Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.2


__ADS_3

***


“Selamat malam,”


Deg


Seketika, tubuh Dipta membeku saat mendengar suara bariton dari seseorang yang teramat sangat dia kenali.


“Selamat malam, Pak Pras, Bu Alina,” jawab kepala sekolah yang kini sudah ada bersama dengan Dipta, Raya dan beberapa orang warga sekitar.


“Ada apa ini ya Pak? Apa putra saya melakukan kesalahan?” tanya Papa Pras saat memasuki ruang kepala sekolah yang saat ini tengah mereka tempati untuk berkumpul.


“Mari, silahkan duduk Pak Pras. Nanti akan kami jelaskan, namun sebelum itu. Mari kita menunggu sebentar lagi sampai kedua orang tua dari Rayana datang,” lanjut kepala sekolah yang bernama Hans itu, mempersilahkan tamu nya duduk di sofa.


“Baiklah kalau,”


Papa Pras dan Mama Alina pun duduk tepat berjajar dengan Dipta, putra mereka yang saat ini tengah duduk di sofa tepat di seberang sofa yang ditempati oleh mama Alina dan Papa Pras.


“Selamat malam semua, maaf saya terlambat,”


Deg


Kini, giliran Raya yang merasakan jantung nya berhenti berdetak saat mendengar suara bariton dari sang ayah.


Bahkan gadis itu sampai tidak berani mengangkat kepalanya demi memastikan apa yang datang barusan adalah ayah nya atau bukan.


Namun, Raya sudah hapal sekali dengan suara itu. Itu adalah Papa Bara, dokter kepala di sebuah rumah sakit ternama di kota itu.


“Selamat malam juga Pak Bara dan Bu Aulia. Mari, silahkan duduk. Berhubung semua sudah hadir maka kita mulai saja ya pembahasan prihal permasalahannya.”


“Begini Pak, Bu. Sebenarnya sudah satu minggu ini kami dapat laporan dari warga sekitar yang kebetulan melintas di area sekolah pada malam hari. Dan para warga yang melintas itu melaporkan pada kami, jika mereka sering mendengar suara, eemm, mohon maaf. Suara dua orang yang sedang mendesah secara bersahutan. Awalnya kami tidak begitu menanggapi karena kami pikir tidak mungkin ada yang berbuat mesum di gedung ini. Secara gedung ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang,”

__ADS_1


“Tapi, beberapa hari yang lalu. Staf kami yang bertugas sebagai petugas kebersihan menemukan alat kontrasepsi yang biasa dipakai oleh pria, dan ya Bapak dan Ibu mungkin tahu benda apa itu, tanpa harus saya menjelaskan, lebih detail benda apa itu. Dan staf kami menemukan nya lagi kemarin di lokasi yang sama. Alhasil, kami tentu saja tidak bisa diam saja. Maka dari itu, malam ini kami dan beberapa warga pun akhirnya sepakat untuk berpatroli secara bersama sama di wilayah sekolah dan mohon maaf, kami menemukan putra dan putri IBu dan Bapak dalam keadaan yang tidak wajar dan kurang pantas untuk disebutkan,”


Duuaaarrrr


Bagai petir di siang bolong, kedua pasangan orang tua itu sama sama di buat tercengang dengan apa yang dilakukan oleh putra dan putrinya.


Bahkan saking shock nya, Bunda Aulia sampai jatuh pingsan saat mendengar penjelasan dari kepala sekolah tadi.


“Bunda,” seru Ayah Bara dan juga Raya secara bersamaan saat melihat tubuh Bunda Aulia terkulai lemas ke bahu sang suami.


“Sebentar, saya mau pindahkan istri saya dulu ke mobil. Alina, bisa minta tolong temani Aulia di mobil? biar kami yang selesaikan masalah ini,” pinta Ayah Bara pada Alina.


“Iya, baiklah. Aku serahkan semua padamu Mas,” lirih Alina pada suaminya Pras.


Jujur, Alina seolah kehabisan kata kata saat mendapati tingkah polah putra keduanya itu. Bahkan tanpa menoleh ke arah Dipta sedikitpun, mama Alina pergi begitu saja dari ruangan itu mengikuti Bara yang membawa tubuh istrinya kembali ke luar gedung.


Dan itu membuat hati Dipta terasa tertampar. Ini pertama kalinya sang Mama mengacuhkan nya, bahkan tidak melihat ke arahnya sedikit pun dan itu membuat hati Dipta merasa sesak.


Setibanya di mobil, Ayah Bara langsung membaringkan tubuh Bunda Aulia di jok mobil bagian belakang. Lalu memberikan satu botol minyak kayu putih ke mama Alina untuk membantu dihirupkan ke hidung Bunda Aulia agar Bunda Aulia terbangun dari pingsan nya.


“Iya, kembalilah. Tolong selesaikan masalah anak anak dengan baik,”


“Iya, kamu tenang saja. Saya titip Aulia ya?”


“Iya,”


Ayah Bara pun langsung kembali ke dalam gedung sekolahan itu. Dan kini, empat nya pun sudah duduk dengan berhadapan.


“Apa benar, apa yang dikatakan oleh Pak Hans itu Dipta?”


Deg

__ADS_1


Suasana kembali tegang saat ayah Bara kembali masuk keruangan itu. Bahkan untuk beberapa saat, ruangan itu sunyi senyap tidak ada yang bersuara.


Hingga papa Pras lah yang lebih dulu angkat bicara untuk menanyakan kebenaran akan hal tersebut.


“Tidak Pa, kami benar benar tidak melakukan hal itu. Kami, saat itu kami hanya terjatuh saat akan keluar dari ruangan itu dan tubuhku tidak sengaja menimpa dan menindih tubuh Raya. Tapi kami tidak melakukan hal tidak senonoh dan memalukan seperti itu, Pa.” jawab Dipta benar adanya.


"Lalu, untuk apa kalian berada disini malam malam? Bukankah ini sudah bukan jam nya kalian ada di wilayah ini?" kini giliran ayah Bara yang bertanya.


"Kami ketiduran di perpustakaan Ayah. Dan kami terjebak di sana karena pintu sudah di kunci dan kami tidak bisa keluar. Sungguh Ayah, kami tidak berbuat apa apa," lirih Raya yang kini sudah menangis tersedu.


"Apa sebaiknya mereka di nikahkan saja Pak. Demi menjaga lingkungan ini, mungkin lebih baik kita nikahkan saja mereka. Kita juga tidak bisa mempercayai perkataan mereka setelah apa yang kami lihat tadi," ucap salah satu warga yang ikut berpatroli tadi.


Sejenak, baik papa Pras maupun ayah Bara sama sama memejamkan mata demi menetralkan amarah yang kini bergemuruh di dalam dada masing masing.


Namun, tentu saja mereka berdua harus menahan semua itu. Ini bukan waktu yang tepat untuk marah. Namun, ini adalah waktunya mencari solusi atas apa yang telah kedua anak muda itu lakukan.


"Baik Pak, akan kami pertimbangkan lagi saran dari Bapak." jawab Pras.


"Apa tidak sebaiknya dinikahkan sekarang Pak. Biar lingkungan ini terhindar dari ke sialan setelah di jadikan tempat mesum,"


Deg


Dipta dan Raya sama sama mengangkat kepalanya. Menatap tidak percaya pada ke tiga warga yang mendesak mereka untuk dinikahkan.


Baik Dipta maupun Raya sama sama menatap ayah mereka masing masing. Berharap, kedua ayah itu mau menolak permintaan para warga itu.


"Bagaimana Bara? Apa pendapatmu?" tanya papa Pras pada sahabat nya ayah Bara.


"Jika itu yang terbaik untuk menyelamatkan nama baik mereka. Maka tidak ada pilihan lain," jawab ayah Bara tampak begitu pasrah menerima hukuman atas perbuatan yang di lakukan oleh putrinya.


"Ayah," lirih Raya menatap sang ayah saat setuju untuk menikahkan nya dengan Dipta.

__ADS_1


*


****


__ADS_2