
***
"Lalu, bagaimana dengan kita?" tanya Raya saat mereka terdiam selama beberapa saat.
"Memangnya, kita kenapa?" tanya balik Dipta pada Raya yang terlihat bingung.
"Ya kita, bagaimana dengan kita? Nggak mungkin kita akan tidur satu ranjang kan?"
"Jadi sedari tadi kamu bengong cuma mikirin ranjang? Ya ampun Rayana, ngeselin banget sih jadi cewek, bukan nya bantuin mikir? Malah sibuk mikirin ranjang,"
"Ya harus dipikirin lah, aku kan belum terbiasa tidur satu ranjang sama cowok. Dan laginya, Kalau untuk pelaku mesum itu, lebih baik kita cari ahli IT deh Ta. Kita bisa cari informasi tentang mereka lewat internet,"
"Lah, memang nya kamu pikir aku udah pernah tidur satu ranjang sama cewek apa? Ini juga pertama untuk aku. Dan untuk kedua orang laknat itu, jika mereka bisa tertangkap cctv, warga sama Pak Toto nggak mungkin patroli Raya. Mereka bisa aja langsung ciduk tuh dua manusia pezinah itu, jika mereka terekam oleh cctv. Sepertinya, mereka hapal betul dengan situasi di dalam sekolah,"
"Kenapa kita nggak minta bantuan teman teman lain nya. Bukan nya si Edo jago hacking ya? Gimana kalau kita coba aja pake ke ahlian dia. Cctv sekolah mungkin bisa mereka kelabui, tapi nggak dengan cctv jalan kan? Bagaimana kalau kita hacking sistem cctv yang terpasang di jalan yang menuju ke sekolah,"
"Kenapa harus pake cara hacking? Kenapa nggak minta bantuan si pemilik cctv?"
"Akan sulit, nggak semua orang bisa menerima data pribadi mereka dilihat oleh orang luar. Dan Data cctv cukup privasi bagi si pemiliknya. Biasanya, hanya pihak kepolisian yang bisa diberi ijin melihat data cctv,"
"Tumben pinter," ledek Dipta setelah mendengar penjelasan dari Raya.
Dipta tidak menyangka, jika gadis bar bar yang sudah berteman dengan nya selama bertahun tahun itu, ternyata cukup bisa di ajak berdiskusi.
Bahkan Dipta tidak menyangka jika Raya ternyata punya otak yang encer alias pintar. Selama ini, Dipta melihat sosok Raya yang sembrono, ceroboh, malas, manja, dan cukup bar bar.
Tidak jarang gadis itu terlibat perkelahian dengan orang yang sudah mengganggu nya atau membuat masalah dengan nya.
"Ck, emang aku pinter kali. Sudah ah, tidur yuk? Cape nih, ngantuk,"
"Eh, jangan dulu. Mama sudah masak, kita makan siang bareng dulu. Baru udah gitu boleh tidur siang sampe sore. Pas adzan Ashar bangun ya, biasanya kalau weekend gini kita selalu sholat jamaah bareng,"
"Ah, gitu ya? Iya deh. Kalau gitu aku mandi saja dulu kali ya? Habis itu bantuin Mama masak,"
"Emang bisa?"
__ADS_1
"Bisalah, masak aer. Hahaha,"
"Dasar,"
Dipta pun hanya menggeleng kan kepalanya saat melihat tingkah Raya yang kembali random.
Dipta pun meninggalkan kamar nya saat Raya sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
“Raya mana Ta? ini makanan nya sudah mau siap, kita makan siang bareng,” tanya Mama Alina pada putranya itu.
“Ada, masih di kamar Ma. Mandi dulu katanya, nanti juga turun,” jawab Dipta mendudukkan diri di kursi yang biasa dirinya tempati.
“Kak Raya nginep di sini ya?” tanya si kecil Keysa pada sang Kakak yang kini duduk di samping nya.
“Kak Raya, mulai sekarang akan tinggal di sini Dek,” jawab Dipta membelai lembut pucuk kepala bocah yang saat ini berusia 10 tahun itu.
Saat Dipta berusia 8 tahun, Alina kembali hamil dan dikaruniai bayi perempuan yang diberi nama Keysa Wiratama yang saat ini tengah duduk di bangku sekolah dasar.
“Benarkah? wah bagus dong, jadi Keysa ada teman belajar,” ucap gadis kecil itu sumringah.
“Bukan begitu, Kak Ale kan sekarang sering pulang sore atau malam. Aku suka kasihan lihat Kakak pulang kuliah terus aku nya minta di temani. Kakak kan juga pasti cape banget sama tugas kuliah Kakak sendiri, makanya aku selalu belajar sendiri,”
“Duh adik siapa sih ini, manis banget? pengertian nya,” ucap Alesya mencubit gemes pipi adik nya.
“Jangan gitu Kak, sakit.”
“Suruh siapa gemesin,” jawab Alesya lagi sembari mengitari meja makan untuk duduk di kursi nya.
“Selamat siang semua, maaf Raya terlambat,” ucap Raya yang juga baru saja bergabung di ruang makan.
“Kak Raya,” seru di kecil Keysa berlari ke arah Raya lalu memeluk pinggang gadis yang kini sudah jadi kakak ipar nya itu.
“Jadi benar, kalau Kak Raya mau tinggal disini?” tanya nya antusias.
“I_iya sayang, mulai sekarang Kakak akan tinggal disini,” jawab nya tiba tiba merasa canggung sendiri.
__ADS_1
"Hore, Keysa jadi ada temen kalau Kak Raya tinggal di sini," Seru bocah kecil itu kegirangan.
"sudah sudah, ayo sini. Kita mulai makan nya, Ta tolong panggilin Papa,"
"iya Ma,"
Dipta pun segera beranjak menuju ke ruang kerja sang ayah. Dimana ruangan itu menjadi ruangan favorit sang ayah jika tengah berada di rumah.
"Pa, makan siang dulu, semua sudah nunggu di meja makan," Ucap Dipta saat membuka ruang kerja itu, dan memberitahu sang ayah hanya di ambang pintu. Tanpa masuk ke dalam nya.
"Ok,"
Papa Pras pun segera bangkit dari duduknya lalu mengikuti langkah putranya yang sudah lebih dulu beranjak menuju ruang makan.
Suasana ruang makan pun kini kian ramai dengan bergabung nya Papa Pras dan juga Raya sebagai anggota keluarga baru di sana.
Raya sempat merasa kagum pada keluarga sahabat nya itu. Dimana mereka selalu meluangkan waktu untuk berkumpul dan tidak pernah pergi kemana mana saat weekend datang.
Semuanya tampak berkegiatan hanya di rumah saja. Begitu pun dengan Dipta, meski di sekolah terkenal badung dan suka sedikit bikin onar.
Namun, pemuda berusia 18 tahun itu tidak pernah keluyuran saat weekend tiba. Tidak jarang pria itu juga absen dari acara yang diadakan oleh teman teman nya jika acara itu diadakan di akhir pekan.
Kecuali, memang acara itu penting bagi nya maka. Dipta akan menyempatkan hadir meski hanya sebentar. Hal yang jarang di dapatkan oleh Raya dari kedua orang tuanya.
Meski Raya anak tunggal, namun tampaknya kedua orang tua nya terlalu sibuk dengan dunia mereka. Bahkan di akhir pekan juga, tidak jarang Raya hanya terdiam seorang diri di dalam rumah mewah nya dan hanya ditemani oleh art nya saja.
Kedua orang tua nya bukan tidak sayang, hanya saja. Keduanya memiliki jabatan yang tinggi di pekerjaan mereka masing masing membuat Ayah Bara dan juga Bunda Aulia sibuk bahkan di akhir pekan.
Ayah Bara yang kini menjabat sebagai kepala rumah sakit dan Bunda Aulia yang seorang pemilik sebuah yayasan kemanusiaan sekaligus seorang pengusaha pakaian muslim. Tanpa sengaja telah mengabaikan anak semata wayang nya karena kesibukan mereka.
Beruntung Raya memiliki sahabat yang selalu ada untuk dia. Bahkan tidak jarang para sahabat nya itu menginap di rumah nya hanya demi menemani Raya yang ditinggal pergi dinas oleh bunda dan ayah nya.
*
*****
__ADS_1
..."Maaf ya baru sempat up di kamar ini. Kemarin benar benar sibuk sama urusan rumah dan anak anak. Semoga masih berkenan mengikuti kisah Dipta dan Raya ya. Happy Reading semua. 🥰🥰🥰"...