Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Part.51


__ADS_3

***


"Tentu saja, kami kemari karena ingin memastikan kabar yang baru saja Pras berikan." jawab mama Widia saat masuk kedalam rumah lalu memeluk tubuh menantu kesayangan nya itu.


"Selamat ya sayang. Sehat sehat sampai hari lahiran nanti," ucap Mama Widia penuh dengan rasa haru.


"Terima kasih Ma,"


"Mama sama Papa begitu bahagia, karena kita akan kedatangan anggota keluarga baru lagi," sambung Mama Tari memeluk hangat tubuh putri bungsunya yang saat ini akan menjadi seorang ibu.


"Terima kasih Ma, Pa. Doakan agar Alina bisa menjalani kehamilan ini dengan lancar hingga lahiran nanti,"


"Pasti sayang, kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan calon cucu mama. Jika butuh bantuan, tolong jangan sungkan untuk menghubungi kami. Mulai sekarang, kami akan bergilir menjaga Alesya agar kamu bisa mulai fokus pada kehamilan kamu,"


"Baiklah, mohon bantuan nya ya Ma, Pa. Mama Widia dan Papa Hadi juga. Maaf kalau selama kehamilan ini Alina akan banyak merepotkan,"


"Jangan bilang begitu. Kita ini keluarga, tentu harus saling membantu dan menjaga. Untuk merayakan hari bahagia ini bagaimana kalau kita pesan makanan. Tadinya Mama mau ajak makan di restoran, tapi Mama tahu kalau lagi ngidam itu agar rewel dengan makanan. Bahkan ada juga yang nggak bisa mengkonsumsi makanan pada umumnya. Jadi lebih baik kita pesan saja, dan menu nya biar Alina yang pilih. Bagaimana?"


"Boleh, biar Pras dan Alina yang pesan kalau begitu,"


Pras pun segera mengambil ponsel miliknya lalu menekan aplikasi yang biasa dipakai untuk memesan makanan dari berbagai rumah makan mulai dari yang mahal hingga yang sederhana. Semua tersedia di aplikasi itu.


Pras pun tidak langsung memesan begitu saja, calon ayah dua anak itu pun meminta persetujuan dari sang istri yang saat ini tengah mengidam. Takutnya, Alina tidak akan menyukainya jika Pras langsung memesan begitu saja.


Usai memesan beberapa makanan, keluarga pun akhirnya makan bersama di ruang keluarga dengan lesehan beralaskan karpet permadani.


Beruntung nya, Alina masih bisa makan dengan normal. Meski ada beberapa yang Alina tidak makan. Seperti ayam balado dan juga rendang yang sengaja di pesan namun Alina tidak memakan nya karena mendadak enek dengan bau bumbu nya.


Namun, ayam goreng dan beberapa sayur masih bisa Alina makan. Suasana sore itu pun tampak begitu hangat dengan berkumpulnya seluruh keluarga dengan format yang lengkap.


Jika keluarga Alina tengah berbahagia, berbeda dengan seorang gadis yang saat ini tengah berada di sebuah stasiun kereta dan tengah menunggu kedatangan kereta yang akan dia tumpangi.

__ADS_1


Setelah memikirkan banyak hal dan pemikiran panjang, akhirnya dia pun memutuskan untuk pergi dari kota itu menuju ke kota baru yang akan menjadi persinggahan nya saat ini.


"Maafkan Mala Bu, Pak. Mala sudah buat Ibu dan Bapak malu." gumam nya dalam hati sebelum beranjak pergi meninggalkan kota yang baru saja 2 hari dia datangi.


*


*


Ting...


Sebuah pesan tiba tiba masuk ke ponsel milik Mama Widia. Wanita paruh baya yang saat ini tengah menemani cucu pertamanya bermain itu sejenak menghentikan kegiatan nya, lalu meraih ponsel yang ada di atas meja.


Mama Widia mengerutkan dahi nya saat melihat siapa si pengirim pesan tersebut. Mama Widia pun segera membaca sederetan kata yang di ketik oleh Mala lalu dikirim ke padanya.


Sebuah ungkapan permintaan maaf karena sudah membuat keributan di rumah putranya. Jujur, Mala memang sudah jatuh cinta pada pertemuan pertamanya dengan Pras.


Mala yang kala itu masih seorang gadis remaja, begitu terpesona dengan majikan dari orang tuanya. Sikap cuek dan dingin Pras membuat si gadis remaja kian menginginkan sosok pria itu.


Sayang, hatinya sempat hancur dan terluka saat mendengar kabar jika Pras sudah menikah. Bahkan Mala pernah menyaksikan sendiri bagaimana kemesraan Pras dengan istri pertama nya dulu karena Pras dan Alisa sering menghabiskan waktu di villa.


Namun semua itu sama sekali tidak pernah di sadari oleh Pras. Karena Pras memang tipe orang yang benar benar cuek akan sekitarnya.


Pras akan bersikap hangat dan peduli pada orang orang tertentu saja. Selebihnya, pria itu bahkan akan melupakan orang yang dia temui jika itu tidak penting bagi nya.


Begitu pun dengan Mala. Pras sama sekali tidak pernah mengingat gadis itu. Pras hanya tahu jika Mala adalah putri dari Mbok Darmi yang merupakan art nya di villa.


"Ada apa Ma?" tanya Pras saat melihat mama Widia fokus dengan ponselnya.


"Ini, Mala dia minta maaf sama Mama dan dia juga pamit, pergi dari kota ini Pras."


"Pergi? Pergi kemana?"

__ADS_1


"Dia bilang sih ke luar kota. Tapi dia nggak bilang pergi ke kota mana nya."


"Biarkan saja Ma, tidak usah di pikirkan. Jujur, Pras kasihan tapi setelah kejadian itu. Pras benar benar kecewa, Pras tidak menyangka jika dia akan berbuat seperti itu."


"Iya, Mama juga kaget saat Mbok Ijah menghubungi Mama dan menceritakan semua nya. Semoga dia bisa merenungi kesalahan nya dan tidak lagi berbuat hal hal yang akan merugikan dia sendiri."


"Mama benar, semoga saja."


Pras pun kembali tidak peduli pada Mala. Pria itu benar benar tidak mau lagi terlibat hubungan dalam bentuk apapun dengan orang yang jelas jelas membuatnya kecewa.


Bahkan lebih parah nya, Mala hampir saja membuat rumah tangga nya berantakan kembali. Padahal Pras baru saja membenahi hubungan nya dengan sang istri agar lebih baik lagi.


*


*


6 Bulan Kemudian...


"Sakit Mas," lirih seorang wanita yang saat ini tengah berada di ruang bersalin sebuah rumah sakit besar dan ternama.


Dengan di temani oleh sang suami, Alina harus berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit yang begitu dahsyat karena kontraksi.


Iya, saat ini Alina tengah bersiap melahirkan putra pertamanya. Setelah rutin melakukan pemeriksaan, akhirnya Alina dan Pras pun bisa mengetahui jika anak kedua Pras dan anak pertama untuk Alina berjenis kelamin laki laki.


Dan semalam, Alina di larikan ke rumah sakit karena sudah mulai merasakan kontraksi. Bahkan wanita itu sudah tidak bisa berjalan saat harus menahan rasa sakit yang teramat sangat kuat itu.


"Sabar sayang, kamu pasti bisa, kamu adalah wanita yang kuat," bisik Pras memberikan dukungan untuk Alina yang saat ini memilih proses bersalin secara normal.


"Baik Ibu, sekarang mari saya periksa pembukaan nya ya. Jika sudah sempurna, maka Ibu akan segera bertemu dengan baby,"


Dokter wanita itu pun segera membantu memeriksa pembukaan jalan lahir Alina. Dan ternyata pembukaan itu sudah sempurna dan Alina pun bersiap untuk membawa tubuh mungil itu ke dalam pangkuan nya.

__ADS_1


*


*****


__ADS_2