
***
Tubuh Alina membeku saat mendengar permintaan aneh dari pria yang semalam sudah berhasil menjadikan Alina istri seutuhnya untuknya itu.
Pria yang biasa bicara dengan segala umpatan kasar dan juga kecaman, kini nada bicara nya berubah lembut dengan permintaan yang begitu mencengangkan.
Sungguh? Sumpah demi apa jika seorang Pras meminta ciuman penyambut pagi. Saking shock nya, Alina hanya bisa terdiam menatap tidak percaya pada wajah bantal pria tampan itu.
"Kenapa? Bukan kah kita sudah melewati malam yang jauh lebih panas dari sekedar ber____,"
Ucapan Pras langsung terpotong karena Alina langsung membungkam mulut lemes pria itu yang dengan tidak ada malu nya menyinggung malam panas yang mereka berdua lewati semalam.
Mendapat serangan dari Alina, tentu saja tidak disia sia kan pria itu. Pras langsung menekan tengkuk Alina dan memperdalam ciuman itu hingga keduanya pun kembali hanyut dalam pergulatan lidah yang kian memanas.
"Ki_kita sudah ditunggu di bawah Mas,"lirih Alina disela pangutan bibirnya dengan Pras.
Alina pun menahan tangan Pras yang akan memulai menjelajahi tubuh mulus Alina yang saat ini masih belum tertutup apapun.
Mendengar ucapan Alina, Pras pun baru menyadari jika keduanya masih berada di rumah sang mertua. Dan tentu saja, akan sangat tidak sopan jika melewatkan sarapan bersama didalam rumah itu.
Dengan sangat terpaksa, akhirnya Pras pun mengurai pelukan nya lalu membiarkan Alina bangkit dari ranjang yang menjadi saksi, bersatu nya dua insan dalam sebuah penyatuan itu.
"Aww, ssstttt," seru Alina saat akan berdiri namun kembali terduduk saat inti tubuhnya berdenyut nyeri dan ngilu.
"Sakit sekali ya?" tanya Pras langsung bangun dari tidurnya dan mendekati Alina yang sudah terduduk di bibir ranjang.
Alina hanya mengangguk lalu memalingkan wajahnya ke sembarang arah untuk menyembunyikan Rona merah wajahnya agar Pras tidak bisa melihatnya.
Tapi sayang hal itu sudah terlambat Alina lakukan, pasalnya Pras Kadung melihat semuanya. Pras pun tersenyum geli saat melihat wajah malu malu Alina.
Pras pun langsung turun dari ranjang dan dengan gerak cepat, Pras langsung mengangkat tubuh Alina. Membawa tubuh polos Alina dalam gendongan nya, masuk kedalam kamar mandi.
"Aw, Mas." pekik Alina yang kaget saat tiba tiba tubuh nya melayang.
"Kenapa? Bukankah ini yang harus aku lakukan setelah membuatmu tidak bisa berjalan,"
"Tapi, bagaimana dengan kaki Mas? kalau kakinya Mas Pras cedera lagi karena berat badan aku gimana?" tanya Alina begitu cemas saat Pras menggendong dirinya.
__ADS_1
Sepertinya Alina lupa, jika semalam yang membawa nya keluar dari kamar mandi adalah Pras dan dengan melakukan hal yang sama. Membawanya dalam gendongan.
"Tidak apa apa, semua akan baik baik saja. Percayalah,"
Alina pun tidak bisa lagi menolak dan berbuat apa apa. Dia hanya bisa diam dengan tangan yang mulai dia lingkarkan dileher Pras yang di jadikan sebagai penahan agar tubuh Alina tidak terjatuh.
Pras menurunkan tubuh Alina tepat di bawah shower, lalu menyalakan shower itut dan kini sudah mengguyur tubuh kedua pasutri yang berdiri dibawahnya.
"Mas apa sebaiknya kita bergan__mmfffttt,"
Ucapan Alina terpotong saat Pras kembali memangut bibirnya. ******* habis dengan tangan yang mulai kembali bergerilya ditubuh Alina.
Rupanya pria itu lagi lagi tidak membuang kesempatan untuk kembali merasakan sebuah kenikmatan dari sebuah pelepasan yang dilakukan di pagi hari.
Alina sendiri hanya bisa pasrah saat suaminya melakukan serangan fajar pada dirinya pagi ini. Keduanya pun akhirnya menikmati petualangan baru dengan kembali melakukan penyatuan itu didalam kamar mandi.
Ruangan yang biasanya hanya di isi dengan suara gemercik air pun pagi ini berubah dengan suara tambahan. Suara ******* dan lenguhan pun kini menggema mengisi seluruh ruangan kamar mandi yang ada didalam kamar Alina.
"Aaahhhh, Alina, sayangku,"
Akhirnya lenguhan panjang pun mulia terdengar saat keduanya sama sama mencapai puncak nya. Alina yang duduk di pangkuan Pras yang duduk di atas closet pun akhirnya terkulai lemas dan menjatuhkan tubuhnya ke dada bidang Pras dengan kepala yang dia sandarkan di bahu pria itu.
Namun kembali lagi, Alina tidak bisa menyimpulkan hal itu. Toh apa yang dia dengar juga tidak jelas, bisa saja itu hanya halusinasi semata dibawah alam sadar karena pengaruh dari gairah di dalam tubuhnya.
"Kita bersih bersih sekarang," ucap Pras membangunkan lamunan ALina prihal pras yang terdengar menyebut namanya di ujung pelepasan nya.
"Ah, i_iya. Maaf," Alina pun segera bangun dari pangkuan Pras lalu segera beranjak dari sana ke arah shower untuk membersihkan diri yang di ikuti oleh Pras.
Keduanya kini benar benar mandi bersama, membersihkan sisa sisa keringat yang keluar saat adegan 21++ itu terjadi.
Usai menyelesaikan mandi, keduanya pun sama sama keluar kamar mandi dengan ALina yang menggunakan jubah mandi, sementara Pras melilitkan handuk di pinggang nya.
Pria itu tampak mengambil satu buah handuk berukuran lebih kecil untuk mengeringkan rambutnya, begitu pun dengan ALina yang melakukan hal yang sama.
Alina melilitkan hancurk kecil itu di atas kepalanya, agar handuk kecil itu bisa menyerap air yang ada di rambut ALina.
Pras mendudukkan dirinya dibibir ranjang sembari tangan nya terus bergerak mengusap usap rambutnya dengan handuk agar mengering.
__ADS_1
Alina sendiri langsung mengambil baju ganti untuknya, namun sayang. ALina tidak menemukan baju ganti untuk dipakai oleh Pras.
"Tidak ada baju ganti untuk Mas disini, mau aku pinjamkan saja punya papa?" tanya ALina saat kembali dari walk in closet miliknya.
"Baiklah," jawab Pras singkat.
"Baiklah, tunggu sebentar biar aku pinjam dulu bajunya ke Papa,"
Saat Alina membuka pintu, bertepatan juga dengan mama Tari yang kembali lagi untuk memanggil anak dan menantunya itu untuk sarapan bersama.
Baik mama Tari maupun Alina sama sama dibuat kaget. Hingga keduanya terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mama Tari menyadari jika ada yang aneh pada putrinya itu.
"Eh, Mama. Maaf, kami terlambat ya? Tadi aku kesiangan Ma dan baru selesai mandi," ucap Alina gelagapan saat melihat tatapan aneh yang diberikan sang mama padanya.
"Ah, tidak apa apa sayang. Lagi pula kami juga tidak buru buru, kalian santai saja." jawab Mama Tari tersenyum penuh selidik pada putrinya itu.
"Ah iya Ma, berhubung kami kemari nya dadakan jadi Mas Pras tidak bawa baju ganti. Bisa pinjam punya Papa dulu nggak?" tanya ALina mencoba menngalihkan perhatian sang mama.
"Boleh sayang, tentu saja boleh. Tunggu sebentar, biar Mama ambilkan,"
Mama Tari pun langsung bergegas masuk kedalam kamarnya yang berada tepat disamping kamar Alina.
Dan tidak menunggu lama, mama Tarai pun sudah kembali lagi dengan baju ganti yang terlihat masih baru karena masih terbungkus plastik dengan sangat rapih.
"INi, pakailah. Kebetulan kemarin Mama dan Papa habis belanja dan ini ada pakain baru. Pakai dan bawalah,"
"Baik Ma, terima kasih,"
"Sama sama sayang, Mama tunggu dibawah ya?"
Alina pun hanya mengangguk demi menutupi kegugiupan nya. Sementara mama Tari sendiri tersenyum senang saat melihat jika putrinya itu sepertinya baru saja melalui malam yang panjang bersama dengan suaminya.
Selain karena melihat sang putri mandi dengan berkeramas, semua itu juga diperkuat dengan adanya tanda merah yang menghiasi leher jenjang putrinya yang putih dan mulus.
*
***
__ADS_1
Sambil nunggu Alina dan Pras up, yukk mampir dikarya sahabat othor. Bantu dukung karya baru nya itu ya. Terima kasih 🤗🤗