Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Part.45


__ADS_3

***


Mala menatap tidak suka pada pasangan yang baru saja keluar dari dalam kamar dengan si pria yang memeluk pinggang si wanita yang tengah menggendong si kecil Alesya, dengan begitu mesra.


Sesekali pria itu juga tampak membenamkan beberapa ciuman di rambut sang istri yang tampak masih basah. Dan tentu saja orang dewasa seperti Mala tahu betul apa yang sudah terjadi pada sepasang kekasih halal itu.


Apalagi Mala melihat dengan jelas bagaimana kedua sejoli itu menghabiskan malam panas setelah dia tanpa sengaja melihat adegan panas antara Pras dan juga Alina sebelum dia tertidur.


"Selamat pagi Mbok, Mala," sapa Alina saat tiba di ruang makan sembari mendudukkan Alesya di kursi bayi yang biasa di gunakan oleh balita itu.


"Pagi juga Non, Den Pras dan Non Ale tentu nya. Silahkan dimakan sarapan nya Non, Den, semua sudah siap di meja." jawab Mbok IJah menjawab sapaan dari Alina.


Sementara Mala hanya tersenyum sembari menganggukkan kepala nya ke arah Alina. Pras sendiri langsung duduk di kursi nya.


Alina langsung bergerak cepat melayani suami nya. Pras tampak duduk tenang sembari tidak melepaskan tatapan nya dari sang istri yang tengah sibuk menyiapkan menu makan di piring milik nya.


"Mbok, tolong suapi Alesya ya," titah ALina pada Mbok Ijah.


"Biar saya saja Non," ucap Mala yang langsung menghampiri meja makan dimana keluarga majikan nya berada saat ini.


"Maaf Mala, mungkin kamu bisa bantu yang lain nya saja. Tapi untuk Alesya, tidak bisa. Ale sedikit rewel dengan orang baru, jadi mungkin Mbok Ijah saja yang menyuapi Ale. Karena Ale sudah cukup mengenal Mbok Ijah,"


Seketika Mala menghentikan gerak tangan nya yang hampir saja mengambil mangkuk berisi kan makanan khusus untuk Alesya.


Mala kembali ketempat nya setelah Mbok IJah mengambil alih tugas yang akan dia lakukan. Mala pun akhirnya memilih untuk makan di dapur.


Di Dapur, memang disediakan meja makan yang khusus untuk digunakan oleh para pekerja di sana.


Mala tampak tidak begitu menikmati sarapan nya pagi ini. Jika tadi makan dia bisa makan di meja makan yang sama dengan majikan nya meski hanya makan sendiri.


Namun Mala tidak merasa jika status mereka berbeda karena makan di meja yang sama. Bahkan Mala ditempat kan di kamar tamu bukan kamar pembantu seperti pekerja lain nya.


Berbeda dengan pagi ini. Dimana Mbok Ijah memberitahunya jika dia tidak di ijinkan makan di meja yang saat ini tengah di gunakan oleh Pras dan juga Alina.


Pras dan Alina bukan nya ingin membeda bedakan. Hanya saja, apa yang di lakukan Mala semalam sudah membuat si pemilik rumah tidak nyaman dan takut menimbulkan kesalahpahaman terhadap pasangan nya.


Makanya semalam, Pras langsung menghubungi Mbok Ijah dan memberitahukan apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan oleh Mala selama gadis itu tinggal di rumah itu.


*

__ADS_1


*


Usai merampungkan sarapan nya, Pras pun bersiap untuk mengantarkan istri dan anak nya yang akan pergi ke butik Mama Widia.


Karena rencana nya, Alina akan mulai membantu Mama Widia untuk mengelola butik nya. Begitu pun juga dengan Mala, yang akan mulai bekerja di sana.


"Selamat pagi tuan, nona," sapa Wahyu yang sudah menunggu di dekat mobil yang dia bawa untuk menjemput sang atasan dan istrinya.


"Pagi juga Yu, tolong antarkan kami ke butik Mama dulu ya. Baru setelah itu kita ke kantor," titah Pras pada wahyu.


"Baik tuan,"


"Kamu, duduk didepan saja. Dibelakang, biar aku dan istriku," ucap Pras pada Mala yang hampir saja membuka pintu mobil bagian belakang.


"Baik Mas," jawab Mala langsung beranjak menuju ke arah pintu depan mobil.


"Dan satu lagi," lanjut Pras menghentikan langkah kaki Mala yang akan masuk kedalam mobil.


"Iya?"


"Jangan memanggilku dengan sebutan 'Mas'. Kita tidak se akrab itu hingga kamu bisa menyebutku dengan sebutan 'Mas'." sambung Pras dengan nada dingin dan juga datar nya.


Bahkan tanpa peduli, pria itu langsung masuk begitu saja kedalam mobil tanpa mau peduli akan perasaan Mala yang merasa kecewa dan juga malu.


Setelah menghela nafas panjang demi menetralkan perasaan nya. Mala pun akhirnya masuk kedalam mobil dan duduk tepat di samping Wahyu yang akan membawa mobil hari ini.


Setelah meyakinkan jika semua sudah masuk kedalam mobil dan duduk dengan tenang. Wahyu pun mulai melajukan mobil nya menuju ke butik mama WIdia.


Sepanjang perjalanan menuju ke butik, Mala pun memilih untuk terdiam. Sungguh, kejadian tadi masih sangat melukai hati nya.


Meski tidak ada yang salah, namun tetap saja. Apa yang di lakukan Pras sangat membuat nya malu. Hingga Mala merasa mmalu bahkan untuk sekedar mengangkat kepala nya.


Setelah hampir satu jam dalam perjalanan, akhirnya mobil yang di bawa oleh Wahyu pun tiba di parkiran butik.


Pras pun ikut turun dengan membawa Alesya di dalam gendongan nya dengan menggunakan satu tangan. Sementara tangan satu nya lagi, Pras gunakan untuk menggenggam tangan Alina.


Sementara Mala dan Wahyu berjalan tepat di belakang kedua sejoli yang tengah di mabuk asmara itu. Hingga membuat kedua nya bak kertas dan materai 10rbu. 🤭🤭


Lengket menempel dan tidak terpisahkan 😅😅.

__ADS_1


Kedatangan kedua sejoli itu di sambut oleh para karyawan butik yang sudah mulai bertugas di sana.


"Selamat pagi, selamat datang Non Alina dan Den Pras," seorang wanita berhijab yang merupakan kepercayaan dari mama Widia.


"Selamat pagi juga Mbak Sofi, apa Mama sudah datang?" jawab Alina saat masuk kedalam butik dan mendapatkan sambutan yang hangat dari Mbak Sofi.


"Baru saja tiba Non, sekarang beliau ada di ruangan nya,"


"Oh, baiklah kalau begitu. Kami masuk dulu ya,"


"Iya, silahkan Non, Den,"


Alina dan juga Pras pun langsung masuk kedalam ruangan pribadi mama Widia yang tersedia di dalam butik dengan di ikuti oleh Mala.


Sementara Wahyu sendiri lebih memilih duduk di teras belakang untuk menikmati secangkir kopi dan satu batang nikotin yang selalu terselip di saku celana nya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk,"


"Selamat pagi Ma, kami sudah datang,"


"Pagi juga sayang. Ayo masuk, bagaimana liburan nya? Sudah ada hasilnya kah?" tanya mama Widia membuat sebuah kerutan di dahi Alina.


"Hasil? Hasil apa Ma?"


"Ya adek bayi buat teman Alesya dong sayang,"


"A_adek bayi? Maksud Mama?"


"Pras kemarin bilang, kalau dia akan mengajakmu jalan jalan dengan harapan setelah pulang dari sana kalian akan membawa kabar bahagia dengan hadirnya Pras junior di sini," jelas mama Widia sembari mengusap lembut perut Alina yang masih rata.


Sementara Alina sendiri hanya diam terpaku. Alina tidak menyangka jika Pras kini mengharapkan seorang anak yang lahir dari rahimnya.


*

__ADS_1


*****


__ADS_2