Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Part.42


__ADS_3

***


Usai membersihkan diri keluarga kecil itu kompak keluar dari dalam kamar secara bersamaan.


Tangan kiri Pras menggenggam tangan mungil Alina. Sedangkan tangan kanan pria itu menggendong tubuh mungil Alesya.


Pras membawa istri dan anak nya menuju meja makan dimana Mbok Darmi sudah menyediakan menu sarapan untuk keluarga yang tengah berlibur di sana itu.


Setiba nya di ruangan makan itu baik Alina mau pun sama sama merasa asing dengan ke hadiran sesosok wanita muda yang saat ini tengah membantu Mbok Darmi di dapur.


"Selamat pagi Mbok," sapa Pras dan juga Alina secara bersamaan, hingga membuat pasangan itu terkekeh bersama.


"Selamat pagi juga Den, Non, dan Non kecil." jawab Mbok Darmi menyambut keluarga kecil majikan nya itu.


"Maaf ini siapa ya Mbok?" tanya Alina pada Mbok Darmi saat melihat seorang gadis yang di perkirakan seumuran dengan nya itu.


"Ini anak saya Non, nama nya Nurmala. Tapi biasa di panggil Mala," jawab Mbok Darmi memperkenalkan putrinya pada pasangan pasutri itu.


"Mala anak satu satu nya si Mbok? Wah udah dewasa ya kamu," sambung Pras yang memang cukup mengenal sosok anak dari art nya itu.


Namun hanya sebatas mengenal. Tidak dekat sama sekali, bahkan mengobrol dengan nya saja tidak pernah.


Se cuek dan sedingin itu memang Pras jika bukan pada orang yang dia anggap penting dan berharga di dalam hidupnya.


"Iya tuan, sudah lulus kuliah juga." lanjut Mbok menatap bangga pada putri nya yang sedari tadi hanya diam menatap penuh rasa kagum pada pria yang tidak lain adalah majikan ibu nya.


"Oh begitu, sama dengan kamu dong sayang." jawab Pras sembari menarik pinggang Alina menjadikan tubuh mereka semakin merapat lalu menciumi pucuk kepala nya.


"Iya Mas, sudah kerja Mbok?" tanya Alina.


"Belum non, ini lagi nyari. Semoga saja dapat yang dekat biar nggak jauhan terus,"


"Memang nya sebelum nya kuliah di luat kota,"


"Tidak, tapi jarak dari kota ke sini lumayan jauh. Jadi kami terpaksa tinggal berjauhan karena Mala harus tinggal di kostan biar lebih dekat ke kampus,"


"Oh begitu, kenapa tidak coba masukan lamaran nya ke butik Mama? Kebetulan di sana tengah membutuhkan tenaga tambahan,"

__ADS_1


"Benarkah itu Nona?"


"Iya Mbok, tapi sayang. Kalau bekerja di sana mungkin harus tinggal berjauhan lagi, kan nggak mungkin pulang pergi dari sini,"


"Iya sih. Tapi kalau di bawah pengawasan keluarga Wiratama sih saya tidak merasa khawatir non. Saya sudah cukup mengenal tuan dan nyonya Wiratama, jadi saya merasa tenang jika Mala bisa bekerja bersama dengan nyonya besar,"


"Baiklah, nanti saya coba tanyakan pada Mama ya, siapa tahu masih ada lowongan,"


"Baik Non. Terima kasih sebelum nya,"


"Iya, sama sama Mbok."


Pras dan Alina pun merampungkan sarapan pagi nya dengan di isi beberapa adegan romantis. Dimana Pras yang meminta di suapi oleh istri kecilnya itu.


Sementara si kecil Alesya tengah di suapi oleh MBok Darmi sambil di ajak main oleh Mala. Gadis itu tampak begitu antusias menemani putri dari majikan nya itu.


Bahkan dia tidak keberatan sama sekali saat Alesya terus membuat nya repot karena harus memunguti main mainan yang di lemparkan oleh Alesya ke halaman belakang.


"Ale sayang, jangan gitu dong. Kasihan Kak Mala nya harus bolak balik mungutin mainan," ujar Alina saat menghampiri putri kecilnya, yang tengah bermain di halaman belakang bersama dengan Mala.


Menempel terus di tubuh Alina. Tidak bisa di pungkiri jika Alina memang sangatlah cantik, parasnya yang ayu, kulitnya yang putih mulus dan juga keramahan nya dalam bersikap dan bertutur kata membuat daya tarik tersendiri untuk wanita bersuami itu.


Tidak salah jika Pras terus saja menempel pada nya. Bahkan sepertinya, tidak ada yang lebih menarik dari pada istrinya. Hingga dari pagi, siang, sore dan malam pria itu terus saja menempeli tubuh sang istri.


"Sayang kita jalan jalan yuk? Mumpung Ale nya juga masih semangat main. Kita ajak ke tempat wisata keluarga yang ada di sini." ajak Pras pada istrinya.


"Boleh, ya sudah aku siap siap dulu kalau begitu. Nitip Ale dulu ya Mas,"


"Iya sayang, sekalian siapin ganti buat aku ya. Nanti kita giliran jaga Ale nya,"


"Ok,"


Alina pun segera beranjak menuju ke kamar nya. Meninggalkan Pras yang saat ini mengambil alih Alesya dari tangan Alina.


"Ale sudah sama saya saja. Kamu boleh pergi dan lanjutin bantu bantu si Mbok di dapur," ucap Pras yang membuat Mala terbangun dari lamunan nya.


"Tidak apa apa tuan, saya di sini saja. Siapa tahu tuan atau non Ale butuh bantuan," tolak nya halus.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari gadis itu, Pras pun merasa dibuat tidak nyaman. Hingga akhirnya Pras pun memilih bangkit lalu menyusul sang istri ke kamar.


"Baiklah kalau kamu masih mau tetap disini. Biar aku yang pergi," lanjut Pras sebelum bangkit dan berlalu menuju ke kamar pribadinya.


Mala sendiri hanya diam membeku. Dia tidak menyangka jika Pras akan pergi saat dia menolak pergi dari sana.


Pras bukan nya tidak tahu, bahkan sejak awal bertemu Pras tahu betul kalau sedari tadi gadis itu terus saja memperhatikan nya.


Itulah mengapa hari ini Pras mendadak manja pada istrinya. Pras tahu ada gelagat aneh pada diri gadis itu. Namun, dia juga tidak mungkin langsung menuduh begitu saja.


'Percaya diri sekali' itulah yang mungkin akan orang lain katakan padanya saat Pras langsung saja menuduh gadis itu memiliki ketertarikan padanya.


Hingga Pras pun sebisa mungkin menghindar memperlihatkan kemesraan antara dirinya dan juga Alina. Berharap jika Mala sadar jika dia adalah pria beristri.


"Loh, kok menyusul? Aku lama ya? Maaf ya," ucap Alina yang baru saja selesai bersiap siap dan hendak keluar kamar.


Eh malah menemukan suami dan anaknya sudah masuk lebih dulu ke dalam kamar.


"Mama sih, lama. Iya nggak sayang," jawab Pras melirik sang putri yang tampak menatap bingung pada keduanya.


"Lah dia malah bengong,"


"Ale belum ngerti apa apa Mas. Malah di mintain pendapat," jawab Alina terkekeh saat melihat tingkah suami nya itu.


"Sini, Ale biar aku yang urus. Mas lebih baik siap siap saja,"


"Baiklah sayangku, Cup."


Alina hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum haru. Dia tidak menyangka jika suami dingin dan arogan nya itu bisa bersikap manis seperti saat ini.


Awalnya, rasanya ingin menyerah saja saat harus terus menerus menghadapi sikap Pras yang kerap berkata kasar karena masih belum bisa berdamai dengan ke adaan.


Namun kini, semua telah berubah. Dimana Pria itu malah balik begitu mencintainya di ujung pertahanan yang hampir saja hancur oleh rasa lelah dan sabar yang mulai terkikis.


*


*****

__ADS_1


__ADS_2