Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.16


__ADS_3

***


"Kalian?" tanya Hani dan Sulis menatap tidak percaya pada Raya dan juga Dipta yang keluar dari dapur dengan bergandengan tangan.


Namun, baik Dipta mau pun Raya hanya diam dengan menampilkan senyuman di wajah mereka masing masing saat Hani dan Sulis bertanya, seraya menatap heran ke arah kedua nya.


“Kami pamit dulu ya, kami masih ada urusan,” ucap Dipta berpamitan pada teman temannya.


“Loh, kok udah mau pulang aja? Lo kan jarang kumpul bareng kita Dipta. Kok udah mau pulang sih?” protes Edo pada sahabat yang jarang sekali mau datang ke acara kumpul bareng itu saat berpamitan akan pulang.


"Sorry, ada hal yang harus gue selesaikan dulu. Kita agendakan ulang pertemuan lagi nanti, ok? Ya udah, gue cabut ya? Ayo Ay," jawab Dipta lalu mengajak Raya juga ikut bersamanya.


"Loh, Raya juga?" tanya Hani tambah bingung dengan sikap keduanya.


"Iya, kita ada urusan bareng. Kami pergi ya?" jawab Dipta lagi yang membantu menjawab pertanyaan dari Hani.


Sepasang sejoli ini pun berpamitan pada yang lain nya termasuk Haris dan juga Winda. Dan pada saat mereka tiba di depan pintu tiba tiba langkah kaki mereka terhenti oleh suara seseorang yang menghentikan langkah mereka.


"Tunggu Kak, aku nebeng ya? Kebetulan aku harus segera pulang, tapi Mbak Winda masih lama di sini nya," ucap Manda menghampiri Dipta dan juga Raya yang hampir keluar dari unit milik Edo.


"Oh, bo___,"


"Maaf ya, tapi saya punya agenda lain dan tidak akan sempat untuk mampir ke tempat lain. Kamu bisa minta Haris untuk antar kamu pulang dulu atau minta Haris pesan kan taksi online. Sekali lagi, maaf ya kami tidak bisa mengantar." jawab Dipta memotong jawaban Raya yang hampir menyetujui permintaan gadis itu.


Bahkan tanpa memperdulikan ekspresi wajah dari gadis itu. Dipta langsung meninggalkan tempat dengan membawa Raya dalam gandengan nya hingga membuat Manda mencebik kesal.


Dipta pun langsung melajukan mobilnya menuju ke suatu tempat yang akan dia jadikan untuk bicara dari hati ke hati bersama dengan Raya. Lebih tepatnya tentang hubungan mereka yang memang tidak pernah di putus oleh Dipta.


Nyatanya, setelah 7 tahun berlalu Dipta sama sekali tidak pernah menjatuhkan talak pada Raya. Yang artinya, mereka masih resmi berstatus suami istri. Apa lagi, Dipta yang sejak masuk ke perusahaan rutin mengirimi Raya uang nafkah untuk Raya.


Dan Raya tahu itu, namun mencoba untuk tidak bertanya atau berkomunikasi dengan Dipta dalam bentuk apapun. Raya mencoba menahan diri.

__ADS_1


Raya menundanya hingga hatinya benar benar siap jika suatu saat nanti disaat mereka bertemu kembali Dipta memutuskan untuk berpisah dengan nya maka Raya tidak akan merasa kan sesakit di awal mereka berpisah.


Meski Raya pergi atas keinginan sendiri, namun tetap saja. Berpisah dengan orang yang sudah lama kita cintai dan selalu ada di samping kita itu terlalu berat untuk Raya.


Namun gadis itu tetap harus menahan diri demi sebuah keyakinan hati dan kesiapan hati jika memang dia bukan lah takdir yang di peruntukan untuk nya.


“Kita mau kemana Mas?” tanya Raya saat melihat mobil yang di tumpangi nya tidak menuju kearah jalan pulang, baik ke rumah kedua orang tuanya atau ke rumah mertua nya.


“Nanti juga kamu akan tahu,” jawab Dipta tidak memberitahukan dengan jelas kemana mereka akan pergi saat ini.


Tidak mendapatkan jawaban yang jelas membuat Raya sedikit bete dan akhirnya memilih untuk diam, memalingkan pandangan nya ke arah luar jendela. Menikmati pemandangan pinggir jalan yang mereka lalui.


Setelah hampir tiga puluh menit di tempuh di jalan raya. Akhirnya mobil Dipta pun memasuki sebuah gedung pencakar langit. Sebuah gedung apartemen mewah yang memiliki harga yang cukup fantastic untuk setiap unit.


Raya mengerutkan dahi nya saat Dipta memarkirkan mobil nya di basement gedung itu. Dipta langsung keluar setelah membuka seat belt yang dia pakai lalu mengitari mobil untuk membukakan pintu mobil untuk Raya.


“Ayo turun,” ajak Dipta mengulurkan tangan nya untuk diraih oleh Raya.


Raya pun akhirnya meraih tangan itu dan ikut turun dengan membawa semua kebingungan nya. Raya mengikuti jejak Dipta yang berjalan di depan nya dengan tangan yang menggenggam erat tangan nya.


Ceklek


Akhirnya, pintu itu pun terbuka setelah Dipta memasukan password pada smart door lock unit apartemen nya.


“Ayo masuk. Assalamu’alaikum,” ajak Dipta lagi sembari mengucap salam saat mereka memasuki ruang pribadi milik Dipta.


Seketika Raya dibuat kagum dan takjub dengan isi di dalam nya. Begitu tertata rapih dan bersih dengan hiasan yang simple yang menandakan jika Dipta memang orang yang simple dan nggak ribet.


Namun tentu saja hal itu tidak menutupi kemewahan dan kemegahan unit apartemen yang baru saja mereka masuki ini.


“Assalamu’alaikum,” ucap Raya saat masuk kesana dan tentu saja di jawab oleh Dipta yang memang hanya mereka berdua yang ada di sana.

__ADS_1


“Waalaikumsalam, selamat datang di istana ku. Ah salah, istana kita.” jawab Dipta membuat Raya terdiam membeku di tempat.


“Maksud nya?” tanya Raya bingung.


“Sini, kita memang harus membicarakan ini dengan serius,”


Dipta pun membawa Raya menuju ke ruang santai yang ada di dalam sana. Ruangan yang di peruntukan untuk menonton televisi karena terdapat televisi dengan ukuran super besar terpajang di dinding ruangan.


Di Depan televisi ada sebuah sofa santai berukuran besar dan di bawahnya terhampar karpet bulu yang pasti akan nyaman dan terasa hangat saat mereka duduk lesehan di sana.


Dipta pun mengajak Raya duduk lesehan di atas karpet. Dengan menyandarkan tubuh mereka di sofa yang ada di sana. Sebelum duduk berdampingan untuk bicara, Dipta lebih dulu mengambil beberapa minuman kemasan yang tersedia di lemari pendingin miliknya untuk dijadikan teman bicara.


Hening dalam beberapa saat, mencoba menyiapkan diri masing masing tatkala akhir dari semua penantian ini tidaklah sesuai dengan keinginan dan harapan hati.


“Bagaimana kabarmu selama ini? Apa kamu bahagia tanpa aku?” ucap Dipta mulai membuka suara nya.


“Baik, berusaha baik baik saja tentu nya,”


“Apa kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau dan kamu inginkan?”


“Alhamdulillah sudah,”


Dipta menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan ucapan nya. Jujur, rasanya tidak rela saja jika ujung dari semua ini adalah perpisahan.


Namun, Dipta juga tidak mau egois. Jika Raya telah menemukan kebahagiaan nya, tentu dia harus ikhlas melepaskan jika bahagia gadis itu bukan lah dirinya.


“Lalu, apakah sudah menemukan rumah yang kelak akan menjadi tujuanmu untuk pulang?”


Deg


Jantung Raya berdetak lebih kencang saat Dipta menanyakan hal itu. Raya tahu kemana arah tujuan dari pertanyaan itu, hanya saja. Raya ragu untuk menjawab nya.

__ADS_1


*


*****


__ADS_2