Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.23


__ADS_3

...***...


.


"Kamu apa apa sih Mas, kenapa menanyakan wanita lain di depan ku?" tanya Winda dengan nada yang begitu kesal pada tunangan nya itu.


Saat ini keduanya sudah ada di dalam mobil dan tengah dalam perjalanan pulang ke rumah Winda yang lebih dulu akan diantar pulang oleh Haris.


Haris bergeming, rasanya lelah sekali tatkala harus berdebat dengan wanita yang minggu depan akan dia nikahi itu.


Selalu saja ada yang harus mereka debatkan di saat detik detik menjelang pernikahan. Entah itu urusan pernikahan atau yang lain nya.


Tak jarang Winda banyak mengeluhkan banyak hal yang menurut Haris itu masih bisa diatasi tanpa adanya perdebatan yang berujung dengan pertengkaran di antara keduanya.


Sungguh, Haris sudah lelah menghadapi sikap Winda yang seperti nya selalu saja ada yang salah di mata wanita itu. Bahkan, untuk baju pengantin yang dia pesan dan dia rancang sendiri itu pun selalu saja ada yang salah, hingga membuat sang desainer pusing tujuh keliling.


Muak, hanya satu kata itulah yang kini dirasakan oleh Haris pada calon istrinya itu. Entah apa yang akan terjadi pada mereka di satu minggu ke depan.


Yang pasti Haris sudah lelah dengan semua ini dan juga dengan sikap Winda yang selalu saja mencari masalah dengan mengorek kesalahan yang dilakukan Haris.


"Kenapa nggak jawab Mas? Apa, jangan jangan kamu masih susah move on dari dia, iya?" Cecar nya lagi saat hatinya tidak kunjung merasa lega karena Haris lebih memilih diam daripada menjelaskan.


“Itu kamu tahu, lalu kenapa harus di pertanyakan,’ jawab Haris dengan entengnya membuat Winda semakin terbakar emosi.


“Apa kamu bilang? Jadi, selama ini kamu masih mencintai dia Mas, iya?”


“Tentu saja, bahkan aku semakin mencintai dia setelah apa yang terjadi pada kami. Tapi kamu tenang saja, aku akan mempertimbangkan untuk mencintai kamu kalau saja kamu mau mengandung anak dariku,”


Deg


Lagi, Winda dibuat tidak berkutik saat Haris membahas kehamilan dan anak. Satu hal yang membuat Winda bergidik ngeri.


Hamil dan anak adalah satu hal tidak disukai oleh wanita yang berprofesi sebagai model itu. Melihat perubahan postur tubuh dan sering menyaksikan rekan kerja nya stress setelah memiliki anak membuat Winda memutuskan untuk tidak memiliki anak meski dia sudah menikah nantinya.

__ADS_1


Bahkan wanita itu sudah membuat surat perjanjian pranikah yang akan diserahkan pada Haris dan salah satu isi nya adalah dengan tidak hadirnya seorang anak dalam pernikahan mereka nantinya.


“Jangan mimpi kamu,” dengus Winda membuang muka ke arah jendela mobil.


Lidahnya tiba tiba saja kelu saat Haris mulai mengungkit tentang kehamilan dan juga seorang anak.


Bahkan, sampai mobil yang membawanya pulang ke rumah kedua orang tua nya tiba di halaman rumah besar dan mewah itu. Winda memutuskan untuk tetap diam dan tidak lagi bersuara meski rasa kesal dan banyaknya kata umpatan untuk meluapkan amarah nya masih menumpuk di dalam dadanya dan dengan terpaksa harus dia tahan dan dia telan sendiri saat Haris kembali mengungkit masalah anak.


Tanpa menunggu Haris membuka kan pintu mobil untuknya, Winda sudah lebih dulu membuka pintu mobil itu lalu segera turun dari dalam mobil milik Haris.


Tanpa peduli lagi akan kehadiran pria itu, Winda pun terus berjalan memasuki rumah besar milik orang tuanya.


Namun, seketika langkah kakinya terhenti saat mendengar deru mesin mobil yang menyala lalu detik kemudian mobil Haris pun pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Winda melengos tak percaya, wanita itu pikir Haris akan mengikuti nya masuk kedalam rumah dan akan pamit pulang setelah bertemu dan menyapa kedua orang tua nya, seperti yang biasa pria itu lakukan meski keduanya tengah dalam pertengkaran.


Namun ada apa dengan hari ini? kenapa pria itu pergi bahkan tanpa kata pamit, tidak pada dirinya ataupun kepada kedua orang tuany. Batin Winda bermonolog, hingga hal itu kian membuat Winda semakin murka saja.


Wanita itu pun langsung masuk ke dalam rumah dengan menghentakkan kakinya karena kesal. Ini pertama kalinya Haris benar benar mengabaikannya, bahkan pria itu begitu terang terangan mengungkapkan rasa cinta nya pada wanita lain.


*


*


Berbeda dengan Haris dan Winda yang tengah dilanda sengketa rasa. Pasangan Dipta dan juga Raya saat ini tengah menghadapi kegugupan masing masing.


Dimana saat ini keduanya tengah duduk bersama di bibir ranjang di dalam kamar hotel yang akan menjadi tempat untuk mereka beristirahat selama tiga malam ke depan.


“Sini, biar Mas bantu,” ucap Dipta memecah keheningan di antara keduanya, saat melihat Raya yang sedikit kesusahan saat melepaskan hiasan hijab yang ada di kepalanya.


“Iya, tolong ya. Maaf merepotkan,” jawab Raya yang tiba tiba merasa sungkan untuk minta tolong pada sahabat yang kini sudah menjadi suami untuknya itu.


Dipta pun bangkit dari duduknya lalu berdiri di depan Raya yang masih duduk di bibir ranjang. Tangan Dipta mulai bergerak di kepala Raya untuk melepaskan hiasan kepalanya yang menempel di kepala istri nya itu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, kepala Raya pun akhirnya terlepas dari beban yang selama beberapa jam ini cukup menyiksa nya.


“Sudah, mandilah. Nanti kita bergiliran menggunakan kamar mandi nya,” ucap Dipta yang mengalah dan membiarkan Raya menggunakan kamar mandi lebih dulu.


“Baiklah,” jawab Raya yang langsung bangkit dari duduk nya dan bersiap untuk melangkah menuju ke kamar mandi.


Namun langkahnya terhenti saat menyadari sesuatu. Dengan wajah yang bingung dan juga gugup Raya pun kembali berbalik menghadap Dipta yang masih berdiri tidak jauh dari ranjang.


“Kenapa? kok tidak masuk?” tanya Dipta saat menyadari jika istrinya itu masih diam di depan pintu kamar mandi.


“Emm, bisa minta tolong satu kali lagi nggak?” tanya nya ragu.


“Apa? apa yang bisa aku bantu?” tanya balik Dipta, melangkah maju mendekati Raya.


Melihat pergerakan dari Dipta yang mulai mendekati dirinya. Raya pun segera berbalik membelakangi pria yang saat ini tengah menggunakan kemeja putih dengan kain bagian lengan yang digulung hingga siku.


Hingga membuat penampilan pria itu terlihat keren dan mempesona. Jujur, Raya begitu gugup saat berhadapan dengan Dipta yang terlihat santai itu.


“Kok berbalik? Memangnya apa yang bisa aku bantu?” tanya Dipta saat melihat Raya malah berbalik memunggungi nya saat Dipta mula mendekat.


“To_tolong bukain resleting gaunnya Mas,” gumam Raya namun masih bisa didengar dengan jelas oleh Dipta.


Deg


Jantung Dipta kembali di buat berdisko saat Raya memintanya membukakan resleting gaun pengantin yang saat ini di pakai nya.


Dengan tangan yang sedikit tremor, Dipta pun mulai meraih zipper yang ada di tengkuk Raya untuk di tarik ke arah bawah agar gaun yang dipakai oleh istrinya itu bisa terbuka.


Dan hal itu, tidak hanya membuat Dipta gugup. Namun Raya juga, bahkan jantung nya serasa ingin loncat saat merasakan zipper dari gaun itu nya mulai turun dan sedikit demi sedikit mulai mempertontonkan punggung putih nan mulus miliknya.


Dipta sendiri langsung menelan saliva nya dengan susah payah saat gaun bagian belakang yang di pakai oleh Raya mulai terbelah dua dan memperlihatkan punggung mulus sang istri.


*

__ADS_1


*****


__ADS_2