
Keesokan hari nya, Jenajah yang di temukan kan sudah berhasil di identifikasi dan di nyatakan kalau itu benar Jenazah Nenek Yati dan Rafina.
Elen mendapat kabar dari Ziska kalau salah satu jenazah benar Rafina, kaki Elen langsung lemas seperti tidak bertulang. wajah Elen memucat tulang belulang nya seakan lolos, Elen jatuh terduduk di lantai sambil menangis.
" tidak tidak mungkin Rafina " jerit Elen jauh dalam lubuk hati berontak tidak percaya kalau salah satu korban itu Rafina, tidak mungkin Rafina pulang tampa memberitahukan nya. tapi dengan fakta yang ada Elen tidak bisa mengelak hanya bisa berharap satu keajaiban akan muncul kalau yang bakal di kubur bukan Rafina sahabat nya.
Air mata Elen berderai hati nya masih belum percaya Rafina pergi begitu cepat, dengan langkah gontai Elen ikut bersama warga lain kekuburan dan mengikuti prosesi pemakaman sampai selesai.
Semua perjalanan pertemanan dengan Rafina semasa hidup kembali terkenang, Elen merasa sebagian diri nya hilang, kini hanya pusara yang bisa Elen lihat.
" Ayo nak pulang " ajak Ibu ibu warga menepuk pundak Elen yang sedang menatap kosong papan nisan nama Rafina.
melihat sekeliling memang sudah mulai sepi, Elen bangkit lalu melangkah mengikuti langkah warga lain yang sudah duluan.
Elen benar benar kehilangan, jiwa nya terpukul hanya Rafina sahabat dekat nya, akibat ngelamun Elen tidak tau melangkah kearah lain gang. bukan nya kembali ke rumah tapi malah ke gang yang menuju rumah Nenek Yati.
" Loh Nak Elen mau kemana" tegur salah satu warga yang berpapasan.
Deg...
Elen tersadar menatap sekeliling , " ohh mau keliling keliling Pak! " jawab Elen setelah lihat kiri kanan ternyata salah lorong.
__ADS_1
" O.. ya sudah hati hati, anak gadis pamali jalan sambil termenung " ucap Si Bapak mengingat kan lalu pergi.
Mendengar ucapan Bapak itu, Elen hanya menarik nafas dalam sambil menatap punggung Bapak itu berlalu sambil mendorong sepeda.
Hanya tinggal beberapa meter lagi sampai di depan rumah Almarhum Nenek Yati, Elen menghentikan langkah ada beberapa mobil yang berjejer di situ Elen jadi enggan untuk lanjut. ingin berbalik tapi telinga nya menangkap suara orang menjerit memanggil nama Rasina.
" Apa mungkin sodara nya ya?..tapi kenapa Sih....Fina gak pernah cerita tentang sodara nya, apa Dia malu tapi untuk apa kan bagus punya sodara banyak gak kayak Aku hanya berdua setelah orang tua gak ada " Elen bicara pada diri nya sendiri.
" Rafinaaaa.... " teriakan seseorang menggema, Elen terpaku, " benar kah itu dia" batin Elen karena suara itu sangat familiar di telinga Elen.
Untuk memastikan kalau pendengaran nya tidak salah Elen melangkah, rasa rindu hadir menyeruak begitu saja, semakin dekat Elen merasa dada nya berdebar gak karuan.
Jarak semakin dekat, Elen membuang nafas kasar beberapa kali agar detak jantung nya kembali normal. " Huf kalau baru teringat aja jantung ku begini kayak nya gak lama lagi bakalan nyusul Rafina " monolok Elen pada diri sendiri.
Senyum berubah sedih " Jahat kah aku " lirih diri Elen, perasaan yang sudah lama Ia pendam kini seakan muncul kepermukaan, Elen memejam kan mata sungguh rasa ini di luar kendali nya, "maaf kan Aku Fin" batin nya merasa bersalah.
"Udah Bang pulang ya Nak " bujuk wanita paruh baya Elen yakin orang yang membujuk itu pasti Mama Alex, walau belum pernah ketemu tapi Elen yakin karena wajah nya mirip Alex.
" Tidak Mah Abang gak akan pulang sebelum Rafina datang " ucap Alex menepis kasar tangan Mama Nisa, mendengar ucapan Alex hati Elen mencelos sebegitu besar kah cinta yang di miliki Alex untuk Rafina.
Elen tertunduk, bulir bening kembali jatuh, "apa Aku gak layak " batin Elen sambil meremas ujung switer, ternyata begitu bertahta nya Rafina di dalam hati Alex.
__ADS_1
" Ia nanti Dia pasti datang!. kita pulang dulu ya Bang " Bujuk Mama Nisa, Alex tidak menjawab malah semakin menangis sambil memanggil Rafina tidak perduli dengan ocehan dua orang tua di dekat nya, begitu terluka nya Alex atas kepergian Rafina hingga duduk di atas puing puing hitam.
Elen hanya bisa melihat Mama Nisa yang juga ikut menangis di dalam pelukan seorang laki-laki, Elen merasa kasian dengan Mama Nisa, tau bagaimana perasaan seorang Ibu untuk anak nya karena Elen pernah merasakan itu saat kedua orang tua nya masih hidup.
Melihat kesedihan Mama Nisa Elen gak sampe hati, ingin membantu membujuk Alex. "Lex... "panggil Elen setelah berdiri tepat di belakang Alex, seketika Alex menoleh dan langsung berdiri memeluk Elen.
" Len si Fina udah pergi Len Aku gak mau dia pergi kenapa Dia gak ajak Aku!?? Dia janji kami akan terus sama sama tapi nyata nya dia pergi Len ninggalin Aku " ucap Alex histeris sambil memeluk Elen erat.
Bulu kuduk Elen sontak meremang, jantung nya berdebar kencang, bagai mimpi rasanya. Elen yang kaget tidak bisa mencerna ucapan Alex karena harus mengatur detak jantung nya, perlakuan Alex barusan membuat nya shock seketika.
" Ya Allah ini kan yang Aku harap, tapi tidak ahh dia punya Rafina!', egois banget kalau ambil kesempatan dalam keadaan begini " Elen bicara dengan diri nya sendiri entah kenapa fikiran lain kata hati lain Elen heran dengan diri nya sendiri.
" Lex udah ya jangan sedih lagi kalau kamu sayang sama Fina" ucap Elen sambil mendorong dada bidang itu agar sedikit memberinya kelonggaran bernafas.
Risih pun iya jugak karena ini kali pertama Elen di peluk laki laki, " Aku juga sedih Lex bagaimana pun Rafina temen kita " ucap Elen hanya kata itu yang terlintas saat ini.
" Iya tapi Dia udah janji gak akan tinggalin Aku" ucap Elex dengan wajah memerah, Elen bergidik " ternyata orang sedih bisa juga nyeremin kayak gini " batin Elen membuang pandangan kearah lain.
Pelukan hangat barusan masih begitu membekas, Elen sampai gak sadar kalau Alex sudah duduk kembali, " Anak siapa ya? " tanya Mama Nisa dari belakang.
Elen tersenyum, " Oh.. saya teman Alex dan Rafina, kami satu sekolah " jawab Elen sambil nyalim Mama Nisa dengan hormat.
__ADS_1
" Bantu Tante ya bujuk Alex biar mau pulang, liat tuh keadaan nya " pinta Mama Nisa menunjuk Alex yang sedang duduk bersila di atas puing puing hitam