Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.19


__ADS_3

***


"Biarkan mereka bicara,"


"Tapi__,"


"Tenanglah. Menantuku hanya satu, dan itu hanya kamu,"


Itulah bisikan yang di lakukan oleh Ayah Bara pada Dipta saat mengajak pria itu masuk kedalam rumah dan meninggalkan Raya dan juga tamu nya.


Hingga Dipta pun mau menuruti sang mertua dan meninggalkan Raya untuk berbicara dengan tamu yang sudah lama menunggu kepulangan nya.


Sementara Raya sendiri hanya bisa diam di tengah kebingungan dan juga rasa tidak enak hati pada Dipta maupun pada Indra.


"Jadi dia, pria yang sudah menghalalkan kamu Raya?" tanya pria itu yang membuat Raya langsung menoleh ke arah nya.


"Iya, maaf. Tapi inilah kenyataan nya Mas, sudah aku katakan bukan, jika aku ini seorang istri. Kami menikah di usia yang masih sangat muda, hingga kami menemukan titik di mana kami harus saling introspeksi diri dan memperbaiki diri masing masing. Itulah kenapa kami dulu hidup terpisah, Mas Dipta juga tidak mau menjadi penghalang untuk aku dalam menggapai cita cita dan impianku. Makanya dulu dia mengijinkan aku tinggal jauh dengan nya meski itu tidak mudah untuk kami,"


Garis kekecewaan tergambar jelas di wajah Indra tatkala mendapati kenyataan jika wanita yang sudah mencuri hatinya itu sudah di miliki pria lain.


“Baiklah, aku percaya. Aku harap, kamu selalu bahagia dan pernikahan kalian senantiasa langgeng selalu. Kalau begitu, aku pamit ya? salam buat Ayah dan Bunda, permisi. Assalamu’alaikum,”


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,”


Raya menatap sendu kepergian pria yang sudah dua tahun ini mengejar cinta nya. Sayang, hati Raya sudah lama dimiliki pria yang saat ini masih berstatus suami untuknya.


Hingga Raya pun tidak ada minat sedikit pun untuk membuka hati pada pria itu. Meski pria bernama Indrawan itu begitu baik dan bertanggung jawab.


Namun, entah mengapa Raya sama sekali tidak terpikat sedikitpun oleh pria itu. Hatinya sudah terpaut kuat pada sahabat yang kini juga adalah suami untuknya.


Sungguh, tidak ada niat untuk menyakiti hati pria baik hati itu. Namun, perasaan tidak bisa di paksakan. Raya benar benar tidak bisa membuka hati pada pria lain lagi.


Selain karena masih terikat pernikahan, hatinya juga masih di penuhi oleh seorang Pradipta Dwian Wiratama.


*

__ADS_1


*


*


Sepeninggalan Indra, Raya pun kemudian masuk kedalam rumah, mengikuti jejak Dipta yang sudah lebih dulu masuk bersama dengan Ayah Bara. Namun saat masuk kedalam rumah, kening Raya dibuat mengerut tatkala tidak mendapati ayah dan juga suaminya di ruang tamu.


Namun, samar samar Raya bisa mendengar perbincangan hangat yang berasal dari ruang keluarga. Raya pun melangkahkan kakinya menuju ke ruangan di mana Dipta dan sang ayah tengah berbincang bersama.


"Tamu nya sudah pulang Ay?" Tanya ayah Bara pada putrinya saat melihat putrinya itu datang ikut bergabung di ruang keluarga.


"Sudah ayah, baru saja." Jawab Raya sambil mendudukkan dirinya di sofa di samping sang ayah.


"Kalian sudah makan?" Tanya ayah Bara lagi.


"Sudah Ayah tadi, di tempatnya Edo dan Hani," Jawab Raya benar adanya.


"Baiklah, kalau begitu kalian istirahatlah ini sudah malam. Raya, bawa suamimu istirahat di kamar. Sepertinya Dipta terlihat lelah sekali," Titah ayah Bara yang membuat Raya dan Dipta tersentak kaget.


"Apa?" Ucap keduanya secara bersamaan.


Seketika, baik Dipta maupun Raya hanya bisa saling lirik. Menatap bingung satu sama lain, melihat kecanggungan diantara putri dan juga menantunya. Ayah Bara pun kembali angkat bicara.


"Raya, sudah waktunya kamu mulai belajar menjadi seorang istri sayang. Dipta sudah melakukan tugas dan kewajiban nya sebagai seorang suami dengan memberikan mu nafkah. Bahkan, seluruh biaya kuliahmu dulu Dipta lah yang membayarnya. Kini, masa pendidikan mu telah usai, sudah waktunya kamu melakukan tugasmu sebagai seorang istri. Ingat, kalian hanya berpisah bukan bercerai. Bahkan Dipta tidak pernah mengikrarkan kata talak untukmu maka, kamu wajib melakukan tugasmu sebagai seorang istri Nak." Jelas ayah Bara.


Dipta dan Raya sama sama terdiam. Keduanya sama sama berpikir, benar kata Ayah Bara. Mungkin sudah waktunya mereka mulai menjalani pernikahan ini dengan sesungguh sungguh nya.


"Tapi Ayah, ada sedikit ganjalan di hati Dipta. Apa boleh Dipta ungkapkan?" Tanya Dipta akhirnya membuka suaranya.


"Tentu saja, apa itu? Katakan lah,"


"Dipta merasa belum layak menjadi suami untuk Raya. Dipta bahkan belum melamar dan meminta restu dengan cara yang benar untuk mempersunting Raya, Ayah."


"Jadi itu yang menjadi ganjalan di hatimu?"


"Iya Ayah,"

__ADS_1


"Dipta, sejak Ayah menjabat tanganmu di malam kamu mengucap kabul atas nama putriku. Restuku dan restu Bunda Aulia sudah kamu dapatkan Nak. Ayah percaya, kamu adalah pria terbaik yang ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi imam dan kepala rumah tangga di dalam rumah tangga putriku. Maka, tugas kalian sekarang adalah. Jalani pernikahan ini dengan sungguh sungguh, rawat dan jaga ikatan suci kalian ini agar langgeng hingga hanya maut yang memisahkan. Mulai malam ini, Ayah serahkan tanggung jawab putri Ayah padamu. Jaga dia, lindungi dia, sayangi dia layaknya kami menyayangi dia, cintai dia dengan setulus hatimu. Jangan sakiti dia, jika kamu sudah tidak menginginkan nya lagi. Tolong, kembalikan dia pada kami tanpa harus menyakitinya. Mengerti?"


"Mengerti Ayah, insya Allah. Dipta akan selalu berusaha menjadi suami yang terbaik dan bertanggung jawab untuk Raya. Dipta akan mencintai Raya dengan sepenuh hati Dipta,"


"Bagus, Ayah pegang janjimu Nak. Sekarang, istirahatlah. Bawa suami kamu ke kamarmu Nak," titah Ayah Bara lagi dan di angguki oleh Raya.


"Iya Ayah, baiklah. Ayo Mas, kita istirahat?"


"Iya, kami pamit dulu Ayah. Selamat malam dan selamat beristirahat,"


"Iya Nak, istirahat lah. Ayah juga lelah dan akan menemui Bunda mu di kamar,"


Raya pun akhirnya membawa Dipta ke kamarnya untuk beristirahat. Dan tentu saja kecanggungan terjadi pada keduanya di saat untuk pertama kalinya lagi mereka tidur satu kamar.


Ceklek


"Assalamu'alaikum, silahkan masuk Mas," ajak Raya membuka kan pintu kamarnya untuk Dipta.


"Assalamu'alaikum," ucap Dipta saat masuk kedalam ruang pribadi sang istri untuk pertama kalinya sepanjang mereka saling mengenal.


Pasalnya, meski mereka saling kenal lama dan bersahabat baik. Namun mereka sama sama tidak pernah melewati batas dengan menjaga privasi masing masing.


Seketika, Dipta dibuat kagum saat masuk kedalam kamar yang begitu rapih, bersih dan juga wangi yang khas dari parfum milik Raya.


"Eemm, Mas mau mandi dulu atau langsung istirahat?" tanya Raya tiba tiba kembali di buat canggung dan kaku saat harus satu ruangan bersama dengan Dipta.


"Aku biasanya mandi dulu, tapi aku tidak bawa baju ganti,"


"Oh, baiklah. Biar aku pinjamkan baju Ayah saja, gimana? Pasti tidak akan nyaman jika tidak bersih bersih dan ganti baju,"


"Boleh, maaf ya sudah merepotkan,"


*


*****

__ADS_1


__ADS_2