Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Part.41


__ADS_3

***


Tok


Tok


Tok


"Permisi Den, maaf mengganggu. Ini non Alesya nya bangun dan nangis,"


Seketika, Pras harus menghentikan pergerakan nya yang tengah menciumi leher jenjang Alina yang saat ini sudah berbaring di bawah kungkungan nya.


"Ma_Mas, Alesya bangun," lirih Alina yang langsung mendorong tubuh Pras agar menyingkir dari atas tubuh nya.


Pras tampak menghela napas kasar saat harus dengan terpaksa menghentikan aktifitasnya karena seruan yang dilakukan oleh Mbok Darmi dari luar kamarnya.


Sementara Alina, langsung bangun dari tidurnya dan bergegas, berlari menuju ke arah pintu untuk membukakan pintu kamar itu.


"Hei Sayang, Anak Mama sudah bangun ya? sini sama mama sayang," ucap Alina saat membuka pintu kamar dan melihat Mbok Darmi Tengah menggendong si kecil Alesya.


"Terima kasih ya Mbok, Maaf sudah merepotkan," lanjut Alina pada Mbok Darmi yang sudah membantu menjaga dan membawakan Alessia ke kamarnya.


"Sama-sama non, kalau begitu Si Mbok balik lagi ke dapur ya Non? mau lanjutin masak," jawab Mbok Darmi.


"Iya Mbok, silakan. Maaf sudah mengganggu waktu kerja Mbok,"


"Tidak apa-apa non, itu sudah jadi kewajiban saya. Kalau begitu, saya Permisi non?"


"Iya Mbok, silakan."


Alina pun langsung membawa masuk si kecil Alesya yang sudah mulai terlihat tenang dan berhenti dari menangis saat sudah ada di dalam gendongan Alina.


"Anak papa kenapa? kok tiba-tiba rewel?" tanya Pras yang menghampiri Alina yang tengah menggendong Alesya lalu mengambil alih tubuh putrinya itu dari gendongan Alina.


Pras membawa si kecil Alesya ke arah ranjang miliknya, lalu mengajak bermain balita itu. Sementara Alina sendiri, mulai merapikan barang-barang yang tadi sudah dibawakan oleh Mbok Darmi ke dalam kamarnya.


"Memangnya kita akan Berapa lama di sini Mas? kok barang-barangnya banyak sekali?" tanya Alina saat mulai membereskan barang-barang yang dibawa tadi.

__ADS_1


"Rencananya sih 3 hari, tapi kita lihat saja nanti jika masih nyaman dan merasa betah di sini mungkin bisa nambah hari," Jawab Pras tanpa mengalihkan perhatiannya dari si kecil Alesya.


"Memangnya tidak apa-apa kita lama disini? Mas kan harus ke kantor?" tanya Alina lagi.


"Suamimu ini pemilik perusahaan itu Sayang. Jadi kamu tidak harus mengkhawatirkan hal itu. Aku tidak akan dipecah hanya gara-gara aku tidak masuk satu minggu. Bahkan absen satu bulan pun tidak masalah, selama masih ada benda ini di sampingku," jawab Pras yang mulai menyombongkan dirinya yang memang seorang CEO perusahaan, sambil menunjuk sebuah laptop yang tersimpan di atas nakas samping tempat tidur.


Alina tampak Mencebik sebal saat mendengar Pras mulai menyombongkan dirinya. Namun apa yang di katakan oleh Pras memang benar adanya.


Pria yang sudah menikahi nya itu adalah seorang pemilik perusahaan. Yang tentu saja bisa melakukan apa yang dia inginkan sesuka hatinya.


Meski begitu, Pras tetap bertanggung jawab pada pekerjaan nya. Buktinya pria itu selalu membawa laptop miliknya kemana pun dia pergi demi bisa memantau pekerjaan nya dimana pun dia berada.


Keluarga kecil itu pun tampak menghabiskan waktu bersama. Sebenarnya Pras ingin sekali mengajak Alina berbulan madu.


Namun, hal itu belum bisa dia lakukan sekarang karena si kecil Alesya yang masih belum bisa berjauhan lama lama dari Alina.


Hingga akhirnya Pras pun mengajak keluarga kecil nya untuk berlibur di villa miliknya. Usai bermain di dalam kamar, Pras mengajak anak dan istri nya berjalan jalan di sekitar villa sambil menunggu waktu makan malam tiba.


Alina dan si kecil Alesya tampak menikmati udara sejuk dan indahnya pemandangan sore di sekitar villa. Rasanya begitu tenang dan damai.


Pras sendiri tidak pernah melepaskan genggaman tangan nya di tangan mungil Alina. Ketiga nya kembali setelah hari mulai menggelap.


Yang malam itu makan satu meja dengan Alina dan juga Pras karena Alina yang memaksa pasangan pasutri itu untuk makan bersama mereka.


Usai menyelesaikan makan malam nya, Pras pun segera membawa istri dan anak nya masuk kembali ke dalam kamar.


"Bersih bersih dulu, Alesya biar kan sama Mas," ucap Pras mengambil alih Alesya dari pangkuan Alina.


"Baiklah, titip Ale ya. Aku mau bersih bersih dulu,"


Alina pun langsung pergi ke kamar mandi setelah Alesya berpindah tangan ke tangan Pras. Sementara Pras sendiri langsung membawa putri kecilnya itu ke arah ranjang dan mencoba menidurkan si kecil Alesya agar segera tertidur.


Cukup lama Alina menghabiskan waktu untuk membersihkan diri nya. Dan saat Alina keluar dari kamar mandi, Alina melihat jika Pras sudah tertidur dengan memeluk tubuh mungil putri nya.


Alina berjalan mendekati ranjang, lalu menatap penuh haru pada Pras dan juga Alesya. Alina bersyukur karena saat ini, Alesya sudah mulai dekat dengan Pras.


Bahkan gadis kecil itu sekarang sudah bisa tertidur tanpa dirinya. Merasa jika tubuh nya juga merasa lelah. Alina pun akhirnya membaringkan tubuh lelah nya di samping Alesya.

__ADS_1


Ketiga nya pun tertidur lelap dengan posisi Alesya yang berada ditengah tengah antara Pras dan juga Alina.


*


*


Pagi hari nya...


Alina mengerjapkan matanya saat mentari pagi mulai menyapa wajah cantik nya. Alina meregangkan tubuh nya yang terasa kaku dan pegal.


Alina juga baru tersadar jika ada sesuatu yang berat menindih tubuh nya, di bagian perut. Alina tersenyum saat melihat tangan kekar Pras lah yang tengah menindih perut nya saat ini.


Pria itu rupanya tengah memeluk tubuh nya dari arah belakang. Senyum Alina semakin mengembang saat melihat wajah cantik putrinya yang masih terlelap di samping sebelah kiri nya.


Alina pun bergerak mengubah posisi nya hingga kini dia berhadapan dengan Pras. Alina menatap lekat wajah tampan yang masih terlelap itu.


"Sudah puas belum menatap nya? Apa aku setampan itu hingga membuatmu tidak berkedip?"


Deg


Alina tersentak kaget saat mendengar suara serak milik Pras. Alina pikir suaminya itu masih tertidur hingga dia bisa menatap wajah tampan itu dengan bebasnya.


Namun siapa sangka jika pria itu ternyata sudahlah terbangun dan memergoki nya tengah menatap lekat wajah tampan Pras.


"Morning sayang," lanjut Pras yang kini sudah membuka matanya.


"Mas sudah bangun?" tanya Alina menekan rasa malunya karena kepergok Tengah menatap wajah Pras saat tertidur.


"Tentu saja Mas sudah Bangun, makanya Mas bisa tahu kalau saat ini Mas Tengah diperhatikan oleh seseorang," Sindir Pras yang membuat semburan merah muncul di wajah Alina.


"Maaf," lirih Alina menundukkan kepalanya karena takut Pras kembali marah dengan apa yang dilakukannya.


Namun di luar dugaan Pras malah menarik tubuh Elina masuk ke dalam pelukannya. Lalu mencium kening sang istri.


"Kenapa harus minta maaf? kamu bebas melakukan apapun padaku. Aku Milikmu sayang," bisik Pras tepar di telinga Alina yang membuat tubuh Alina meremang seketika.


*

__ADS_1


*****


__ADS_2