
Waktu semakin beranjak, Rafina dapat bernafas lega karena Alex ahirnya pulang setelah di bujuk oleh Rafina, " kolokan abis gak cocok sama umur " Rafina terkikik sendiri kala teringat Alex yang bermuka kecut saat pergi tadi.
" Mana kak Alex kak?" tanya Eka yang baru masuk, sebenar nya Eka hanya basa basi saja pada Rafina, Ia sudah lihat Alex pergi tadi.
" Udah pulang baru saja. sudah sini kita tidur istirahat mumpung Ibuk juga tidur kita tidur jugak " Rafina menepuk bantal sofa sebelah nya.
Eka tidak menyahut setelah menegak semua isi cup Eka langsung membuang cup kosong ke tempat sampah yang ada di pinggir pintu kamar mandi, tubuh lelah membuat Eka langsung lelap setelah tidak berapa lama berbaring di samping Rafina.
Berbeda dengan Rafina yang masih menatap langit langit kamar ruang inap, fikiran nya mmernerawang ke masa lalu saat kejadian kebakaran juga beberapa jam lalu.benar benar tidak pernah terfikir kan Nengsih ternyata masih hidup, Nengsih sudah Ia anggap tiada bersama Nenek nya dan yang lebih mengheran kan justru Nengsih juga menganggap nya sudah tiada.
Miris memang tapi yang lebih jadi fikiran Rafina siapa satu orang lagi yang ikut hangus waktu kebakaran itu, otak Rafina masih bertanya tanya karena seingat nya tidak ada orang lain selain Dirinya, Nengsih dan juga Nenek Yati lalu siapa yang ikut terbakar.
Semua pertanyaan seputar kebakaran terus berputar putar di fikiran Rafina, " Ya Allah siapa ya? satu lagi." batin Rafina terus mempertanyakan siapa satu lagi jasad yang ikut terbakar bersama Nenek Yati.
Memikir kan semua itu Rafina merasa kepala nya pusing, ingin segera lelap agar bisa lupa tapi entah kenapa mata nya malah betah melek tidak ada rasa kantuk sedikit pun, ingin rasa nya bangkit menghampiri Nengsih namun apa daya nya kaki yang tidak mampu bergerak tentu jadi penghalang besar untuk Rafina melangkah.
Dalam diam dada nya terasa sesak air mata mengalir di sudut mata nya, " kenapa nasib Ku begitu buruk " lirih Rafina dalam hati sangat menyesali jalan takdir hidup nya, isakan keluar tidak dapat terbendung hingga membuat tidur Eka terganggu.
__ADS_1
" Kak kenapa? " tanya Eka berbalik menghadap Rafina, " maaf ya sudah ganggu tidur Kamu " ucap Rafina menghapus lelehan air mata dengan punggung tangan.
" Ahh gak kok kak" jawab Eka cepat, bukan sekali dua kali Eka melihat Rafina menangis, Eka sudah sering dan hapal pasti Rafina sedang menyesali takdir hidup nya, tinggal Eka yang harus memberi semangat agar Rafina tidak larut dan mau menjalini hidup dengan penuh semangat.
" Sudah kak. Kakak tidur lah jangan begini terus gak guna kak yang ada malah Kak seakan tidak percaya pada yang Maha Kuasa" ucap Eka berhasil menyadar kan Rafina.
Perkataan Eka masuk akal seperti menampar mencubit kuat hati nya, Rafina berulang kali mengucap istifar juga memohon ampun takut akan azab karena terlalu menyalahkan akan takdir hidup yang harus Ia terima.
" Tidur ya Kak. " Eka menggenggam tangan Rafina, Eka tau seperti biasa kalau Rafina merasa putus asa maka dengan saling menggenggam maka Rafina akan tidur dengan sendiri nya.
Benar perkiraan Eka tidak sampai sepuluh menit Rafina sudah pindah ke alam mimpi, setelah mendengar dengkur halus Rafina, Eka juga melanjut kan tidur karena besok akan kembali bekerja.
" Sudah rapi aja anak Mama " ucap Mama Nisa kagum dengan ketampanan sang putra yang tentu mirip almarhum suaminya, " Iya Mah, Abang mau kerumah sakit dulu sebelum ke kantor " jawab Alex sambil menggapai tangan Mama Nisa untuk salim.
Ada terbersit sedih juga bahagia di relung hati Mama Nisa, " Ya Allah....semoga anak Ku bahagia " batin Mama Nisa ucapan batin nya menggantung tidak bisa mengungkap kan perasaan sedih juga bahagia, sedih karena mengetahui kondisi Rafina yang cacat sedang bahagia nya adalah ketika sang Putra bangun dengan penuh semangat.
" Mah.., Abang pergi ya " ucap Alex menyadar kan Mama Nisa dari lamunan sesaat nya, " Ya salam buat Ibu nya Rafina juga Rafina ya Bang" jawab Mama Nisa diangguki Alex. Alex juga menghadiahi ciuman di pipi sang Mama.
__ADS_1
Ciuman hangat sang putra begitu membuat Mama Nisa bahagia, untaian doa begitu saja terlafat dalam hati Mama Nisa untuk putra semata wayang nya, Mama Nisa mengantar Alex sampai ke teras.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit bibir Alex terus tersenyum, rasa nya sudah tidak sabar untuk mempersunting Rafina menjadi istri, Alex sudah tidak sanggup berjauhan lagi apa lagi sampai harus berpisah seperti dulu.
tepat pukul enam mobil sport Alex sudah sampai di parkiran rumah sakit, tentu masih lengang hanya beberapa petugas lalu lalang menjalan kan tugas masing masing.
" Bug... Auuuhh.. " teriak seseorang jatuh terduduk, Alex berjalan tergesa gesa hingga tidak sadar menabrak seorang perempuan yang baru keluar dari ruangan.
" Jalan pake mata " bentak Alex tapi kemudian mata nya terbelalak saat mengetahui perempuan yang Ia tabrak tadi siapa, " El.. Elen " ucap Alex terbata, mata Elen memicing memindai wajah Alex tidak pernah di sangka kalau akan ketemu Alex di rumah sakit.
Elen memaling kan muka tidak ingin melihat Alex lagi, hati nya masih terlalu sakit.
" Sini Aku bantu " ucap Alex berlutut memungut tongkat milik Elen, " gak usah Aku bisa sendiri " jawab Elen ketus Elen merebut tongkat nya dari tangan Alex, Elen merasa dada nya panas apa lagi mengingat penolakan Alex dulu.
Susah payah Elen bangun, setiap Alex coba mengulur kan tangan ingin membantu pasti Elen akan menepis tangan Alex dengan kasar, kata kata Alex dulu masih sering terngiang di ingatannya.
" Kamu masih marah sama Aku Len? " tanya Alex yang kurang peka dengan tatapan sinis Elen, " Gak " jawab Elen singkat lalu melanjut kan langkah hati nya masih begitu sakit beretemu Alex, menguak luka lama walau sebenar nya Elen masih menyimpan Alex di dalam hati tapi Elen lebih memilih mengubur semua rasa nya terhadap Alex.
__ADS_1
Alex hanya mematung menatap kepergian Elen, " apa yang terjadi dengan nya " pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Alex karena saat ini Elen cacat hanya punya satu kaki, Alex masih pongah ditempat memandang punggung Elen yang kian lama hilang dari pandangan nya.