Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.11


__ADS_3

..."Disaat baca bab ini, jangan protes dulu ya. Soalnya next ada penjelasannya kok. Dan insya Allah akan ada flash back nya juga. Jadi mohon untuk bersabar ya, love banyak banyak untuk kalian reader ku sayang. 🥰🥰🥰."...


Markijut (Mari Kita Lanjut...)


.


***


Raya menghela nafas lelah nya saat keluar dari kelasnya mendapati Dipta sudah berdiri dengan senyum yang sangat menyebalkan di mata Raya.


Kenapa begitu? Tentu saja menyebalkan, pasalnya. Jika Dipta sudah tersenyum seperti itu maka ada makna lain dari senyum manis pemuda itu.


"Aina tidak masuk sekolah, katanya dia sakit dan selama 3 hari ke depan tidak akan masuk sekolah," jelas Raya tanpa di minta oleh Dipta.


Dan itulah yang dimaksud senyum manis Dipta penuh makna. Senyum itu adalah tanda jika pemuda itu tengah meminta informasi tentang gadis yang dia sukai.


"Sakit? Sakit apa?" tanya Dipta dengan wajah cemasnya.


"Mana gue tahu,"


"Eh, bahasanya? Kok gitu?"


Seketika Raya pun menutup mulutnya menggunakan kedua tangan nya. Raya pun melirik ke kiri dan ke kanan guna memastikan tidak ada orang yang mendengarnya.


"Maaf, tapi ini kan di sekolah. Nanti teman teman curiga kalau panggil Mas," jawab Raya setengah berbisik.


"Nggak usah panggil Mas juga, tapi jangan lo gue juga ngomong nya. Nanti ke bawa ke rumah di tegur lagi sama Mama,"


"Iya maaf,"


"Ya sudah. Tidak apa apa, eh iya. Antar ke rumah Aina yuk?" ajak Dipta tiba tiba.


"Mau ngapain?"


"Ya jenguk dia lah, kan tadi katanya dia sakit?"


"Nggak ah, cape pengen cepat pulang,"


"Kita kan satu rumah Raya. Kalau kita pulang masing masing, nanti Mama ngomel ke aku lagi."


"Tapi aku cape Dipta,"

__ADS_1


"Bentar aja, yuk ah,"


Akhirnya, seperti biasa. Raya hanya bisa pasrah saat Dipta menariknya untuk ikut bersama dengan nya.


Kedua sejoli itu pun akhirnya pergi bersama menuju ke alamat rumah gadis yang bernama Aina. Gadis yang selama ini di sukai oleh Dipta, dan berharap jika perasaan nya akan terbalaskan.


"Loh, itu bukan nya mobil Pak Gunawan ya? Kok ada di rumah Aina?" tanya Dipta saat mobil yang dia bawa tiba, tidak jauh dari halaman rumah milik Aina.


Dan dapat Dipta dan Raya lihat, jika di halaman rumah Aina ada mobil milik salah satu guru di sekolahan mereka.


Raya sendiri hanya memilij diam dan ikut mengamati pergerakan di dalam sana. Tampak seorang gadis berhijab moca keluar beriringan dengan seorang pria dewasa berusia 30 tahun yang mereka kenal sebagai guru pengganti di sekolah Raya dan Dipta.


Iya, Pak Gunawan Raharja. Seorang pria berusia 30 tahun dan menjadi guru pengganti untuk seorang guru yang tengah mengambil cuti melahirkan.


Namun, entah apa yang membawa pria dewasa yang berstatus duda mati itu ada di rumah salah satu muridnya itu. Aneh nya, Pak Gunawan terlihat begitu sopan kepada kedua orang tua Aina. Bahkan saat akan pergi, pria dewasa itu tak segan segan menyalami tangan kedua orang tua Aina dengan takzim.


"Kenapa mereka terlihat akrab sekali? Tidak seperti guru dan murid?" tanya Dipta lagi yang lagi lagi tidak ada tanggapan apapun dari Raya yang jelas jelas ada di samping nya.


"Loh, mereka mau pergi kemana? Aku harus mengikuti mereka, mereka benar benar mencurigakan," ucap Dipta lagi berbicara seorang diri karena Raya hanya diam saja.


Rasanya lelah sekali melihat pria yang dia cintai malah mencintai wanita lain. Namun, untuk jujur dengan pria itu pun terlalu sulit untuknya. Rasa takut kehilangan pria itu jauh lebih besar dari rasa ingin memilikinya.


'Tidak apa apa tidak memiliki. Asal jangan pergi dan meninggalkan." itulah yang selalu Raya gaung kan dalam hatinya untuk tetap bertahan ada di samping Dipta


Melihat pergerakan mobil milik Pak Gunawan yang membawa Aina pergi. Dipta pun langsung menyalakan mesin mobilnya.


Namun, baru saja akan menginjak pedal gas. Tiba tiba ponsel miliknya berbunyi dan si tengil Edo lah yang tengah menghubunginya.


Klik


"Ada apa bro? Aku sibuk,"


"Datang ke markas sekarang juga. Ini berita heboh dan lo harus tahu sekarang juga." jawab Edo dari ujung sambungan telpon yang di lakukan nya pada Dipta.


"Berita apa?"


"Ini tentang Pak Gunawan dan Aina. Ayo deh, lebih baik lo ke sini sekarang."


"Apa? Ok, ok. Gue kesana,"


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Raya saat Dipta menutup sambungan telponnya.

__ADS_1


Dipta bergeming. Raut wajahnya menunjukan sebuah kemarahan, namun Raya sama sekali tidak tahu apa yang membuat raut wajah pemuda itu berubah seperti saat ini.


Dengan sedikit menaikan kecepatan nya laju mobilnya. Dipta dan Raya pun akhirnya tiba di sebuah bangunan samping gedung sekolahan tempat mereka menimba ilmu.


Saat tiba di sana, Dipta langsung memarkirkan mobilnya di halaman sebuah bangunan berukuran kecil yang terlihat cukup bersih dan rapih. Dipta langsung turun sesaat setelah mematikan mesin mobilnya.


Bahkan pemuda itu langsung turun dan masuk kedalam bangunan kecil yang mereka sebut dengan Markas itu. Tanpa memperdulikan Raya yang masih ada di dalam mobilnya.


Raya sendiri hanya diam saja didalam mobil. Menyandarkan punggung nya di kursi penumpang mobil milik Dipta. Berulang kali dia menghela nafas panjang demi mengurai rasa sesak yang kian menghimpit saat lagi lagi Dipta tidak menghiraukan keberadaan nya.


"Jika rasa ini hanya untuk memberi rasa sakit, kanapa tidak di hilangkan saja ya Allah. Lelah sekali rasanya mencintai orang yang bahkan menyadari keberadaan ku saja tidak," gumam Raya dalam hati menatap sendu bangunan yang baru saja di masuki oleh Dipta.


*


*


Dipta masih diam terpaku di sofa yang sudah sedari tadi dia duduki, keterkejutan nya masih saja belum hilang padahal berita yang baru saja dia lihat sudah selesai di tayangkan dan telah berganti dengan berita lain nya.


"Are you okey?" tanya Edo menepuk pundak Dipta yang masih menatap layar televisi yang ada di depannya.


Dipta bergeming, namun pemuda itu langsung bangkit dari duduknya di sofa lalu beranjak pergi begitu saja.


"Ta lo mau kemana?" tanya Radit saat mendapati pergerakan Dipta yang akan beranjak keluar dari bangunan kecil itu.


"Biarkan dia, dia butuh waktu sendiri buat nenangin diri." cegah Edo saat Radit ikut beranjak dan hendak menghentikan langkah kaki Dipta.


"Tapi di dalam keadaan kalut. Gue khawatir akan terjadi sesuatu pada dia di jalan,"


"Percayalah, Dipta akan baik baik saja. Gue yakin dia tidak akan membahayakan dirinya sendiri,"


Akhirnya Radit pun membiarkan sahabatnya itu pergi. Tidak mudah memang manjadi Dipta. Di saat sayang sayangnya dan cinta cinta nya, eh malah mendapati kenyataan yang teramat sangat menyakitkan tentang gadis pujaan hatinya.


Berbeda dengan Dipta yang tengah merenungi kesakitan nya di apartemen miliknya. Raya sendiri kini tengah berkemas, memasukan semua barang barang milik pribadi nya ke dalam dua buah koper berukuran cukup besar.


Satu bulan sudah berlalu dari pemberitaan heboh mengenai sebuah hubungan rahasia antara guru dan murid terungkap di media sosial. Dan sejak saat itu juga Dipta menghilang dari semua orang termasuk Raya.


Hingga Raya pun akhirnya harus pergi tanpa berpamitan dengan pemuda itu. Rasa sakit dan kecewa yang begitu mendalam membuat Dipta mengurung diri di dalam apartemennya.


Dipta mengabaikan semua pesan dan sambungan telpon dari semua orang termasuk Raya yang berniat berpamitan dengan nya.


"Jika memang jodoh. Semoga kelak takdir mempertemukan kita kembali Dipta, selamat tinggal dan berbahagialah,".

__ADS_1


*


*****


__ADS_2