
Laki laki paruh baya itu menatap Rafina dalam, merasakan desiran hangat di dada nya. panggilan Papa. membuat hati seperti punya harapan baru terasa hidup setelah lama kosong nyaris putus harapan dan mati. setelah sekian tahun mencari ahirnya mereka ketemu kembali karena insident tempo hari.
Tetapi rasa bahagia itu langsung lenyap menguap begitu saja, saat teringat kesalahan penyebab putri harus duduk di kursi roda . " seandainya lebih duluan tau tentu tidak akan Aku membiar kan , memang kata Menyesal selalu datang belakangan tapi percuma kesalahan itu tetap akan jadi kesalahan yang akan Aku tangisi sepanjang waktu." batin Papa Rafina.
" Fina maafin Papa ya? " ucap nya berat di barengi lelehan air mata, hanya kata maaf yang mampu Ia ucap kan, karena sangat terbebani coba lebih awal tau Rafina adalah putri nya tentu Ia akan merawat dan memberi pengobatan terbaik kalau perlu keluar negri akan Ia tempuh.
" udah lah Pa. Fina udah iklas kok mungkin sudah takdir, Fina juga bersyukur kalau gak ada kejadian itu tentu Papa gak akan cari anak Papa ini kan?" jawab Rafina sambil tersenyum, hati nya telah mengiklas kan semua yang terjadi yang ada sekarang rasa bahagia meletup letup karena hidup nya terasa komplit dengan kehadiaran Ningsih dan Papa nya.
Alex diam hanya jadi pendengar kemana arah pembicaraan Papa Rafina dan Rafina, " Nak Alex" panggil Nengsih yang sedari tadi diam tiba tiba buka suara, " yang menabrak Rafina tempo hari ya ini orang nya !?" Nengsih menunjuk tepat di wajah Papa Rafina yang duduk di samping Alex.
" Ibuk udah lah gak usah di besar besarin, Fina udah Iklas Buk " ucap Rafina agar Nengsih tidak menyulut api yang sudah padam.
" Neng Aku minta maaf, sungguh Aku gak tau kalau yang ku tabrak justru anak kandung ku, bener bener minta maaf sampai saat ini Aku masih mencari kalian, asal kamu tau Neng. Aku tetap mencintai kamu " ucap Papa Rafina tampa malu.
" plakk... jangan sentuh,...Aku gak sudi Kamu hanya pembual, semua cuma ucapan bohong mu saja, mana kebenaran nya Kamu gak ada kan cari Aku, kamu meninggal kan ku begitu saja Mas.." Nengsih menepis kuat tangan Papa Rafima ucapan nya berapi api.
Rafina melirik Alex dengan rasa campur aduk, tidak menyangka dengan tindakan Nengsih rasa malu begitu saja menyelimuti, ingin pergi menjauh tapi apa daya nya, Rafina menoleh ke kiri dan kanan benar saja mereka saat ini jadi tontonan beberapa pengunjung cafe.
" Buk udah cukup!!. malu Buk kita jadi tontonan orang " ucap Rafina mengingat kan Nengsih agar lebih mengontro emosi.
__ADS_1
mendengar ucapan Putri nya Papa Rafina juga sempat melirik kiri kanan ternyata benar apa kata putri nya.
Nengsih bangkit dengan wajah memerah menatap Rafina dengan sinis, " Kamu membela laki laki ini!? "ucap Ningsih sambil nunjuk muka Papa Rafin lagi.
Rafina juga menatap Nengsih sungguh saat ini Ia tidak punya pilihan harus memilih siapa, Rafina diam.
" Neng Kita harus menyelesaikan ini!, ikut Aku Neng kita bicara ya? " ucap Papa Rafina langsung bangun dari duduk ingin menarik tangan Nengsih ikut bersama nya tapi lagi lagi Ningsih menepis kasar.
" Cih...pergi sana Aku gak sudi, cinta ku sudah lama matiiiii... " jerit Nengsih kayak orang kesurupan, membuat Papa Rafina yang baru beberapa langkah berhenti mematung.
" Huaaaa... sudah lah Buk Fina malu, cukup Buk selesaikan masalah kalian " bentak Rafina sudah gak sanggup menahan Diri, Rafina menangis tersedu. Alex hanya bisa menggengam tangan Rafina untuk memberi kekuatan agar kekasih nya sabar.
Dengan penuh sesal Nengsih melihat sekeliling ternyata benar apa kata Rafina saat ini mereka jadi tontonan beberapa pengunjung cafe, " maaf kan Ibuk Fin "ucap nya lirih lalu pergi.
Alex termangu dalam geram ingin rasanya mematah kan tangan Nengsih yang udah lancang menampar pipi wanita tercinta nya, hati nya teriris karena tidak bisa melakukan apa apa untuk membela Rafina.
Rafina tersedu tidak menyangka kebahagian hanya mampir sebentar, "sudah Sayang istifar biar lebih tenang " Alex mengusap pipi Rafina dengan hati sedih.
" Hu... kenapa nasib Ku begini Lex apa Aku gak berhak bahagia baru saja aku senang karena hidup Ku komplit punya kedua orang tua, tapi kenapa cuma seaat " rintih Rafina.
__ADS_1
Alex bersimpuh di depan Rafina, hati nya ikut sedih dan perih, Alex menggenggam kedua tangan Rafina. wajar kalau perempuan di hadapan nya ini menangis hidup nya memang terlalu pahit, tidak ada kata yang terucap dari bibir Alex hanyaJanji dalam hati akan melindungi dan memberi kasih sayang yang besar.
Di luar Nengsih sengaja menyusul laki laki paruh baya itu, " Hey...Ronal bajingan " teriak nya menghentikan pergerakan Ronal yang hendak membuka pintu mobil.
Ronal berbalik tidak jadi membuka pintu, bergidik tatapan Nengsih begitu nyalang menyeram kan seolah ingin merobek Dirinya tampa sisa.
" Neng sabar Ya, Mari ikut Aku kita bicara baik baik " ucap Rolan lembut.
" Cih... apaaa... bicara kata mu, Aku sudah muak dengan janji janji manis Kamu, Kamu itu tidak lebih dari manusia berhati iblis" teriak Nengsih geram sambil mengepal kedua tangan nya dengan kuat.
" Maki lah Aku sesuka Mu Neng, Aku memang pantas kamu maki, Aku memang pantas kamu ludahi " ucap Ronal pasrah rasa bersalah yang menghimpit karena sudah begitu jahat mengabaikan Nengsih dulu.
Nengsih terdiam dengan tutur kata Ronal , " Apa ini kenapa Dia pasrah, perubahan apa ini apa karena sudah merasa tua atau hanya taktik licik nya " batin Nengsih sambil menatap lekat wajah Ronal.
" tidak ada perubahan masih tetap tampan dari dulu, " bisik hati Nengsih mengagumi " ahh...kenapa Aku ini apa Aku masih ada rasa sama Dia!?, ahhh....tidak akan " batin nya lagi.
Bagaimana pun Nengsih tidak ingin mengalami kepahitan seperti dulu, Nengsih sengaja mengingat kejadian lalu agar hati nya sadar kalau Ia dulu pernah di sakiti dan campakkan.
" Neng Ikut Aku ya?, kita perlu membicarakan kesalah pahaman ini " bujuk Ronal, sadar Ia terlalu banyak salah hanya dengan mengajak Nengsih berdamai dan kembali seperti dulu agar bisa menebus kesalahan yang pernah di buat, Nengsih diam sesaat " baik lah " batin Ningsih lalu mengagguk mereka memang harus bicara.
__ADS_1