Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.7


__ADS_3

***


“Kenapa? Kok malah bengong?” tanya Mama Alina lagi saat Dipta hanya terlihat diam, seperti tengah melakukan sesuatu.


“Sebenarnya, Dipta mencintai gadis lain Ma dan Raya tahu itu. Bahkan dia juga sering bantu aku untuk mendekati gadis itu,”


“Siapa dia? teman sekelas?”


“Iya, lebih tepat nya dia teman satu kelas nya Raya, nama nya Aina Puspa. Gadis lucu, baik dan sholehah. Dia bahkan menolak saat aku mengajaknya berpacaran, dia bilang ingin fokus sekolah dulu dan aku menghargai keputusan nya. Tapi aku tidak bisa berhenti mengikuti nya Ma, itulah kenapa setiap hari aku datang ke perpustakaan bersama dengan Raya hanya demi bisa melihat dia,”


“Lalu, apa yang terjadi pada kamu dan Raya? Kenapa bisa ditangkap lalu dituduh melakukan tindakan asusila di sekolah?”


“Hari itu, seperti biasa aku dan Raya pergi ke perpustakaan untuk mengikuti dan melihat Aina. Tanpa disangka sangka, kami ketiduran di sana bahkan sampai terkunci di dalam nya. Saat Pak Toto dan warga memergoki kami, saat itu kami tengah berusaha keluar gedung melalui jendela ventilasi. Aku terpeleset dan jatuh pas di atas tubuh Raya dan mereka yang melihat itu salah paham dengan kami,”


“Lalu, bagaimana perasaan kamu pada Raya sendiri?”


“Jujur Dipta sayang sama Raya, tapi bukan sayang seorang pria pada seorang wanita. Tapi, Dipta menyayangi Raya seperti Dipta menyayangi Keysa dan juga Kak Ale, hanya itu yang Dipta rasakan pada Raya Ma,”


“Kalau begitu, jaga dia. Jangan pernah menyentuh dan merusak nya sampai kamu yakin dengan perasaan kamu. Jika memang bukan wanita yang kamu inginkan, maka lepaskan dia. Biar kan dia bahagia dengan pria yang mencintai nya. Mengerti?”


Deg


Dipta tertegun, dia begitu tersentak kaget saat mama Laras memberikan nya ultimatum untuk tidak menyentuh Raya.


“Mama tahu, kalian sekarang sudah resmi menjadi suami istri dan apapun yang akan kalian lakukan sudah boleh dan halal di lakukan kan. Tapi dengar Kak, kehormatan wanita itu di atas segala galanya. Bukan nya Mama melarang kamu untuk menyentuh istrimu. Tapi, yakinkan dulu tentang perasaan kamu, jangan sampai kamu menyentuh istrimu namun wanita lain yang ada di dalam benakmu. Itu, dosa besar sayang dan untuk itu Mama berencana memisahkan kamar mu dengan kamar Raya,”


“Hah? kok di pisah?”


“Katanya cuma sayang sebatas Adik Kakak? Kamar mau di pisah, lah kok kaget gitu,” gumam mama Alina menyeringai licik melihat reaksi putranya itu.


“Lah kok kenapa? Kalian kan masih sekolah, Mama nggak mau ya sekolah kalian terganggu oleh apapun, dan Mama juga nggak mau buat anak Mama ini jadi seorang pria bajingan. Yang sudah meniduri wanita lalu pergi pada wanita lain yang dia cintai. Dengar Mama Dipta, kalian itu sudah tumbuh beranjak dewasa dan kalian sudah memiliki hawa nafsu yang akan sulit dikendalikan jika tidak dibentengi dengan benar benar. Mama tahu jika kalian sudah boleh melakukan apapun termasuk urusan ranjang, kalian memang berhak untuk melakukan itu karena kalian sudah terikat dengan pernikahan. Tapi, Mama mohon jangan merusak Raya jika bukan dia wanita yang kamu inginkan untuk menjadi pendamping kamu hingga usia kamu menua nanti. Biarkan dia tetap utuh dan menjaga kehormatan nya untuk dia berikan pada pria yang mencintai dia dan tentu saja mungkin Raya cintai. Mengerti?”

__ADS_1


Dipta terdiam, benar apa yang dikatakan oleh Mama Alina. Dipta tidak berhak mengambil apa yang seharusnya milik seseorang yang mencintai Raya dan dicintai juga oleh gadis itu.


Namun, entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati nya yang membuat nya merasa kurang nyaman.


Berbeda dengan Dipta yang tengah termenung di dalam kamar nya, memikirkan apa yang dikatakan oleh sang Mama tadi.


Raya dan teman teman nya tampak tengah menikmati kebersamaan mereka di sebuah mall di pusat kota.


“Habis lulus nanti kamu rencana mau kuliah di mana Ay?” tanya Hani yang saat ini tengah melihat lihat buku tentang bisnis.


Hani dan Sulis rencana nya akan sama sama kuliah jurusan bisnis management. Sama sama anak tunggal dari seorang pengusaha membuat kedua gadis itu tidak punya pilihan lain selain belajar bisnis agar bisa langsung terjun ke perusahaan sang ayah saat lulus nanti.


“Rencana nya sih ke Paris, tapi. Lihat nanti deh,” jawab Raya gamang.


Dan merasa tidak yakin, karena saat ini status nya sudah berbeda hingga tidak bisa menentukan begitu saja apa yang akan dia lakukan. Pasalnya, kini ada seorang suami yang wajib Raya dengarkan pendapat nya.


“Kok kaya nggak yakin gitu sih Ay?” tanya Sulis saat melihat keraguan di raut wajah Raya saat menjawab.


“Serah deh. Yuk ah lanjut, masih banyak buku yang harus aku cari,” lanjut Hani lagi.


Ketiga gadis itu pun kembali fokus pada buku buku yang ada di depan nya. Hingga tanpa sengaja Raya menabrak tubuh seseorang yang berdiri tidak jauh dari Raya yang tengah fokus mencari buku untuk persiapan kuliah nya nanti.


Bruukkk


“Aww, maaf,”


Set


“Aina? kamu di sini juga?” tanya Raya yang tidak sengaja mendapati teman satu kelas nya.


“Iya, kamu lagi cari buku juga?” tanya nya balik.

__ADS_1


“Iya, kamu sama siapa? sendiri?” tanya Raya sambil celingukan mencari orang yang biasanya bersama dengan gadis itu.


“I_iya, sendiri,” jawab nya terbata dan mendadak terlihat gugup.


“Loh, biasanya sama Dodo,” tanya Raya lagi yang biasa melihat Aina pergi bersama dengan seorang cowok melambai bernama Dodo yang merupakan teman satu kelasnya juga.


“Dodo lagi ada acara lain, jadi aku sendirian,”


Drrrtttt


Drrrtttt


Ditengah obrolan Raya dengan Aina, tiba tiba ponsel gadis itu bergetar. Dengan segera Aina mengambilnya dari tas selempang yang saat ini dipakainya.


Ting


[“Aku tunggu di parkiran. Kita pergi ke tempat lain, ingat. Jangan sampai temanmu tahu kita pergi bersama,”] ~ 08xxxx


Usai membaca pesan itu, Aina pun langsung memasukan lagi ponselnya ke dalam tas miliknya. Lalu berpamitan pada Raya untuk pulang lebih dulu.


“Maaf ya Raya, aku duluan. Sudah ditunggu Mama di rumah,” pamit Aina pada Raya.


“Kenapa nggak bareng aja? nanti kita antar kamu sampai rumah, kebetulan kita juga udah selesai kok,” sela Hani yang datang menghampiri dengan setumpuk buku di tangan nya.


“Tidak usah, terima kasih. Aku sudah di tunggu ojol di depan,” tolak Aina halus.


“Oh, ya sudah kalau gitu. Hati hati ya,”


“Iya, aku duluan ya,”


Aina pun segera beranjak, terlebih dulu gadis itu menuju ke arah kasir untuk membayar buku yang akan dia beli lalu setelah itu berlari menuju ke arah lift yang akan membawanya turun ke arah basement mall, dimana seseorang tengah menunggu nya.

__ADS_1


__ADS_2