Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.17


__ADS_3

***


Hatinya masih dipenuhi dan dimiliki oleh pria yang baru saja bertanya. Namun, dia tidak mau egois dan membiarkan Dipta terpenjara oleh perasaan yang tidak pernah pria itu miliki untuknya.


“Bu, Bukankah aku sudah memiliki rumah. Kenapa harus mencari rumah baru? rumah ku yang dulu juga masih ada dan kokoh, masih bisa dihuni jika memang rumah itu berkenan menjadikan aku pemiliknya kembali,”


Seketika Dipta langsung menoleh ke arah Raya saat mendapatkan jawaban yang tidak terduga itu. Bahkan Dipta sampai mengubah posisi duduknya menjadi menghadap ke arah Raya yang tengah duduk dengan kepala menunduk.


“Apa ini artinya, kamu mau melanjutkan pernikahan kita?” tanya Dipta, memastikan.


“Keputusan itu ada di tangan kamu Mas. Karena sekuat apapun aku ingin mempertahankan pun percuma jika kamu ingin melepaskan nya.” jawab Raya berusaha tersenyum dengan keadaan hati yang tidak baik baik saja.


Set


Greepppp


Raya tersentak kaget saat Dipta menarik nya lalu memeluk erat tubuh nya. Raya tidak menyangka jika pria itu akan melakukan hal itu.


“Terima kasih,” gumam Dipta tepat di telinga Raya yang tertutup oleh hijab nya.


“Ke_kenapa berterima kasih?” tanya Raya terbata karena gugup.


“Terima kasih karena masih bertahan di rumah yang lama,”


Dipta pun mengurai pelukan nya di tubuh Raya, dia pandangi dengan lekat wajah cantik yang selama ini dia rindukan namun harus menahan diri demi memantapkan hati nya.


Dan kini, tidak bisa lagi Dipta tahan dan Dipta tutupi. Jika dia sangat merindukan sosok Raya, Dipta membutuhkan Raya di samping nya.


Rasanya tidak akan sanggup jika mereka harus kembali berpisah. Cukup 7 tahun kemarin lah mereka berpisah yang jujur membuat Dipta tersiksa hingga membuat nya menjadi pria yang gila kerja hanya demi menghilangkan rasa rindu yang teramat menghimpit.


“Jangan menatapku seperti itu,” ucap Raya menundukkan kepalanya agar Dipta tidak lagi menatapnya dengan begitu intens.


Set


Namun Dipta tidak membiarkan hal itu, pria itu kembali menarik dagu Raya agar Raya mengangkat kepalanya hingga pandangan mereka kembali bertemu.


“Jangan menunduk, aku rindu dan ingin melihat wajahmu. Masya Allah, istri siapa sih ini? cantiknya,” puji Dipta kian membuat wajah Raya memanas dan memerah.

__ADS_1


“Mas, jangan menggodaku,” ucap Raya menepis tangan Dipta yang ada di wajah nya lalu kembali menunduk kan kepalanya.


Menyembunyikan rona merah yang kini menghiasi wajah cantiknya dalam balutan hijab cantik yang senada dengan gamis yang dia kenakan.


Merasa gemas dengan tingkah istri nya yang masih tampak malu malu, Dipta pun kembali menarik Raya masuk kedalam pelukan nya.


“Aku akan datang bersama Mama dan Papa untuk melamar mu secara resmi. Kemarin, saat menikah itu dilakukan dengan terpaksa dan dengan keadaan yang tidak wajar. Sekarang, aku ingin mempersunting mu dengan cara yang benar. Apa kamu bersedia menerima lamaran ku?” tanya Dipta saat mendekap erat tubuh Raya.


“Apa masih harus di jawab ya? Padahal aku lagi dipeluk loh ini,” jawab Raya yang membuat Dipta terkekeh.


Benar juga, kenapa juga Dipta memberikan pertanyaan yang konyol seperti itu. Jika Raya akan menolak mana mungkin dia mau dipeluk oleh Dipta.


Meski mereka masih terikat hubungan suami istri, namun tentu saja Raya akan menolak segala bentuk sentuhan yang dilakukan oleh Dipta jika dia tidak menghendaki kehadiran pria itu.


“Kamu benar, terima kasih ya. Maaf baru menyadari perasaan aku sama kamu sekarang. Cup,”


Raya kembali dibuat tersentak kaget saat Dipta mendaratkan satu kecupan pertama nya di kening nya.


Itu adalah ciuman pertama mereka setelah menikah sekian lama dan sempat terpisah beberapa putaran bumi.


Merasakan keningnya dikecup oleh Dipta, Raya pun refleks mendongakkan kepalanya. Seketika, kedua netra itu saling bertemu dan saling mengunci satu sama lain nya.


Namun bibir kenyal Dipta kini menyapa bibir ranum Raya. Raya yang awalnya kaget hanya bisa terdiam lalu memejamkan matanya saat Dipta mulai menghisap dan ******* bibir ranum miliknya.


Merasa tidak ada penolakan dari Raya, Dipta pun langsung menekan tengkuk Raya untuk memperdalam ciuman mereka.


Meski masih sama sama kaku, karena ini pertama untuk mereka. Namun, mereka cukup terhanyut dengan apa yang mereka lakukan hingga hal itu terhenti saat Raya menghentikan pergerakan tangan Dipta yang akan membuka hijab nya.


Dipta pun melepaskan pagutan mereka lalu menatap penuh tanya pada wanita yang masih menjadi istri untuknya itu.


Mendapatkan tatapan penuh tanya dari Dipta, Raya pun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Jujur, Raya masih ragu jika harus melakukan hal yang lebih dari berciuman.


“Tidak apa apa, aku suamimu. Aku berhak melihatmu tanpa hijab, boleh kan? aku tidak akan melakukan hal yang lebih jika kamu belum siap. Aku hanya ingin melihat istriku dengan rambutnya yang terurai,” bisik Dipta dengan suara berat nya.


Mencoba menahan sesuatu di dalam sana yang mendesak minta di tuntaskan. Namun itu tidak akan Dipta lakukan jika Raya belum siap memberikan hak nya pada Dipta saat ini.


Meski ragu, akhirnya Raya pun mengangguk lalu membiarkan Dipta membuka hijabnya dan membiarkan rambut panjang nan hitam nya terurai begitu saja.

__ADS_1


“Cantik,” lanjut Dipta sebelum kembali menyatukan bibir mereka berdua.


Keduanya pun kembali terhanyut dalam pergulatan lidah yang kini semakin panas dan semakin menuntut.


Bahkan kini Raya telah melingkarkan tangan nya di leher Dipta hingga menciptakan sebuah keintiman di antara mereka berdua.


*


*


Sementara di apartemen Edo…


“Kalian tahu sesuatu kan?” tanya Hani lagi pada kekasih dan sahabatnya Radit.


“Tahu apa sih sayang? kamu dari tadi nanya nya itu mulu. Nggak ada pertanyaan lain apa?” protes Edo karena sejak Raya dan Dipta pergi dari sana, Hani terus saja menanyakan hal yang sama.


“Ada hubungan apa antara Raya dan Dipta? kok mereka aneh banget sih?” tanya Hani lagi mengulang pertanyaan nya yang entah sudah ke berapa kali nya.


“Mereka itu sudah menikah Han, maaf menyembunyikan ini dari kalian,” bukan Edo yang menjawab namun kini Haris yang menjawab setelah kembali dari mengantarkan tunangan dan calon adik ipar nya pulang ke rumah mereka.


Merasa tidak memiliki agenda lain, Haris pun kembali ke apartemen Edo untuk berkumpul kembali dengan teman teman nya yang masih berkumpul di sana.


“Apa? menikah?” tanya Hani dan Sulis secara bersamaan.


“Iya, dan itu mereka lakukan sudah 7 tahun yang lalu,” jawab Haris lagi.


“Apa? 7 tahun yang lalu?” ucap Hani dan Sulis lagi secara bersamaan.


“Sebenarnya kami tidak punya wewenang untuk memberitahu kalian. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku terlanjur memberitahukan hal ini pada Winda, jadi akan lebih baik kalian juga tahu,” lanjut Haris yang seketika membuat wajah Sulis berubah muram.


Bahkan gadis itu langsung beranjak saat Haris mulai membahas tunangan nya itu. Sulis lebih memilih duduk menikmati angin malam di balkon apartemen.


“Kenapa duduk disini? angin malam tidak bagus untuk kesehatan,”


Ucap seseorang yang kian membuat hati Sulis kian sesak tatkala bertatapan dengan wajah tampan yang saat ini berprofesi sebagai dokter umum di sebuah rumah sakit besar di pusat kota.


*

__ADS_1


*****


__ADS_2