
***
Suara adzan berkumandang membangunkan Raya yang masih merasa sangat mengantuk. Bukan hanya rasa ngantuk berat, namun juga dekapan hangat seseorang membuat gadis itu begitu enggan untuk beranjak dari posisi nya saat ini.
Namun mau bagaimana lagi, kewajiban nya sudah menuntut untuk di tunai kan. Hingga dengan rasa kantuk yang berat dan rasa malah, Raya pun segera menggerakkan tubuh nya.
Mengusik seseorang yang tidur di samping nya dengan mendekap erat tubuh ramping miliknya. Namun pergerakan yang dilakukan oleh Raya bukan nya mengikutinya hingga membuat nya terbangun.
Tapi malah membuatnya semakin mengeratkan pelukan nya di tubuh Raya. Dan hal itu membuat Raya tersentak kaget, tatkala mendapati sepasang tangan kekar melingkar indah di tubuh nya.
Bahkan Raya hampir saja memekik saat merasakan tubuh nya semakin di dekap erat oleh seorang pria dari arah belakang tubuhnya.
Beruntung, Raya segera menyadari siapa orang yang saat ini memeluknya dari belakang. Hingga Raya pun mengurungkan dirinya untuk berteriak.
“Mas,bangun. Sudah subuh, kita harus sholat,” bisik Raya yang sebenarnya ragu untuk membangunkan. Namun mau bagaimana lagi, kewajiban nya sudah menunggu untuk ditunaikan.
“Sebentar lagi sayang, masih ngantuk,” jawab Dipta dengan suara serak khas bangun tidur.
Deg
Seketika, jantung Raya dibuat berdisko ria di pagi buta. Bahkan matahari saja belum menampakan sinar nya, namun wajah Raya sudah terasa memanas karena panggilan yang di semat kan oleh Dipta.
“I_ini aku Raya Mas. Ayo bangun, nanti waktu subuh nya keburu habis,”
“Iya, Mas juga tahu kamu Raya. Rayana Wijaya, istriku. lima menit lagi ya sayang ya, Mas masih ngantuk banget,” jawab Dipta tanpa mengubah posisi nya.
Bahkan pria itu tidak melepaskan barang sedikit pun pelukan nya di tubuh Raya. Raya pun akhirnya mengalah dan membiarkan Dipta tertidur kembali.
Demi mengusir rasa bosan nya, Raya pun mengambil ponsel miliknya untuk mengecek apakah ada pesan yang masuk atau yang lain nya.
Dan benar saja, beberapa pesan telah masuk ke dalam ponsel miliknya. Selain dari teman dan juga mertua nya. Di Sana juga ada terselip satu pesan yang dikirim oleh seseorang yang masih setia mengingatkan untuk beribadah meski hatinya sudah Raya patahkan.
Raya pun segera membalas pesan yang dikirim oleh seseorang yang sudah baik hati membangunkan dan mengingatkan nya untuk beribadah itu.
__ADS_1
Namun, baru saja akan menekan tombol kirim. Ponsel di tangan nya tiba tiba saja menghilang dari tangan dan juga pandangan nya.
Raya cukup tersentak kaget saat Dipta langsung merampas ponsel milik Raya begitu saja di saat dia akan mengirimkan pesan balasan.
“Mas, itu ponsel ku,” seru Raya langsung berbalik ke arah suami nya.
Dipta membaca sederet kata yang diketik oleh sang istri yang akan dikirim sebagai pesan balasan dari pesan yang dikirimkan oleh seseorang itu.
[“Waalaikumsalam…,”]
[“Terima kasih, selamat beribadah juga.”]
Ternyata balasan yang akan dikirimkan oleh Raya hanya ucapan kata terima kasih hingga Dipta pun langsung mengembalikan ponsel itu pada sang istri setelah membaca isi pesan balasan itu.
“Apa dia selalu menghubungi mu?” tanya Dipta mulai bersikap posesif pada sang istri.
“Iya, tapi sepertinya mulai sekarang ini adalah pesan terakhirnya,” jawab Raya apa adanya.
“Apa dia menyukaimu?”
“Dia tidak mempercayaimu kalau kamu sudah menikah?”
“Iya, karena selama ini. Aku tidak bisa menunjukan bukti pernikahan kita. Karena memang tidak ada buktinya juga kan? Kita bahkan tidak memiliki foto pernikahan satu pun. Jelas saja dia tidak akan percaya,” jawab Raya jujur.
“Maaf ya, maaf karena kita menikah dengan cara yang tidak wajar,” ucap Dipta merasa bersalah.
Tangan kekar nya kembali terulur membelai lembut wajah Raya yang masih terlihat begitu cantik meski baru bangun tidur dan tanpa adanya polesan make up sedikitpun.
“Kenapa minta maaf. Semua itu bukan salah Mas, mungkin inilah jalan takdir kita. Kita juga kan tidak pernah tahu akan bagaimana dengan masa depan nantinya. Dulu, berpikir akan menikah dengan Mas saja tidak. Eh takdir malah membuat kita menikah,”
“Kamu benar, tapi kamu tenang saja. Nanti, kita akan buat pesta resepsi semeriah mungkin agar semua orang tahu jika Rayana Wijaya sudah dimiliki oleh seorang Pradipta Dwian Wiratama,”
"Iya. Ya sudah, lebih baik kita bangun dan sholat yukk. Nanti keburu habis waktu subuh nya,"
__ADS_1
"Ya sudah, ayo."
Keduanya pun akhirnya bangkit dari pembaringan lalu sama sama bergegas mengambil air wudhu untuk sholat berjamaah untuk pertama kalinya setelah mereka menikah.
Dua rakaat pun di lalui dengan khusyuk, dengan Dipta yang menjadi imam untuk Raya pagi ini. Usai mengucap salam, Dipta tidak langsung bangkit namun pria itu tampak melanjutkan dengan berdoa.
Sementara Raya sendiri pun ikut mengamini setiap doa yang terucap dari mulut Dipta. Doa akan kebaikan bagi hubungan pernikahan dan juga kehidupan baru yang akan mereka berdua jalani mulai saat ini dan seterusnya, hingga maut yang memisahkan.
Raya begitu terharu saat Dipta berdoa tentang kebaikan dan juga keberkahan akan pernikahan mereka. Raya tidak menyangka jika Dipta akan mempertahan kan pernikahan mereka yang di lakukan secara dadakan itu.
Bahkan saat itu, baik Dipta maupun Raya masih sama sama mengenakan baju seragam putih abu. Rasanya masih terasa seperti mimpi, jika saat ini Raya tengah beribadah dengan di imami oleh suaminya.
*
*
Sementara di tempat lain...
Sulis menatap sendu wajah pria yang masih terlelap di atas ranjang king size, yang baru saja menjadi saksi penyatuan terlarang antara dirinya dan juga pria itu.
Sakit dan berat sekali rasanya, tatkala harus meninggalkan pria yang begitu dia cintai. Namun, Sulis harus segera pergi sebelum pria itu membuka mata.
Ini salah, salah besar dan bukan untuk di contoh ya. Namun jujur, Sulis tidak pernah menyesali keputusan nya untuk menyerahkan apa yang paling berharga yang dia miliki pada pria yang begitu dia cintai.
"Berbahagialah, aku sangat mencintaimu. Tapi aku tidak mau kamu menentang keluargamu. Selamat tinggal dan berbahagialah selalu dengan wanita pilihan keluargamu sayangku, i love you. Cup."
Sulis pun akhirnya pergi meninggalkan Haris dengan sejuta kenangan indah sekaligus pahit yang mereka ukir bersama.
Berat sekali dan pasti akan sulit. Namun, Sulis juga tidak mau merusak keharmonisan dan kehangatan keluarga Haris hanya karena Haris yang ingin mempertahankan dirinya.
Sementara sang Ibu dari pria itu begitu menentang hubungan dua keyakinan yang dijalani oleh putra sulung nya itu bersama dengan dirinya.
*
__ADS_1
*****