Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Extra Part End


__ADS_3

...***...


.


"Mas sakit," seru seorang wanita yang saat ini tengah berada di ruang bersalin di rumah sakit besar yang terletak di tengah kota.


“Sabar sayang, kamu pasti bisa dan kamu pasti kuat,” jawab si suami yang tidak tahu harus berbuat apa demi menolong sang istri yang tengah kesakitan.


“Kamu ya, dari tadi sabar sabar terus bisa nya. Kamu nggak tahu sih gimana sakit nya. Oh ya ampun sakit lagi Mas,”


“Iya terus Mas harus bagaimana sayang. Seandai nya bisa di pindahkan ke Mas rasa sakit nya pasti sudah dari tadi Mas pindahkan ke Mas, biar Mas saja yang kesakitan. Sabar ya, Mas yakin kamu adalah wanita yang kuat dan bisa melalui ini, ingat sebentar lagi kita akan bertemu dengan putra kita loh sayang,” jawab nya sudah merasa di puncak keputusasaan karena terus dimarahi sang istri yang kesakitan karena kontraksi.


“Kamu sih, ini semua gara gara kamu. Kamu, cuma mau enaknya saja tapi sakit nya malah aku sendiri,” umpatnya lagi.


“Iya, tapi kamu juga kan menikmatinya kan sayang. Kenapa salahin aku,” protes sang suami yang membuat dokter dan para suster yang ada di sana untuk membantu proses persalinan tersenyum kaku.


“Sayang, jangan berdebat dong. Malu,” lirih Mama Alina yang saat ini ikut menemani sang menantu yang akan melahirkan.


Wanita paruh baya itu pun akhirnya menegur anak nya yang berdebat dengan sang istri. Mama Alina dulu juga pernah merasakan sakit yang luar biasa itu.


Jadi Mama Alina tahu betul bagaimana rasanya berada di posisi Raya saat ini. Meski dulu Mama Alina tidak memarahi Papa Pras namun semua wanita berbeda beda dalam mengekspresikan perasaan nya saat kontraksi itu datang.


Begitu pun dengan Mama Alina dan Raya, yang berbeda saat mengekspresikan perasaan. Jika Mama Alina terlihat tenang, berbeda dengan Raya yang meluapkan semua amarahnya saat kontarksi itu datang secara berkala.


“Dan kamu Dipta, jangan membantah. Iya in saja ya, setidak nya itu bisa membuat Raya mengalihkan rasa sakit nya,” lanjut Mama Alina.


“Iya Ma, maaf.”


“Pokoknya, setelah ini. Aku nggak mau di sentuh oleh Mas lagi. Aaaawwww, sakit,” rintih Raya lagi.


“Iya sayang iya, Mas nggak akan sentuh lagi kok. Sekarang fokus sama bayi nya saja ya sayang ya, sudah jangan marah marah lagi,” jawab Dipta yang menenangkan Raya yang kembali meringis kesakitan, bahkan kini sudah sampai menangis karena rasa yang kuat dari perutnya itu.


Meski begitu, Raya juga menolak untuk melakukan operasi. Raya rela menahan rasa sakit yang dahsyat itu hingga berjam jam lamanya hanya demi melahirkan si buah hati dengan cara normal.


Dan, setelah sekian jam bertahan dan berjuang menahan rasa sakit. Raya dan juga Dipta pun bisa bernafas lega saat suara tangis bayi mulai terdengar di ruangan itu.

__ADS_1


Oek


Oek


Oek


“Alhamdulillah, akhirnya.” gumam Dipta saat suara tangis sang buah hati mulai terdengar di seluruh penjuru ruangan dimana istrinya melahirkan.


Yang itu artinya, penderitaan Raya menahan rasa sakit tuntas sudah dengan lahirnya sang buah hati ke dunia.


“Selamat tuan, bayi nya berjenis kelamin laki laki dan bayinya lahir dengan keadaan sehat dan juga sempurna tanpa kekurangan satu apapun,” ucap sang dokter yang kian membuat suasana kian haru.


“Iya Dokter, terima kasih.”


“Mari Pak. adzani dulu putranya sambil menunggu ibu nya dibersihkan dan dipindahkan ke kamar rawat setelah melalui masa observasi nya selesai,”


“Baik Dokter. Sayang, Mas kesana dulu ya nanti setelah selesai mengadzani putra kita Mas kesini lagi,’ ucap Dipta berpamitan pada istrinya.


“Iya Mas,” jawab Raya di sisi tenaga yang dia punya.


Rasanya lemas sekali, namun hal itu juga membuat Raya merasa bahagia tidak terkira karena perjuangan nya selama perjam jam menahan rasa sakit terbayar sudah dengan hadirnya putra pertama mereka.


*


*


“Cucu Nenek juga,”


"Iya, cucu kita bersama jeng. Hihihi,"


Kedua nenek itu tampak kompak menyambut cucu pertama mereka itu. Keduanya bahkan langsung melesat ke rumah sakit untuk menemani sang anak dan sang menantu saat diberi kabar jika Raya akan melahirkan bayi mungil yang begitu mirip dengan ayah nya itu.


Dan kini, kedua nenek itu akhirnya bisa bertemu setelah dua jam bayi itu dilahirkan ke dunia. Keduanya tampak kompak silih berganti menggendong bayi yang sedari tadi anteng tidur dalam gendongan sang nenek.


"Wajahnya mirip sekali dengan mu Kak, memang benar benar anak seorang Pradipta,"

__ADS_1


"Iya dong Ma, harus. Itu adalah bukti kerja keras aku selama ini," jawab Dipta membusungkan dadanya.


Berbangga hati saat bisa menciptakan makhluk kecil yang Allah titipkan untuk dia rawat dan dia jaga. Yang begitu mirip dengan nya.


"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk nya?"


"Sudah Ma,"


"Siapa? Siapa nama bayi kalian ini?"


"Reigha Pradipta Wiratama. Dengan harapan, kelak Reigha bisa menjadi cahaya penuh keberkahan untuk keluarga kami Ma, "


"Nama yang sangat bagus, dan semoga harapan kalian akan putra kalian akan terwujud ya, Aamiin."


"Aamiin,"


*


"Terima kasih ya sayang, terima kasih karena sudah hadir dan menjadi pelengkap dalam hidup aku. Terima kasih juga karena sudah berjuang melahirkan anak kita, kamu wanita hebat. Aku sangat mencintaimu Rayana Wijaya,"


"Terima kasih juga karena Mas sudah bersedia menjadikan aku istri serta ibu untuk anak anakmu Mas. Semoga kita bisa selalu berjalan bergandengan tangan dan beriringan sampai kita menua bersama hingga menghembuskan nafas terakhir kita. Aku juga, sangat mencintaimu Mas,"


Dipta pun kembali membawa Raya masuk kedalam pelukan nya. Mendekap erat tubuh wanita yang baru saja melewati masa masa terberat bagi seorang wanita semasa hidupnya. Dimana dia harus berjuang, bertaruh nyawa demi menghadirkan nyawa baru ke dunia.


Menjelang siang, kamar rawat inap yang di tempati oleh Raya pun akhirnya ramai di datangin oleh dua pasangan sahabat Raya juga Dipta.


Sulis yang sudah lebih dulu melahirkan akhirnya bisa ikut berkumpul kembali setelah kembali ke tanah air satu minggu sebelum Raya melahirkan dengan membawa bayi mungil berjenis kelamin perempuan.


Sedangkan pasangan Edo-Hani, Radit-Alesya kini sama sama tengah menunggu kehadiran sang buah hati. Hani yang lebih dulu menikah nyatanya tidak langsung di beri kepercayaan.


Hingga butuh beberapa bulan menunggu, hingga akhirnya Hani pun dinyatakan Hamil oleh dokter saat dia jatuh sakit. Kehamilan Hani nyaris berbarengan dengan Alesya yang dinikahi oleh Radit.


Pasangan yang paling terakhir menikah itu tidak harus menunggu lama, karena di usia pernikahannya yang memasuki bulan kedua, Alesya sudah di nyatakan hamil.


Kini lengkap sudah kebahagiaan mereka dengan adanya pasangan hidup masing masing. Dan juga si buah hati dan calon buah hati yang akan hadir di beberapa bulan mendatang.

__ADS_1


*


...🌸 SELESAI 🌸...


__ADS_2