
***
Alina menghampiri Pras yang duduk di kursi roda, lalu duduk berjongkok didepan pria itu. Dengan menahan rasa sabarnya, Alina menatap lembut manik mata yang tengah menyorot tajam ke arah nya itu lalu menggenggam erat tangan Pras yang terasa begitu dingin.
"Jangan disini, please. Di Rumah saja, ya?" pinta Alina dengan wajah yang memelas.
Berharap Pras mau menurunkan ego nya dan menunggu sampai mereka tiba di rumah jika memang ingin marah dan memulai kembali pertengkaran yang sudah seminggu ini tidak mereka lakukan.
Deg...
Jantung Pras berdenyut, seolah terhenti berdetak saat netranya bertemu dengan manik mata indah milik Alina yang saat ini tengah memohon sesuatu lewat tatapan matanya.
"Kita ke mobil sekarang," titah Pras setelah beberapa detik saling bertatapan dengan Alina.
Alina sendiri, hanya bisa tersenyum lega setelah Pras beranjak dengan bantuan Wahyu yang mendorong kursi roda nya.
"Aku pergi dulu ya Den. Terima kasih sudah datang di acara ku ini," ucap Alina berpamitan dengan pemuda yang sudah lama menjadi sahabat untuknya itu.
"Ok, hati hati. Kabari aku jika kamu butuh bantuan,"
"Ok, makasih ya. Dah,"
Alina langsung menyusul Pras yang sudah masuk kedalam mobil yang akan membawa mereka pulang ke rumah utama.
Alina sempat terlihat kaget saat masuk ke bagian belakang mobil, di sana ada satu buket bunga yang begitu cantik dengan bunga yang merupakan bunga kesukaan dari Alina.
Alina sedikit menggeser buket bunga dengan ukuran yang cukup besar itu agar bisa duduk di jok yang di tempati oleh buket bunga itu.
"Ini buket bunga buat siapa Mas? Kok masih disini? Belum di kasih ke pemiliknya ya?" tanya ALina membuka suara nya lebih dulu setelah beberapa menit berlalu dalam kebisuan.
__ADS_1
"Sudah nggak dibutuhkan, orang nya sudah dapat buket dari orang lain," jawab Pras tanpa menoleh sedikit pun ke arah ALina.
"Oh, padahal buketnya cantik banget. Sayang ya?" lanjut Alina terlihat begitu senang melihat buket bunga itu.
"Sini, biar aku buang saja. Toh tidak dibutuhkan lagi,"
Pras pun langsung mengambil buket bunga itu lalu bersiap membuka jendela mobil untuk membuang buket bunga itu.
Namun dengan sigap Alina merebut buket bunga itu dari tangan Pras yang hampir saja melempar buket bunga itu ke pinggir jalan.
"Jangan, kok di buang sih? Sayang banget, mana cantik gini buket. Buat aku aja,"
"Itu bukan untuk kamu kenapa kamu ambil? Buang saja, toh orang yang dituju sudah tidak membutuhkan nya lagi,"
"Tidak, jika Mas Pras ingin membuang buket bunga ini. Ya , anggap saja sudah membuang nya ke tempat sampah dan aku menemukan ini dari tempat sampat. Bereskan?"
Mendengar hal itu, Pras hanya bisa terdiam lalu membiarkan Alina memiliki buket bunga itu. Toh sejak awal dibeli memang buket bunga itu diperuntukkan untuk Alina.
Sisa perjalanan menuju ke rumah, mereka habiskan dengan kesunyian. Pras yang sibuk dengan ponsel di tangan nya sampai tidak menyadari jika Alina sudah tertidur dengan memeluk buket bunga yang tadi direbut paksa dari tangan Pras karena pria itu akan membuang nya,
Kedua sudut bibir Pras terangkat ke atas saat melihat bagaimana eratnya Alina memeluk buket bunga itu saat dia tertidur lelap.
Pras pun segera membuka jas kerja miliknya lalu menyampirkan di tubuh Alina untuk membuat tubuh wanita itu sedikit hangat karena udara didalam mobil cukup sejuk karena ac didalam nya dalam ke adaan menyala.
Dan setelah hampir satu jam dalam perjalanan, akhirnya mobil yang membawa ALina dan juga Pras tiba dihalaman luas rumah utama.
Setelah memarkirkan mobil nya dengan benar, Wahyu pun segera turun untuk membantu atasan nya itu turun dari mobil lalu berpindah ke kursi roda.
"Lalu, bagaimana dengan nona Alin tuan?" tanya Wahyu saat melihat istri dari atasan nya itu masih tertidur lelap didalam mobil.
__ADS_1
"Bantu aku mengangkat tubuhnya, lalu turunkan di pangkuan ku." titah nya yang membuat Wahyu sedikit tersentak kaget.
"Tapi tuan, bagaimana dengan kaki anda? Menahan beban berat akan berbahaya untuk kaki tuan," jawab Wahyu sedikit memprotes tindakan Pras saat ini.
Dimana dirinya ingin membawa tubuh ALina yang tengah tertidur lelap di atas pangkuannya.
"Tidak apa apa, toh ini dilakukan hanya sekali. Ayo cepat, hari sudah kian larut dan kami butuh istirahat," titahnya lagi tanpa mau dibantah.
Akhirnya., dengan berat hati Wahyu pun mulai mengangkat tubuh Alina lalu memindahkan nya ke atas pangkuan Pras yang duduk di kursi rodanya.
Wahyu pun membantu mendorong kursi roda itu dengan sedikit menggunakan tenaga karena bebat yang ada diatas kursi roda itu bertambah dengan adanya Alina diatas pangkuan Pras.
"Sudah cukup, kamu boleh pergi," titah Pras pada Wahyu setelah berhasil membantu nya tiba didalam kamar.
"Tapi, bagaimana dengan nona ALina tuan?" tanya Wahyu yang terlihat begitu khawatir dengan kondisi sang atasan.
Pasalnya, saat ini ALina masih berada di atas pangkuan Pras dan masih tertidur lelap.
"Biarkan saja, nanti akan aku membangunkannya. Pulang lah, dan kembali lagi besok untuk menjemput ku,"
"Baiklah, kalau begitu saya permisi,"
Wahyu pun akhirnya keluar dari kamar milik atasan nya itu lalu menutup rapat pintunya. setelah memastikan pintu itu kembali tertutup rapat dan Pras mendengar langkah kaki yang kian menjauh, barulah Pras mulai menurunkan kakinya dari kursi roda itu.
Pras langsung mengangkat tubuh Alina yang masih lelap dalam tidurnya. Menjelang sidang, ALina memang kerap bergadang demi memastikan jika tugas skripsi nya bisa lolos dan dirinya lulus dari bangku perkuliahan.
Oleh karena itu, kini ALina yang tampak kelelahan itu tidak terusik sedikit pun saat tubuhnya di angkat untuk dipindah tempat kan ketempat yang jauh lebih nyaman.
*
__ADS_1
***