Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.28


__ADS_3

...***...


.


Baik Sulis mau pun Haris sama sama terdiam membeku dengan pandangan sama sama tertuju pada orang yang berdiri didepan mereka kini.


Niat hati menenangkan diri dengan berjalan jalan di tepi pantai, Haris malah menemukan apa yang dia cari selama empat bulan terakhir.


Pandangan Haris pun kini tertuju pada perut Sulis yang sudah terlihat membuncit di balik dress yang dia kenakan saat ini.


Suara deburan ombak dan juga kencang nya angin laut menjadi saksi bertemu nya dua makhluk adam itu.


Haris melangkah maju, mengikis jarak antara dirinya dan juga Sulis. Sementara Sulis sendiri hanya bisa diam terpaku menatap pria yang selama ini dia rindukan itu tengah berjalan maju mendekati nya.


Tidak ada kata yang terucap dari mulut keduanya. Namun, pelukan hangat dan juga erat yang diberikan oleh Haris mampu menumpahkan air mata yang selama ini berhasil ditahan oleh Sulis agar tidak tumpah dan membasahi wajah cantiknya yang mulai terlihat chubby.


“Akhirnya, aku menemukanmu sayangku,” bisik lirih Haris kian membuat tangis Sulis pecah di dalam dekapan sang mantan kekasih sekaligus calon ayah dari anak yang saat ini tengah dia kandung.


Haris pun membiarkan sang pujaan hatinya menumpahkan semua sesak di dadanya dengan isak tangis. Bahkan Haris membiarkan kaos yang dia kenakan sampai basah oleh air mata Sulis.


Setelah beberapa menit berdiri dengan saling memeluk dan setelah menyadari kondisi Sulis saat ini. Akhirnya Haris pun membawa Sulis kedalam kamar nya untuk melanjutkan berbicara dengan calon ibu dari anak nya itu di sana.


Haris juga tidak mau Sulis merasa tidak nyaman jika harus terus berdiri dengan kondisi hamil seperti saat ini, hingga Haris pun memutuskan untuk membawa Sulis ke dalam kamar nya.


Sulis yang sudah menahan rindu yang teramat sangat besar pada pria yang berhasil menitipkan benih di rahimnya pun hanya bisa pasrah saat tangan nya di gandeng untuk dibawa masuk kedalam kamar si pria.


Haris beranjak mengambil satu botol air mineral di atas meja setelah mendudukkan Sulis di bibir ranjang yang ada di dalam kamar yang akan dia tempati.


“Ini, minumlah dulu,” ucap Haris menyodorkan botol air mineral itu setelah membantu membukakan tutup botolnya.


Tanpa kata, Sulis pun meraih botol minum itu lalu menenggak isinya demi menetralkan kembali perasaan nya yang kini bercampur aduk.


“Sudah lebih tenang?” tanya Haris setelah Sulis menyimpan botol minum itu di atas nakas yang ada di samping ranjang.


Sulis mengangguk, kepalanya tetap saja menunduk. Enggan menatap wajah tampan yang begitu dia rindukan namun harus dia tahan mati matian karena tidak ingin mengganggu kebahagiaan pria itu bersama dengan istrinya*.

__ADS_1


*(pikir Sulis, Haris sudah menikah).


“Bisa kita mulai bicara?” tanya Haris lagi yang dijawab oleh Sulis dengan sebuah anggukan kepala yang begitu lemah dan lemas.


Haris semakin mendekatkan posisi duduknya, tangannya terulur menyentuh lalu mengusap lembut perut Sulis yang sudah terlihat membuncit meski masih dengan ukuran yang kecil.


Deg


Jantung Sulis berdebar kencang saat tangan kekar dan hangat milik Haris berada di permukaan perutnya.


Ada perasaan yang sulit di artikan manakala tangan itu terus bergerak menyapa si buah hati yang tengah tubuh di dalam sana.


“Berapa bulan usia nya sekarang?” tanya Haris, pelan namun masih terdengar di indra pendengar Sulis.


“Li_lima,” jawabnya lirih dan juga serak, sisa menangis histeris tadi.


“Bagaimana keadaan nya? sehat?”


“I_iya, semua baik baik saja. Dokter bilang, dia juga tumbuh dengan baik dan sehat,”


Pria yang berstatuskan seorang dokter itu pun kini berjongkok di depan wanita yang tengah mengandung buah hatinya itu.


“Halo anak Papa, apa kabar Nak? ini Papa sayang,” ucap Haris dengan suara bergetar saat berhadapan dengan perut Sulis.


Seketika, Haris merasakan pergerakan dari perut Sulis saat dia menyapa calon anak nya itu. Meski pergerakan itu terasa masih sangat lemah, namun bisa dipastikan jika calon bayi mereka itu tengah merespon sapaan dari calon ayah nya.


“Dia, dia bergerak sayang. Dia bergerak,” ucap Haris begitu antusias saat merasakan pergerakan dari calon anak yang ada di dalam perut Sulis.


Sulis hanya mengangguk dengan senyum getir terpasang di wajah cantiknya yang kini telah berisi. Tidak lagi tirus seperti dulu, saat sebelum hamil anak Haris.


“Kamu, sedang apa disini Ris? apa sedang berbulan madu?” tanya Sulis yang pada akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


“Bulan madu? mana bisa bulan madu, calon istrinya saja baru ketemu. Memang bisa ya bulan madu sebelum menikah?”


“Hah? maksudnya?”

__ADS_1


“Bulan madu dari mana? kamu nya aja baru ketemu setelah beberapa bulan menghilang. Mana bisa bulan madu kalau calon pengantin nya saja bersembunyi terus,”


“Kamu ngomong apa sih Haris? ngaco deh,”


“Ssttt, nggak boleh panggil nama sama calon suami. Pamali, biasakan panggil Mas atau Papa, mau Ayah atau Daddy juga boleh,” jawab Haris yang membuat kedua alis Sulis kian menyatu.


“Kamu ngomongin apa sih Haris? aku nggak ngerti,” tanya nya lagi manahan kesal di dada.


“Ets, sudah di bilang sama calon suami tidak boleh panggil nama juga. Pamali sayang, jadi biasakan panggil Mas ya?”


“Bisa jelaskan, apa maksud nya ini?” tanya Sulis lagi.


Tanpa merubah posisi nya yang tengah berjongkok di depan Sulis, Haris pun mulai menceritakan bagaimana dirinya yang gagal menikah dan meminta ijin serta restu kepada kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Sulis untuk menikahi wanita yang akan menjadi ibu untuk anak nya itu.


Seketika tangis Sulis pun kembali pecah setelah mendengar penjelasan dari Haris. Dia tidak menyangka jika kedua orang tua Haris akhirnya mau memberikan mereka restu meski mereka akan menikah dengan dua keyakinan yang berbeda.


“Jadi bagaimana?”


“A_apa nya?”


“Kamu, mau kan menikah denganku?”


“Apa masih harus dijawab? perut aku sudah segede gini karena ulahmu, masih juga dipertanyakan? menyebalkan,” gerutu Sulis memukul dada bidang Haris dengan sisa tenaga yang dia punya karena terus menangis, hingga tenaga nya ikut terkuras habis.


Haris tertawa lepas saat mendengar jawaban dari Sulis perihal lamaran nya pada wanita itu, dan hal itu malah semakin membuat pria itu merasa gemes pada wanita yang kini berwajah chubby itu.


Haris tidak menyangka jika wanita hamil akan terlihat sangat menggemaskan di saat marah atau merajuk. Tidak menyia nyiakan kesempatan, Haris pun kembali menarik tubuh Sulis untuk masuk kedalam pelukan nya.


“Terima kasih karena sudah mempertahankan nya. Aku sangat mencintaimu Sulistia,”


“Aku juga, sangat mencintaimu Haris Wicaksono,”


*


*****

__ADS_1


__ADS_2