Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.26


__ADS_3

...***...


.


1 Bulan kemudian…


Di Negara A.


Seorang wanita tampak terduduk lemas di depan closet setelah memuntahkan seluruh isi perutnya.


Sudah satu minggu ini dia mengalami mual dan muntah di pagi hari. Dan aneh nya lagi, dia akan kembali baik baik saja saat hari menjelang siang.


Bahkan dia masih bisa bekerja ke kantor karena memang saat siang hari tubuhnya akan kembali baik baik saja.


Namun tidak di pagi hari. Dimana dirinya harus susah payah menghadapi mual dan muntah yang begitu hebat nya hingga menghabiskan seluruh tenaga nya seperti saat ini.


“Ya Tuhan, semoga ini bukanlah hal yang aku pikirkan selama ini,” gumam nya dengan memegang satu buah benda pipih yang akan menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam benaknya selama satu minggu ini tentang kondisi tubuh nya yang selalu tidak baik baik saja saat pagi menyapa.


Dengan tangan yang gemetar, wanita itu pun mulai memasukan benda pipih kecil itu ke dalam cairan urine yang sudah dia tampung sebelumnya dengan menggunakan toples kecik. Demi mengetahui apa benar apa yang selama ini dia pikirkan.


“Oh ya Tuhan, aku harus apa sekarang?” tanya nya lagi pada dirinya sendiri saat melihat dua garis merah terlihat dengan begitu jelas setelah beberapa saat benda pipih kecil itu berada di dalam cairan urine miliknya.


Matanya tiba tiba saja memanas hingga memunculkan cairan bening yang siap keluar dari mata indahnya disaat mata itu berkedip.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa kamu hadir untuk menemani hari hari ku di sini Nak? Maaf, karena menghadirkan mu di waktu yang salah. Tapi terima kasih, terima kasih karena telah hadir sebagai hadiah perpisahanku dengan Ayahmu, dengan begini. Aku akan mulai mengikhlaskannya bersama wanita pilihan dari Nenekmu sayang."


Gumam Sulis mengusap lembut perutnya yang masih rata. Namun, dibalik perut ratanya itu kini tumbuh nyawa baru hasil dari benih yang di tanam oleh pria yang sangat dia cintai namun tidak bisa dia miliki karena terhalang restu orang tua dari si pria yang menginginkan menantu yang satu iman dengan putra mereka.


*


*

__ADS_1


Sementara di tanah air...


"Aku membatalkan pernikahan ini,"


Deg...


Duaarrrrr


Bagai disambar petir di siang hari, seketika suasana ballroom dimana akan di lakukan ijab kabul antara Haris dan Winda menjadi riuh setelah pria itu dengan lantang membatalkan pernikahan nya di detik detik ijab kabul yang akan dia lakukan.


"Apa yang kamu lakukan Haris? Duduk dan lanjutkan pernikahan ini," sentak Papa Wirya terlihat marah pada putra sulung nya itu.


Sungguh malu sekali rasanya saat putranya membatalkan pernikahannya disaat akan di laksanakan ijab kabul antara Haris dan juga Winda.


Perasaan Haris yang tiba tiba saja merasa penuh sesak hingga ingin menangis membuat pria itu nekad membatalkan pernikahannya di detik detik dia akan mengucapkan ijab kabul.


Ingatan nya kini hanya tertuju pada seorang wanita yang pernah melalui malam panas dan panjang bersama dengan nya.


Lidah Haris bahkan seakan kelu saat akan mengucap kabul atas nama Winda Hartawan. Padahal beberapa kali dia sudah meyakinkan diri untuk menerima pernikahan ini meski Winda ngotot tidak mau hamil dan memiliki anak.


Namun hari ini, disaat detik detik menuju halal. Seperti ada yang menghalangi Haris untuk mengucapkan ijab kabul itu. Bahkan tanpa pikir panjang lagi, pria itu langsung bangkit dari duduknya dan segera beranjak dari meja dimana akan di lakukan ijab kabul.


"Kamu kenapa sayang? Jangan begini Nak. Ayo duduk sayang, lanjutkan pernikahannya," bujuk Mama Sifa pada putra sulungnya itu.


"Boleh Haris tanya sesuatu pada Mama sebelum melanjutkan pernikahan ini?" tanya Haris yang bukan nya menurut malah bertanya lebih dulu pada sang Mama.


"Apa sayang? Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Tujuan pernikahan ini apa Ma?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Haris tanya, apa tujuan dari pernikahan ini?"


"Tentu saja untuk membuatmu bahagia dengan memiliki pasangan hidup Nak. Apa lagi? Dengan memiliki pasangan hidup, kamu juga akan mempunyai keturunan yang kelak akan menjadi penerus untuk keluargamu,"


Deg


Jantung Winda serasa lepas tatkala calon mertuanya menyinggung prihal keturunan yang sama sekali dia tolak akan kehadiran nya.


Mendengar jawaban dari sang Mama, Haris pun langsung merogoh saku celana nya dan mengambil secarik kertas putih yang kemarin sempat di berikan oleh Winda saat mereka tiba di hotel tempat dimana acara pernikahan akan berlangsung.


"Ini Ma, bacalah. Setelah Mama membaca isi nya masih layakkah Haris melanjutkan pernikahan ini?" lanjut Haris menyerahkan selembar kertas yang berisi kan perjanjian pranikah yang di ajukan oleh Winda dan point utamanya adalah 'Tidak adanya Anak' dalam pernikahan itu.


Rahang Mama Sifa mengeras, matanya memerah. Wanita paruh baya itu langsung meremas kertas yang ada di tangannya setelah selesai membaca semua isi yang tertulis di kertas putih yang sudah di tanda tangani langsung oleh calon menantu nya, Winda di atas materai.


Kecewa, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan perasaan yang dirasakan oleh Mama Sifa saat membaca perjanjian pranikah yang di ajukan oleh calon menantunya pada Haris.


Bayangan akan segera menimang cucu setelah putra sulungnya menikah pupus sudah setelah mengetahui jika wanita yang akan menjadi istri untuk putranya itu menolak hamil dan punya anak.


“Kalau begitu, ayo kita pulang. Ayo Pa, pernikahan ini tidak akan dilanjutkan,” lanjut Mama Sifa yang membuat semua orang tercengang tak percaya termasuk suaminya, Pak Wirya Wicaksono.


“Loh Ma, ada apa? kenapa Mama jadi ikut ikutan dengan Haris, ada apa sebenar nya??” tanya Pak Wirya pada sang istri yang tiba tiba saja kompak dengan sang anak untuk membatalkan pernikahan itu.


“Iya jeng, kenapa? ada apa ini? kenapa kalian sesuka hati membatalkan pernikahan? Padahal tinggal satu langkah lagi kedua anak kita halal satu sama lain,” sambung Bu Hana yang merupakan Ibunda dari Winda.


“Tanya kan pada putrimu jeng, percuma juga halal kalau tidak mau memiliki anak. Lagian, mana ada wanita yang mau dinikahi tapi menolak untuk dihamili dan mempunyai anak. Sungguh di luar dugaan, jika begini. Bukan hanya Haris yang menolak untuk melanjutkan pernikahan, tapi saya pun menolaknya. Mana mungkin saya membiarkan anak saya menikah tapi tidak mempunyai keturunan, gendeng. Ayo Ris, Pa kita pulang saja. Buang buang waktu saja,” jawab Mama Sifa yang membuat Mama Hana dan juga suaminya shock mendapati kenyataan jika putri sulung nya menolak memiliki seorang anak.


Winda sendiri hanya bisa menunduk malu, namun tetap saja. Keputusan untuk tidak hamil dan memiliki anak sudah tidak bisa di ganggu gugat lagi.


*


*****

__ADS_1


__ADS_2