Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.9


__ADS_3

***


Raya tersenyum tipis saat melihat sosok Dipta berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan yang di masukan ke saku celana nya.


Sungguh definisi lelaki yang di idam idam kan oleh setiap gadis, termasuk diri nya. Sayang, pemuda itu telah memiliki wanita idaman lain yang sudah dia simpan di dalam hatinya.


"Memang bisa?" tanya Raya meragukan niatan Dipta yang menawarkan nya bantuan.


"Tidak, hihihi,"


"Ck, terus buat apa sok sok an nawarin bantuan?"


"Boleh masuk?" tanya Dipta mengabaikan pertanyaan dari Dipta.


"Boleh, masuk aja. Tumben ijin? Di rumah main nyelonong aja nggak pake ijin,"


"Nama nya juga manusia, bisa berubah kan?"


“Sayang bukan hati kamu yang berubah Mas,” gumam Raya di dalam hati.


Dipta pun masuk lalu mengambil duduk di samping Raya yang duduk lesehan di atas karpet bulu yang ada di dalam kamarnya.


Saat ini Raya tengah mengeluarkan baju baju yang dia bawa dari rumah nya, lalu di lipat ulang sebelum dipindah kan ke lemari yang ada di kamar itu.


“Gimana perasaan kamu Ay?” tanya Dipta tiba tiba. membuat langkah seseorang yang baru saja akan masuk ke dalam kamar itu menghentikan langkah kaki nya.


Lalu kembali berbalik dan membiarkan kedua anak muda itu berbicara dari hati ke hati. Toh, mereka memang harus membicarakan akan kemana mereka membawa hubungan yang terjalin kini.


“Maksud nya?’ tanya Raya balik dan terlihat bingung menatap ke arah Dipta.


“Ya, perasaan kamu. Saat ini dan dengan semua ini?”


Raya terlihat diam, menghela nafas panjang lalu menjawab apa yang dia rasakan saat ini. jujur, hanya bahagia yang Raya rasakan. namun apalah artinya jika hanya dia merasa bahagia dengan ikatan pernikahan itu.

__ADS_1


“Malu, marah, kesal, kecewa, bingung, campur aduk pokoknya. Tapi tetap harus dijalani kan? dan mulai sekarang aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan orang orang yang menyayangiku lagi,” jawab Raya lirih.


Menyesali apa yang dia lakukan sebenarnya. Namun, semua sudah terjadi dan tidak bisa di ulang agar apa yang dia alami tidak pernah terjadi.


Jika pun harus menikah, maka Raya ingin nya saat mereka benar benar siap dan matang untuk membina rumah tangga.


Bukan saat ini, yang sekolah saja belum lulus. Kuliah belum juga mendaftar, status sudah jadi istri orang saja.


“Lalu, setelah kita menemukan pelaku yang sebenarnya. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Dipta lagi.


“Mungkin bertanya, kenapa mereka melakukan itu di sekolah? setidak mampu itukah mereka hanya untuk sekedar menyewa motel yang murah? atau kenapa tidak melakukan itu di apartemen? bukankah hampir 100% anak anak di sekolah kita memiliki apartemen pribadi? kenapa malah di sekolah coba? bikin orang yang tidak tahu apa apa seperti kita kena dampaknya. Kesal banget, mereka yang enak enakan kita yang apes dan harus menanggung semua nya,”, gerutu Raya tatkala di ingat kan pada kejadian malam itu.


Malam dimana semua berubah. Mendadak jadi istri dan mendadak jadi tersangka pelaku asusila di sekolah. Miris, itulah kata kata yang pantas disematkan padanya.


“Lalu, bagaimana dengan ikatan ini? apa yang ingin kamu lakukan dengan ikatan ini?”


Deg


Jantung Raya berdetak kencang saat mendengar pertanyaan Dipta selanjutnya. Harus kah dia jujur jika selama ini dia telah jatuh hati pada pemuda itu?


Tidak, Raya tidak ingin itu terjadi. Hingga gadis itu pun akhirnya memilih kembali menutup semua apa yang sebenarnya dia rasakan.


“Keputusan itu ada di tangan kamu Mas,”


Deg


Jantung Dipta selalu saja berdebar aneh tatkala mendengar Raya memanggilnya dengan sebutan ‘Mas’.


“Ke_kenapa?” tanya Dipta lagi terbata karena tiba tiba merasa gugup, yang aneh nya entah gugup karena apa.


 “Ya, karena hak mutlak memutus ikatan tali pernikahan itu ada di tangan kamu, Mas. Bukan di tanganku, jika kamu sudah tidak berkenan akan kehadiran ku dan adanya ikatan ini. Ya, mau nggak mau aku harus menerima keputusan itu.Toh kita menikah juga terpaksa kan?”


Dipta bergeming, apa yang dikatakan oleh Raya memang benar adanya. Hak mutlak menceraikan atau menjatuhkan talak ada di tangan nya. Bukan di tangan Raya.

__ADS_1


Maka, kelanjutan hubungan keduanya tentu saja ada di tangan Dipta sendiri. Entah itu mempertahankan atau memutuskan nya. Semua itu ada di tangan Dipta sepenuh nya.


"Tapi, ngomong ngomong kamu sudah bicarakan masalah kita pada Edo? Bukan kah, kita akan minta tolong dia untuk menyelidiki pelaku tindak asusila itu?" tanya Raya mencoba mengalihkan perhatian Dipta.


Karena sejujurnya, Raya juga takut akan mendengar keputusan Dipta nanti. Meski pada akhirnya 'perpisahan' lah yang akan mereka hadapi. Namun setidaknya, Raya bisa mengukir kenangan indah saat mereka bersama, meski hanya Raya lah yang merasakan perasaan spesial itu.


"Nanti malam kita mau pada kumpul di markas. Kamu juga ikut ya? Biar kita jelaskan masalah kita sama sama,"


"Boleh, tapi. Kenapa nggak di rumah aja? Di luar takut nya ada yang menguping pembicaraan kita. Kita masih harus rahasiakan hubungan ini sampai lulus, atau paling tidak. Sampai pelaku itu tertangkap dan kita bebas dari tuduhan mesum itu,"


"Kamu benar, baiklah nanti akan aku hubungi anak-anak agar mereka datang kemari saja. Sepertinya memang di rumah akan jauh lebih aman, karena pembicaraan ini juga penting dan rahasia," jawab Dipta menyetujui saran dari Raya.


Tidak menunggu waktu lagi Dipta pun langsung merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya.


Dipta pun langsung mengetik sebuah pesan yang akan dikirimkan kepada teman-temannya yang akan datang bertemu nanti malam.


"Lalu, apa nih yang bisa aku bantu?" tanya Dita setelah selesai mengirim pesan kepada Edo dan teman-teman lainnya.


"Sebenarnya nggak ada sih aku tinggal nyusun ini semua ke lemari dan selesai deh. Gimana kalo temenin ngobrol aja? biar nggak Bete sendirian,"


"Oke deh, Sana lanjutin beres-beresnya. Aku duduk di sini aja."


"Oke," Raya pun langsung membuka lemari pakaian yang tampak masih kosong itu. Raya pun mulai menyusun satu persatu pakaiannya ke dalam lemari.


Merasa kasihan saat melihat Raya bolak-balik untuk mengambil pakaiannya, Dipta pun tergerak untuk membantu pemuda itu meraih setumpuk kan baju milik Raya lalu diserahkan kepada gadis itu.


"Wah terima kasih loh Pak Su. Baiknya, suami siapa sih ini?" goda Raya pada Dipta, saat pemuda itu menyerahkan tumpukan baju milik Raya untuk disusun di dalam lemari pakaian nya.


Bluussshhhh


Seketika, wajah Dipta pun dibuat merona oleh perbuatan Raya yang sengaja menggoda nya. Pemuda itu langsung memalingkan wajah nya saat merasakan panas di seluruh wajah tampan nya.


Dipta pun berdehem beberapa kali demi menetralkan rasa gugupnya yang tiba tiba saja datang saat Raya menggoda dirinya.

__ADS_1


*


*****


__ADS_2