Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Part.50


__ADS_3

***


"Aku panggilkan dokter ya? Kamu terlihat pucat sekali," ucap Pras setelah membantu Alina berbaring kembali di kasur.


"Terserah Mas saja," lirih Alina sambil memejamkan matanya.


Sungguh, kepalanya berdenyut nyeri sekali. Belum lagi dengan perutnya yang tiba tiba merasa tidak nyaman sama sekali.


Entah apa yang terjadi pagi ini, kenapa tiba tiba dia seperti ini. Beruntung si kecil Alesya tengah menginap di rumah sang nenek jadi Alina bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus memikirkan gadis kecil itu.


Beranjak siang, Pras benar benar memanggil dokter keluarga. Saat ini Bara tengah memeriksa keadaan istri dari sahabat sekaligus pasien nya itu.


"Bagaimana? Apa yang terjadi pada istriku?" tanya Pras begitu Bara selesai memeriksa Alina.


"Selamat bro. Sepertinya sebentar lagi lo akan jadi ayah dari dua anak," jawab Bara yang selalu bersikap santai saat berhadapan dengan Pras.


"Alina hamil? Serius? Jangan becanda Bar, nggak lucu,"


"Ya Tuhan, gue sekolah kedokteran itu mahal nya ga ketulungan Pras. Dan sebelum bertugas gue juga udah di sumpah. Masa iya gue bohong? Memang sih ini baru diagnosa gue aja, berhubung gue kan Dokter umum bukan Dokter obgyn. Jadi, biar lebih jelas lebih baik Lo bawa istri lo itu ke rumah sakit ibu dan anak. Di Sana istri lo bisa melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Tapi yang pasti, selamat karena kini lo akan jadi ayah dua orang anak."


"Ok, thank bro."


"Kalau gitu, gue balik dulu. Gue juga belum kasih resep obat soalnya takut istri lo beneran hamil dan gue salah kasih resep, bahaya. Lebih baik lo bawa istri lo ke dokter kandungan biar lebih jelas."


"Ok, nanti gue akan bawa dia ke rumah sakit untuk periksa lebih lanjut." jawab Pras yang tentu saja tidak bisa menutupi rasa bahagianya saat mendapatkan kabar jika Alina tengah mengandung anak nya.

__ADS_1


Bara pun langsung pergi meninggalkan rumah sahabatnya itu dan kembali ke rumah sakit. Sementara Pras kini menghampiri istrinya yang masih terbaring lemas di atas kasur.


"Halo calon Mama, bagaimana perasaanmu, hhmm?" tanya Alina membelai lembut pucuk kepala Alina.


"Tentu saja bahagia Mas, tapi. Aku takut," lirih Alina.


"Takut? Takut kenapa sayang?"


"Aku takut tidak bisa menjaga dan merawat anak anak. Alesya masih terlalu kecil untuk punya adik."


"Kamu tidak sendiri sayang. Aku akan selalu bersama denganmu dan membantu mu merawat dan menjaga anak anak kita. Ada Mama Widia dan juga Mamah Tari, jadi kenapa harus takut?"


"Terima kasih Mas, terima kasih karena selalu mendukungku,"


"Tidak, jangan berterima kasih pada Mas. Harusnya Mas yang berterima kasih karena kamu sudah hadir dalam hidup Mas, membuat Mas kembali merasa bahagia setelah merasa terpuruk karena kepergian Alisa. Dan kini, kebahagian Mas kian bertambah dengan adanya calon anak kita ini." jawab Pras sembari mengusap lembut perut Alina yang masih rata, lalu menciumnya penuh dengan rasa haru.


Satu jam Setelah kepergian Bara, Pras pun akhirnya membawa Alina ke rumah sakit ibu dan anak. Pras ingin memastikan Apakah benar jika sang istri saat ini tengah mengandung anaknya, darah daging nya.


Usai melakukan pendaftaran dan menunggu beberapa saat, akhirnya Alina pun Mendapat giliran pemeriksaan. Dan setelah mengadakan tanya jawab dengan sang dokter, Alina pun diboyong menuju ke sebuah brangkar yang disamping nya sudah tersedia mesin ultrasonografi atau UGS.


Dokter yang bernama Hana itu pun mulai mengolesi perut Alina dengan jel untuk memulai pemeriksaan nya. Dan benar saja, saat ini Alina Tengah mengandung anak kedua Pras dan usia kandungan Alina ternyata sudah memasuki bulan ketiga.


Sungguh hal yang sangat mengejutkan, pasalnya selama 3 bulan ke belakang Alina tidak merasakan perubahan apapun di dalam tubuhnya. Baru pagi ini Alina merasa pusing mual sampai muntah muntah. Alina pikir, itu semua hanya masuk angin biasa berhubung mereka baru saja kembali dari berlibur di daerah yang udaranya cukup dingin.


Namun ternyata semua praduga nya salah. Saat dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh oleh dokter kandungan. Alina dinyatakan hamil dan usia kandungan Alina saat ini sudah memasuki bulan ketiga.

__ADS_1


"Tolong dijaga asupan gizinya, ya Pak, Bu. Usahakan istrinya agar jangan stress dan mengerjakan pekerjaan yang berat. Vitamin dan penambah darahnya harus rutin diminum ya Bu. Sehat-sehat ya, sampai hari lahiran nanti dan jangan lupa rutin melakukan pemeriksaan setiap bulannya agar kita bisa memantau Bagaimana tumbuh kembang janin yang ada di dalam rahim ibu, ini saya sudah meresepkan obat anti mual dan juga vitamin untuk ibu konsumsi untuk mengurangi rasa mual dan juga vitamin untuk menjaga ke adaan itu agar baik baik saja meski mengalami ngidam yang parah." jelas dokter yang diangguki oleh Pras dan juga Alina.


"Baik dokter, kalau begitu kami permisi dulu terima kasih atas bantuannya."


"Iya, Pak, Bu silahkan. Kita bertemu lagi bulan depan ya."


"Baik, terima kasih Dokter."


Usai menebus obat dan vitamin untuk istrinya, Pras pun segera membawa Alina kembali ke rumah mereka. Tidak lupa, Pras juga membagikan kabar bahagia ini kepada kedua orang tuan dan juga mertuanya. Dan tentu saja kabar kehamilan Elina ini membuat heboh dua keluarga sekaligus.


Terutama Mamah Widia. Mamah Widia begitu bahagia saat mendengar menantu keduanya itu Tengah berbadan dua, hingga di hari itu juga mama Widia langsung bertolak ke rumah Pras dan Alina guna meyakinkan jika apa dia dengar benar adanya.


Dan bertepatan dengan kedatangan Mama Widia, Mama Tari pun terlihat baru saja datang bersama dengan sang suami. Keduanya bertemu di halaman rumah Pras dan Alina.


"Wah, Ta kamu juga datang?" tanya Mama Widia saat melihat Mama Tari keluar daru mobilnya.


"Iya, aku sudah nggak sabar pengen dengar langsung. Apa benar Alina hamil? Kalau iya Masya Allah senang banget aku," jawab Mama Tari yang begitu antusias menyambut kehamilan putrinya.


"Ya kamu benar. Aku juga senang banget,ya sudah lebih baik sekarang kita masuk saja kedalam. Aku juga sudah tidak sabar ingin mendengar apa benar Alina hamil."


Kedua mama itu pun langsung bergegas menuju ke rumah Pras dan Alina. Kedatangan kedua mama itu disambut oleh rasa terkejut Alina dan Pras. Mereka tidak menyangka jika kedua mama nya itu akan langsung datang setelah mendapatkan kabar jika Alina tengah hamil.


"Mama, Papa, kalian kemari?" tanya Pras dan juga Alina secara bersamaan pada orang tua masing masing yang siang itu datang secara bersamaan.


*

__ADS_1


*****


__ADS_2