
***
Alina kembali dibuat kaget saat membuka matanya, dia mendapati dirinya kembali berada didalam kamar Pras dan tertidur diatas ranjang pria itu.
Jika biasanya Alina akan berada dikamar itu sendirian dan tidak menemukan sang suami di dalam sana. Namun berbeda dengan saat ini.
Yang dimana saat Alina berbalik, netranya langsung menatap wajah tampan yang masih terlelap dalam tidurnya itu.
Alina bergerak perlahan untuk membalik tubuhnya menjadi menghadap ke arah Pras yang masih memejamkan matanya itu.
Alina mengamati dengan seksama wajah yang begitu tampan sempurna tanpa cacat sedikit pun itu. Wajah yang masih begitu terlihat mempesona di usianya yang memasuki usia matang.
Tangan Alina terulur untuk menyentuh pahatan maha karya sempurna ciptaan sang maha pencipta itu, namun tangan nya hanya mengambang di udara saja.
Alina menarik kembali tangan nya karena tidak ingin mengganggu waktu tidurnya yang terlihat begitu lelap itu.
"Maafkan aku, sungguh. Aku tidak pernah bermaksud menghancurkan kebahagiaan mu, bersabarlah sedikit lagi saja ya, setelah Ale siap. Aku akan pergi dan membiarkan kamu bahagia bersama dengan wanita pilihanmu," gumam Alina yang terdengar jelas oleh telinga Pras, karena pria itu memang sudah terjaga saat Alina mulai bergerak mengubah posisi tidurnya.
Tidak ingin merasakan sesak terlalu lama lagi karena perasaan yang kini tumbuh didalam hatinya entah sejak kapan itu.
Alina pun langsung bangkit dari ranjang dan bergegas kembali menuju ke kamar nya dengan membawa serta buket bunga yang selama tidak lepas dari pelukan nya.
Sementara Pras sendiri, baru bisa membuka matanya ketika Alina sudah kembali kedalam kamar nya dan menutup pintu penghubung kedua kamar itu dengan sangat rapat.
Bahkan gadis itu sampai mengunci pintu itu demi kesejahteraan bersama dan tentu saja itu di sadari betul oleh Pras yang memang sudah terbangun sedari tadi.
Setelah merasa puas menatap pintu yang tertutup rapat itu. Pras pun mulai bangkit dari tidurnya. Pras duduk di pinggir ranjang dengan kaki yang menjuntai kebawah.
Dengan malas, Pras meraih kursi roda nya lalu berpindah duduk ke kursi roda itu. Tidak ingin apa yang dia sembunyikan selama ini ketahuan.
Pras pun harus membiasakan diri beraktifitas bersama kursi roda empat itu. Pras membawa dirinya yang duduk di kursi roda memasuki kamar mandi untuk mencuci muka dan melakukan kegiatan pagi nya sebelum membersihkan diri yang selalu dibantu oleh Alina.
__ADS_1
Sementara Alina sendiri, langsung membersihkan diri, menyiapkan alat mandi untuk si kecil ALesya. Lalu membersihkan tubuh gadis mungil itu.
"Mbok, nitip Ale ya? Aku mau bantuin dulu Mas Pras siap siap kekantor," ucap ALina pada MBok Ijah dan membawa serta putri kecilnya dalam gendongannya.
"Siap non, sini Non Ale. Sama si Mbok dulu ya?mama nya mau siapin keperluan Papa," ucap wanita paruh baya itu sembari mengangkat tubuh Alesya dari pangkuan Alina.
"Ayo, kita jalan jalan dihalaman ya," lanjut mbok IJah, lalu membawa si kecil Alesya menuju ke teras rumah mewah dan besar itu.
Setelah menyerahkan Alesya pada Mbok IJah, Alina pun langsung pergi menuju ke kamar suaminya.
Namun, saat tiba di sana. Alina dibuat kaget saat melihat Pras sudah siap dengan pakaian kantornya.
"Loh, Kakak sudah siap?" tanya Alina saat melihat Pras tengah memasang dasi dilehernya.
"Hhmm, ini," jawabnya singkat lalu menyodorkan dasi yang dia pegang pada Alina.
"Itu, untuk apa?" tanya ALina bingung yang hanya di sodorkan sebuah dasi tanpa penjelasan untuk apa Pras menyodorkan dasi itu.
"Ah, maaf. Baiklah,"
Alina langsung mengambil dasi itu lalu berjongkok didepan Pras yang duduk di kursi rodanya. Dengan teliti dan hati hati, Alina mulai memasangkan dasi pada leher suaminya itu.
Dan Pras sendiri, kini tengah asik menatap intens wajah cantik Alina dari jarak yang begitu dekat.
Tidak butuh waktu lama untuk Alina untuk bisa memasangkan dasi pada pria itu. Dan seketika tubuh keduanya dibuat membeku saat Alina mengangkat kepalanya, bertepatan dengan Pras yang tengah menatap lekat padanya.
Deg...
Jantung keduanya berdetak kencang saat mereka saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat seperti saat ini.
Dimana jarak wajah diantara keduanya hanya berjarak beberapa centimeter saja. Hingga sebuah ketukan pintu membuyarkan dunia mereka berdua yang seolah terhenti saat itu juga.
__ADS_1
Tok
Tok
"Maaf tuan, ini sudah jam 8 dan kita harus berangkat sekarang," seru seseorang dari arah balik pintu yang ternyata adalah Wahyu, sang asisten pribadinya.
Baik Alina maupun Pras sama sama membuang muka ke sembarang arah demi menetralkan detak jantung yang kian menggila saat mereka saling menatap tadi.
"Ma_Mas Wahyu sudah datang,"
"Iya, tolong bawa aku padanya,"
"Baik,"
Alina dan Pras pun sama sama mengalihkan perhatian pada Wahyu demi menutupi kegugupan keduanya.
Alina langsung mendorong kursi roda menuju ke arah pintu kamar, dimana Wahyu tengah menunggu di sana.
Namun saat membuka pintu, baik Alina atau pun Pras sama sama dibuat terkejut dengan kehadiran seorang wanita yang berdiri disamping Wahyu dengan tersenyum sangat manis pada Pras.
"Monica?" tanya Pras dengan nada yang menunjukan jika pria itu tidak menyukai kehadiran nya di sana.
"Hai Pras, selamat pagi. Kamu pasti istrinya Pras ya? Perkenalkan, saya Monica. Rekan kerja sekaligus mantan dari Pras," ucap Monica memperkenalkan diri dengan penuh percaya diri.
"Alina, istri Mas Pras," jawab Alina tersenyum ramah meski hatinya begitu bergemuruh saat ini, karena tidak ada angin tidak.ada hujan rumah nya kedatangan yang rupanya adalah sang matan kekasih dari suaminya.
Sementara Pras sendiri, hanya bisa menatap dingin dan datar pada wanita yang dulu tempat mengisi ruang hatinya yang paling dalam.
*
***
__ADS_1