
***
18 Tahun Kemudian...
.
"Awas dong, gelap nggak kelihatan nih,"
"Tapi gue takut Dipta,"
"Yaelah, sejak kapan sih lo jadi penakut?"
"Bukan masalah penakutnya dodol. Ini tuh udah malam dan di sekolahan juga. Lo tahu kan kalau di sekolahan itu suka banyak cerita mistisnya,"
"Yaelah Raya, lo masih percaya sama hal hal konyol kaya gitu,"
"Ya iyalah. Orang gue pernah ngalamin kejadian mistis ya jelas gue percaya,"
"Itu semua nggak ada Raya, semua cerita itu bohong."
"Serah lo deh. Tapi kenapa sih nggak pake lampu senter hape lo? Mana gelap banget lagi,"
"Hape gue mati. Habis daya, gue lupa nggak bawa charger. Hape lo deh, sini pinjem dulu."
"Sama, mati juga."
"Ya ampun, terus ini gimana?"
"Lo sih, pake ngajakin ke perpus segala jadi gini kan. Lo kan tahu kalau gue paling nggak bisa diem di sini. Bawaan nya ngantuk mulu tiap kesini,"
"Ya mana gue tahu kalau gue juga bakal ketiduran, jadi ke kunci deh,"
"Lagian ya, lo kalau suka sama si Aina kenapa nggak bilang saja sih? Pake jadi penguntit segala, bikin repot hidup orang aja lo,"
"Dia itu bukan orang yang menganut asa berpacaran Raya. Makanya gue kaya gini,"
"Ok gue paham dan ngerti. Tapi nih ya, yang jatuh cinta itukan lo, yang bucin itu juga lo. Terus apa hubungan nya sama gue dodol? Kenapa tiap lo mau ngikuti itu ukhti satu selalu ajakin gue?"
"Ya kan lo sahabat gue. Dan sahabat itu, harus berjuang dalam susah dan senang sama sama,"
"Susah senang sama sama pala lo, nyebelin."
"Udah, dari pada marah marah. Mending lo bantu gue mikir gimana cara kita keluar dari sini,"
"Lo sih, gimana kalau lewat jendela itu aja. Jendelanya kayanya nggak ke kunci deh,"
"Itu tinggi Raya, emang lo sanggup?"
"Ya paksain lah, dari pada nggak pulang. Bisa di amuk nyokap gue,"
"Ya sama kalau itu, gue juga bisa di amuk bokap."
"Ya udah kalau gitu, kita keluar lewat sana aja,"
"Ok, lo tunggu di sini gue ambil dulu bangku buat kita naik kesana,"
"Ok, tapi jangan lama,"
"Iya bawel,"
Pemuda itu pun akhirnya beranjak untuk mengambil bangku yang akan mereka gunakan sebagai pijakan agar bisa keluar dari gedung sekolahan lewat jendela pentilasi.
__ADS_1
Mereka adalah Pradipta Dwian Wiratama dan Rayana Wijaya. Dua anak remaja yang saat ini tengah duduk di bangku sekolah menengah atas, kelas XII.
Sudah lama Dipta menyukai seorang gadis yang bernama Aina. Seorang gadis sederhana yang masuk ke sekolah itu dengan beasiswa. Dan Aina juga menjadi murid satu satu nya yang bukan dari kalangan elite.
Namun hal itulah yang membuat seorang Pradipta tertarik. Bahkan pemuda itu sempat mengutarakan perasaan nya dan meminta Aina untuk menjadi kekasih hatinya.
Sayang, Aina menolak ajakan Dipta dengan alasan ingin fokus sekolah dan lulus dengan nilai terbaik. dan Dipta pun menghargai itu.
Namun, pemuda itu tidak bisa berhenti untuk tidak memperhatikan nya. Dipta sering mengikuti Aina secara diam diam dan memperhatikan gadis itu.
Bahkan, tidak jarang pemuda itu mengirimkan barang yang tengah dibutuhkan oleh si gadis, secara diam diam juga.
Dan kini, pemuda itu harus terjebak di bangunan tempat dimana dia dan teman teman lain nya menimba ilmu karena ketiduran di perpustakaan.
Beruntung Dipta tidak sendiri, ada Raya yang juga ikut terjebak di sana. Dan kini muda mudi itu tengah berjuang untuk bisa keluar dan pulang ke rumah masing masing.
“Ayo, lo dulu yang naik,” titah Dipta pada Raya saat pemuda itu selesai menyusun bangku di bawah jendela yang akan mereka lewati untuk bisa keluar dari sana.
“Kok gue? kenapa ngg ak lo aja?”
“Kalau gue duluan, siapa yang menahan tubuh lo biar nggak jatuh?”
“Lo, yakin kan kalau ini aman?”
“Aman, ayolah. Keburu malam banget ini,”
“Iya,ok. Pegang yang erat ya. Awas kalau sampai gue jatuh,”
“Iya Raya, bawel banget sih,”
Dengan ragu ragu, Raya pun mulai naik ke atas bangku yang sebelumnya sudah di susun oleh Dipta agar bisa di naiki.
seru Raya saat Dipta terus mendongakkan kepalanya ke arah Raya yang sudah naik ke atas bangku.
Berhubung Raya masih menggunakan rok sekolah dan tidak memakai celana pendek. Raya pun mengurungkan niatnya untuk naik saat melihat Dipta terus mendongakkan kepalanya.
“Eh, sorry. Gue lupa, ayo cepat naik gue janji nggak akan lihat,” jawab Dipta yang langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
Raya pun kembali naik lalu dan sampai melewati jendela itu. Raya memberanikan diri untuk melompat ke luar jendela yang memiliki ketinggian yang cukup tinggi.
Bruuggkkk
"Hupp, berhasil," Gumam Raya saat berhasil mendarat ke bawah jendela.
Dan kini giliran Dipta yang naik, sialnya. Kaki Dipta malah kepleset hingga membuat tubuh pemuda itu oleh hingga jatuh tidak sesuai rencananya.
"Raya minggir gue mau___,"
Set
Bruuggkkk
"Awww, ssstttt,"
"Dipta, apa apa sih lo? Sakit nih, aawww sssttt aawww,"
"Sorry, nggak sengaja Ray. Sama gue sakit njir, aawww sstttt aahhhh,"
"Minggir dong Ta, tubuh lo berat,"
"Sabar Ray, bentar bentar lagi. Gue lurusin dulu biar bisa bang___,"
__ADS_1
Klik
Sreeetttt
(Anggaplah sinar lampu senter yang di sorotkan ke arah Raya dan Dipta, ya)
Deg
Seketika, baik Raya mau pun Dipta sama sama membulatkan matanya saat satpam sekolahan memergoki mereka dengan beberapa warga sekitar yang ikut patroli malam ini.
"Jadi mereka pelakunya? Muda mudi yang selalu membuat resah warga karena selalu mendesah di malam hari di gedung ini?" Tanya salah satu warga yang melihat bagaimana posisi Dipta dan Raya saat ini.
Dimana Raya tengah berada di bawah Dipta dengan rok yang terangkat. Hingga membuat pemandangan yang tidak senonoh karena tubuh Dipta berada di antara kedua paha Raya yang terbuka.
Sementara Pak Toto, selaku security di sana hanya bisa melongo tak percaya. Pasalnya, selama ini dia mengenal Dipta dan Raya, dan mereka bukanlah anak nakal yang akan membuat sekolahan dimana mereka belajar kena malu.
Belum lagi, kedua orang tua Raya dan Dipta adalah pemilik saham terbesar di sekolahan itu. Mana mungkin kedua anak itu mencoreng nama baik kedua orang tuanya dengan berbuat mesum di gedung sekolahan.
Namun, apa yang dia lihat hari ini adalah bukti jika ada anak sekolah yang sering berbuat mesum di gedung sekolah itu benar adanya.
Beberapa kali Pak Toto mendapat keluhan jika di gedung sekolah tempatnya bekerja kerap terdengar suara orang mendesah. Dan tentu saja tersangka utama jatuh pada penghuni bangunan.
Yang tidak lain adalah, murid, guru, security dan para staf sekolahan. Karena akan sangat tidak mungkin jika itu orang luar.
Gedung itu sudah difasilitasi oleh smart lock di tiap pintu dan gerbang sekolahan nya. Jadi hanya orang yang memiliki akses yang dapat masuk.
Dan, alangkah terkejutnya Pak Toto saat melihat kedua anak dari pemilik setengah gedung itu tengah dalam keadaan yang tidak senonoh.
*
*
"Ada apa Pa? Kok malam malam mau pergi?" Tanya mama Alina saat melihat suami nya bersiap untuk pergi.
"Kita harus ke sekolah Ma, ayo cepat bersiap."
"Ke sekolah? Malam malam begini? Untuk apa?"
"Dipta, dia buat masalah di sekolah,"
"Dipta? Kenapa dengan Dipta Pa?" Kini yang bertanya bukan lah mama Alina melainkan Alesya, anak tertua Di keluarga itu.
"Ada masalah. Papa juga kurang tahu, Kakak tunggu di rumah saja ya, tolong jagain adek selama Papa dan Mama pergi ke sekolah."
"Iya Pa, jangan khawatir Keysa sama Ale saja."
"Baiklah, kami pergi dulu."
"Iya Pa, hati hati,"
.
*
Hai hai, jangan kaget ya. Berhubung banyak yang nggak mau adanya pelakor jadi Author lanjut di season 2 dengan kisah anak Pras dan Alina deh ya...
Soalnya Alina kan sudah bahagia sama Pras nya. Lengkap dengan ketiga anak mereka.
Oh iya, disini Alina juga udah punya 3 anak. Yang satu namanya Keysa Tria Wiratama adiknya Dipta.
Ok, cukup pemberitahuan nya, semoga tetap menghibur ya...Happy Reading. 🤗🤗🤗
__ADS_1