh menilai orang cuma dari fisik. fisik bagus tidak akan ada apa apa nya kalau otak nya jongkok, " Gue teringat dulu temen temen Gue ngejahili Si Yady sampe mereka buat komplotan yang di kasih nama jail masih ingat lo gak!? " ucap Dokter Santo.
"Ya ingat lah, temen temen Lo itu kayak orang gak punya hati Cuma Gue yang care ama tu anak. Gue kasian liat temen temen Lo ngebuli Dia " jawab Alex kenangan masa membela Yady dikuliah begitu saja melintas.
" Ya mau gimana Lex mereka memang begitu, apa lagi mereka tu udah pusing dengan pelajaran ya si Yady jadi sasaran mereka , kebetulan kampus kita berdekatan dan bisa di bilang satu pagar lah " hhhmmm....ucap Dokter Santo sambil menghela nafas.
" Iya Gue tau. tapi memang anak anak jurusan lo kelewatan, Gue masih ingat waktu dengan sengaja mereka ngmpesin ban motor nya Yady, Lo tau si Yady dorong tu motor sambil nangis Gue sedih liat nya " ucap Alex dengan kesal.
Mata Dokter Santo terpejam, kesedihan menyeruak merasa sangat berdosa telah ikut menjolimi Yady, " kapan ya ketemu Dia. Gue mau minta maaf sama Dia" ucap Dokter Santo.
Merasa sangat bersalah tampa rasa kasihan malah ikut nyoraki, tapi mau gimana lagi masa jaman kuliah itu memang masa masa aktif para anak muda ya termasuk Diri nya walau tidak pernah ngebuli langsung tapi pernah ikut ikutan nyorakin.
Dokter Santo melirik pusaran waktu yang melingkar di tangan, sudah dua jam Dokter Santo harus segera mengahiri sesi obrolan mereka, " Yaudah Lex. Gue pamit ya jangan lupa nanti Lo ajak calon mertua Lo buat periksa" ucap Dokter Santo.
__ADS_1
" Oh... ya satu lagi kalau Lo ada waktu kapan kapan ajak Si Yady kita ngobrol ngobrol sekalian Gue mau minta maaf " timpal Dokter Santo.
" Ngerasa salah juga lo!?, hahaha Yaudah terimakasih Lo udah mau nyempetin datang kemari" jawab Alex.
" ihh... santai kayak sama siapa aja kita kan saudara cinn.. " Dokter Santo meniru suara waria lalu merentangkan tangan memeluk Alex dengan erat, senang karena Alex memiliki rasa persaudaraan yang tinggi mereka sama sama tertawa.
" Salam buat Bunda ya? " ucap Dokter Santo sebelum masuk kedalam mobil, Alex mengangguk mengiya kan sambil tersenyum.
setelah mobil Dokter Santo menghilang dari pandangan, Alex menarik nafas dalam sambil menengadah, teringat ucapan Dokter Santo tentang penyakit di paru paru.
" Apa iya Om Ronal sakit paru paru, ahh bisa saja si Santo geblek itu salah diaknosa " Alex terdiam sambil menatap langit gelap tampa cahaya. tapi kata kata Dokter Santo tadi masih sangat di ingat, takut kalau penyakit paru paru itu sudah akut, setau Alex banyak macam nya penyakit paru paru, " ahh yaudah lah berdoa aja semoga Om Ronal penyakit nya tidak parah" batin Alex.
bagaimana pun Ronal masih kluarga almarhum Papa nya, terlihat sambaran kilat di kejauhan " yah mau hujan nih " gumam Alex bergegas masuk kedalam untuk pamit pulang karena sudah janji pada Mama Nisa kalau tidak akan pergi lama lama.
Karena tidak tau mau permisi dengan siapa Alex memutus kan pulang saja, dengan sangat perlahan Alex mendekati Rafina, Alex tersenyum melihat mata bengkak Rafina Cup satu kecupan di dahi sebagai ucapan pamit pulang lalu Alex keluar dari ruangan Rafina.
" Loh Kakak mau kemana? " tanya Eka kebetulan ingin masuk, mata Eka menatap lekat wajah Alex pahatan maha karya sang Pencipta benar benar sanga sempurna telah membius mata Eka.
" Ya Allah kapan ya Aku punya pacar ganteng kayak Kak Alex " batin Eka sangat kagum dengan ketampanan Alex.
" Jangan di liatin nanti Kamu gak bisa tidur " ucap Alex membuat Eka salah tinggkah.
" Eh... Kakak mau pulang ya? " tanya Eka lagi.
__ADS_1
" Ya iya lah mau pulang"
" Oh Eka kira Kakak mau nginap " jawab Eka asal karena masih grogi dan malu.
" Enak aja kamu " Alex tersenyum melihat perubahan muka Eka.
" Ka bilang sama Rafina ya?.. kalau saya pulang "
" Loh bukan nya Kakak tadi udah masuk kok gak sekalian pamit? "
" Gimana mau pamit Ka, udah pada tidur semua " jawab Alex.
" Oh... yaudah nanti Eka sampein ke Kak Fina "..
" Ya sudah saya permisi pulang" ucap Alex kemudian melangkah pergi.
" Ya kak hati hati " jawab Eka.
Alex mengendarai dengan santai omongan Dokter Santo masih mengganggu fikiran nya, entah kenapa melihat kemiripan Ronal dengan Almarhum Papa nya Alex merasa sangat senang seolah Papa nya hidup kembali.
tepat di areal pombensin Alex belok karena melihat isi tangki sudah menipis, " Full tank ya Bang" ucap Alex pada petugas pom bensin" Alex merogoh saku nya untuk mengambil uang.
Beberapa lembar Uang dan satu kertas putih nampak saat Alex menarik semua uang nya dari dalam saku, " Ya Allah " seru Alex saat meliahat kertas putih yang ternyata resep obat untuk Ronal.
__ADS_1
" Aduhhh... kenapa lupa Gue " Alex menepuk jidat kesal kenapa bisa melupakan hal penting soal resep obat Ronal. Alex membayar tagihan minyak sampai tidak mengambil uang kembalian, Alex kembali memutar arah balik ketempat Rafina, sepanjang jalan mata Alex terus mencari Apotik yang masih buka. syukurnya Alex beruntung ternyata masih ada apotik yang buka.