
***
Tok
Tok
Tok
"Masuk,"
"Apa Dipta ganggu Pa?"
"Masuk saja, ada apa?"
"Ada yang ingin Dipta bicarakan,"
"Masuk dan duduklah. Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Begini, Dipta mau minta tolong Pa."
"Minta tolong? Minta tolong perihal apa?"
"Dipta minta bantuan Papa untuk membantu mencari pelaku mesum yang sebenarnya Pa. Bukan Dipta dan Raya yang harus nya menerima hukuman ini karena memang Dipta dan Raya tidak pernah melakukan hal di luar batas seperti itu. Bahkan berpikiran ke sana saja tidak, mana mungkin kami melakukan itu. Makanya, Dipta mau minta bantuan Papa untuk memfasilitasi proses pencarian pelaku yang sebenarnya, Pa."
"Kamu yakin, jika bukan kamu pelakunya?"
"Tentu saja bukan Papa. Mana mungkin Dipta melakukan itu, Dipta tidak mungkin buat Mama sama Papa malu dengan berzinah,"
"Bagus, Papa suka pola pikir kamu. Meski kamu anak muda, tapi kamu sudah tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Ok, Papa akan coba bantu dengan apa yang Papa bisa. Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"
"Dipta akan minta bantuan teman teman Dipta untuk mencari semua informasi tentang hal ini, dan tentu saja kami membutuhkan beberapa peralatan dan juga biaya untuk itu. Makanya, Dipta mau minta bantuan Papa."
"Ok, untuk itu. Kamu tidak perlu khawatir, kamu bisa langsung hubungi Pak Wahyu untuk menyediakan apapun yang kamu butuh kan,"
"Ok Pa, terima kasih. Tapi, sebelum itu tolong jangan sampai hal ini bocor ya Pa. Dipta yakin, jika mereka tahu maka mereka akan bersembunyi dan menutupi hal itu agar tidak ketahuan,"
"Ok, Lakukan saja apa yang menurutmu baik. Papa tunggu hasil baiknya,"
"Baik Pa, sekali lagi terima kasih. Kalau begitu, Dipta keluar dulu,"
"Hhmm,"
Sepeninggalan Dipta, Papa Pras langsung menghubungi orang kepercayaan nya. Siapa lagi kalau bukan Pak Wahyu.
Papa Pras meminta agar pria itu mengawasi putra dan juga teman teman nya. Papa Pras juga berpesan agar menjaga mereka semua selama masa pencarian yang dilakukan oleh Dipta dan teman teman nya.
*
*
Ceklek
__ADS_1
"Dari mana? Kenapa lama?" Tanya Raya begitu Dipta masuk ke dalam kamar mereka, kini.
Dipta sempat tertegun selama beberapa detik hingga akhirnya dia tersadar jika kini bukan hanya dia penghuni ruangan itu.
Dipta pun akhirnya tersenyum tipis saat melihat gadis yang dulu hanya bisa dia temui di sekolah kini ada di dalam kamar nya.
“Kenapa? kangen ya? Masa baru di tinggal sebentar aja udah kangen sih?” jawab Dipta sengaja menggoda Raya yang terlihat masih kaku dan canggung.
“Ih, apaan sih. Eemm, Mas boleh ijin keluar nggak?” tanya nya ragu ragu.
Deg
Jantung Dipta terasa lepas dari tempatnya saat untuk pertama kalinya Raya memanggilnya dengan sebutan 'Mas'.
Terdengar aneh, tapi ada sesuatu yang berdebar di dalam sana saat gadis itu memanggilnya 'Mas'.
“Ke_kemana? Te_terus sama siapa?” tanya balik Dipta terbata karena mendadak jadi gugup.
"Cuma ke mall, mau ka toko buku sekalian jalan jalan juga. Udah janjian sama Sulis sama Hani dari kemarin. Gimana, boleh nggak?"
"Biasanya, kalau disini tidak ada yang keluar saat kumpul sama keluarga gini. Tapi, coba tanya dulu sama Mama. Kalau dapat ijin dari Mama berarti boleh,"
"Temenin yukk,"
"Kemana? Ke mall?"
"Bukan, tapi minta ijin sama Mama,"
"Malu Mas, ayo temenin. Ya,"
"Ya sudah, ayo."
Kedua pasangan kekasih halal itu pun keluar dari kamar secara bersamaan, lalu berjalan menuju ruang keluarga yang ada di lantai atas.
Mama Alina terlihat sedang menemani dan membantu putri bungsunya Keysa yang sedang asik mengerjakan tugas prakarya.
"Ma," panggil Dipta mewakili Raya yang ingin minta ijin keluar rumah.
"Iya sayang, kenapa Nak?"
"Begini Ma, Raya mau izin keluar sama teman teman nya. Apa boleh?"
"Oh, mau kemana terus sama siapa?"
"Sama Sulis, sama Hani Ma. Kemarin sempat buat janji mau ke toko buku buat persiapan ujian sama masuk kuliah nanti," kini bukan Dipta yang menjawab, melainkan Raya sendiri yang memberanikan diri menjawab pertanyaan Mama Alina.
"Oh begitu, boleh dong sayang. Kamu pergi juga nggak Kak?"
"Nggak Ma, Dipta di rumah aja."
"Lah, terus itu istrimu pergi sama siapa? Masa sendiri, anterin gih. Tidak baik membiarkan istri kemana mana sendiri, sekarang dia tanggung jawab kamu Kak."
__ADS_1
"Tapi Dipta ada tugas yang harus di selesaikan Ma,"
"Nggak apa apa Ma, Raya bisa naik ojol Kok,"
"Bareng Kakak Aja. Kebetulan Kakak juga mau ke luar, mau beli buku juga," sela Alesya yang mendengar sedikit keributan dari ruang santai yang tidak jauh dari kamarnya.
"Apa tidak merepotkan Kak?"
"Repot apa nya, kan kita punya tujuan yang sama,"
"Ya sudah kalau begitu, aku ambil tas dulu."
Raya pun berlari kecil menuju ke kamar nya bersama dengan Dipta. Raya meraih tas selempang yang biasa dia bawa pergi.
Lalu, kembali ke luar untuk menemui kakak iparnya yang akan pergi bersama dengan nya.
"Ayo Kak, Ma pamit dulu ya." ucap Alina menyalami dengan takzim punggung tangan mertuanya. Lalu beralih alih ke Dipta dan melakukan hal yang sama.
"Mas, Raya pergi dulu ya,"
Seketika, Dipta kembali dibuat tertegun dengan apa yang di lakukan oleh Raya padanya. Dimana gadis itu meraih tangan nya lalu menyalami nya dengan takzim bahkan tanpa dia minta.
"I_iya, hati hati." jawab Dipta terbata.
Sungguh, banyak sekali kejutan yang di rasakan oleh Dipta hari ini. Padahal belum genap 24 jam dirinya satu atap dengan gadis itu.
Raya sudah berulang kali membuatnya terkejut. Bahkan sampai gadis itu menghilang dari pandangan, Dipta masih terlihat bengong ke arah Raya pergi bersama dengan Alesya.
"Kenapa nggak ikut saja kalau nggak rela dia pergi,"
Deg
Dipta kembali di buat tersentak oleh celotehan sang mama yang menggoda dirinya karena kedapatan tengah terus menatap ke arah Raya dan Alesya padahal kedua gadis itu telah menghilang dari pandangannya.
"Mama, apaan sih." ucap Dipta terlihat memalingkan wajah nya demi menyembunyikan rona merah di wajah nya.
"Sini, duduk sini. Ada yang ingin Mama tanyakan," mama Alina menepuk bagian kosong karpet bulu yang tengah dia duduki bersama dengan si kecil Keysa.
Dipta pun menurut, lalu mendudukkan dirinya tepat di samping sang mama. Kedua anak dan ibu itu pun kini duduk berdampingan dengan bersandar ke sofa besar dan panjang yang ada di sana.
"Mama mau tanya apa?" tanya Dipta setelah duduk di samping mama Alina.
"Apa Kakak mencintai Raya?"
Deg
Dipta yang awalnya asik memperhatikan Keysa langsung menoleh saat sang mama bertanya demikian.
Entah apa yang harus Dipta jawab sekarang, pasalnya saat ini dia mencintai gadis lain. Namun tidak bisa di pungkiri jika Dipta juga menyayangi Raya seperti dia menyayangi adiknya sendiri.
*
__ADS_1
*****