
***
Usai acara wisuda, seluruh keluarga sepakat untuk mengadakan makan malam di rumah keluarga Hartanto.
Mama Tari sengaja menyiapkan menu makanan kesukaan Alina sebagai hadiah atas pencapaian yang Alina dapatkan saat ini.
Seketika, raut wajah Pras langsung saja sendu kala netranya menatap wajah mendiang sang istri yang masih terpajang didalam foto keluarga Hartanto.
Foto keluarga dengan ukuran yang super besar itu, memperlihatkan wajah cantik almarhumah Alisa dengan begitu jelas.
Alina yang menyadari itu hanya bisa menatap sendu ke arah suaminya. Cinta yang di miliki Pras untuk Alisa begitu dalam hingga sulit bagi pria itu untuk menghilangkan nama dan ingatan akan sang istri dari dalam hidup nya.
Dan Alina tentu saja sangat menyadari akan hal itu. Lalu apakah Alina harus pergi sekarang? Apalagi setelah tahu jika Pras sudah menemukan wanita yang bisa membuat nya tersenyum.
Sakit, sakit sekali rasanya saat kita dipaksa pergi setelah perasaan itu tumbuh dengan begitu subur nya.
"Kita masuk sekarang ya? Kita sudah ditunggu didalam," bisik Alina saat melihat jika Pras terus saja menatap ke arah foto Alisa.
"Hhmm," jawab Pras hanya dengan sebuah deheman.
Alina pun kembali mendorong kursi roda yang di duduki oleh Pras menuju ke ruang makan, dimana keduanya sudah ditunggu oleh seluruh keluarga di sana.
Alina menempatkan diri tepat disamping kursi roda Pras. Dengan telaten, Alina menyiapkan menu makan untuk suaminya itu.
Pras hanya menatap datar Alina yang hari ini tampil dengan begitu cantiknya dengan makeup yang flawless.
"Assalamu'alaikum," seruan salam dari seseorang pun mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana.
Alina tersenyum tipis saat melihat siapa yang datang. Dia adalah Denis, teman masa kecil hingga saat ini.
"Waalaikumsalam, eh Nak Denis. Baru datang ya? Ayo sini, langsung gabung," sambut mama Tari yang sudah terbiasa dengan kedatangan pemuda itu.
Selain Alina yang berteman dekat dengan Denis sedari mereka remaja, Denis juga merupakan teman satu kampus dengan Alina.
__ADS_1
Hingga pemuda itu pun sering datang ke rumah mama Tari, hingg membuat wanita paruh baya itu cukup akrab dengan nya.
Denis berjalan mendekat ke arah meja makan di mana semua orang tengah bersiap untuk menyantap makan malam mereka hari ini.
Makan malam spesial yang di dedikasikan untuk seseorang yang baru saja mendapat kan gelar sarjana nya.
"Bisa bisa kamu mengundang laki laki lain di acara keluarga seperti ini?" geram Pras, bisik tepat di telinga Alina saat Alina menyodorkan satu porsi menu makan malam hari ini padanya.
"Dia sudah seperti keluarga bagi kami, maaf jika itu membuat Mas tidak nyaman. Tapi, Denis sudah kami anggap keluarga. Kami juga mengundang ke dua orang tuanya kok, hanya saja Om Danu dan Tante Leni sedang berada diluar kota, jadi yang datang hanya Denis,," jelas Alina tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman.
Karena memang pada kenyataan nya seperti itu. Mama Tari dan Papa Suryo selalu mengundang keluarga Hartawan yang tidak lain adalah keluarga dari Denis.
Papa Suryo dan Om Danu yang merupakan ayah dari Denis adalah teman semasa remaja. Dan sampai saat ini hubungan keduanya terjalin dengan sangat baik.
Bahkan, sebelum terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan kelurga Hartanto harus kehilangan putri sulung nya dan demi mempertanggung jawabkan perbuatan nya.
Si bungsu Alina harus menikah dengan kakak ipar nya sendiri. Kedua keluarga itu pernah mencetuskan jika Alina dan Denis sempat akan di jodoh kan.
Sekaligus menjadi ibu sambung untuk putri semata wayang Pras dan juga Alisa, Alesya Putri Wiratama.
"Wah anak Mama, pinter sekali kamu makan ya Nak. Mau tambah lagi sayang," ucap Alina yang malam ini malah asik menyuapi si kecil Alesya yang sudah mulai MPASI nya dan hal itu tidak luput dari pandangan Pras yang duduk disamping Alina.
Gadis mungil itu sudah mulai rampus saat diberi MPASI. Bahkan kini sudah mulai bisa berinteraksi dengan orang rumah lain nya.
Tidak seperti awal awal Alina menikah dengan Pras. Jangan kan dengan orang lain, dengan Pras pun Alesya selalu menolak jika Pras ingin menggendong nya.
Namun kini, balita cantik itu sudah mulai terbiasa dengan kehadiran sang ayah. Meski sangat jarang kedua nya menghabiskan waktu bersama.
Namun si kecil Alesya kini sudah mulai terbiasa dan sudah mengenali ayah nya. Bahkan tidak jarang juga balita mungil itu merengek minta di temani oleh sang ayah.
Dan tentu saja Pras dengan senang hati melakukan itu. Selain demi mendekatkan diri lagi dengan sang anak, Alesya juga bisa menjadi obat kala Pras merindukan mendiang istrinya.
Acara makan malam pun berlangsung dengan suasana hangat kekeluargaan. Semua tampak bercengkrama hangat di meja makan.
__ADS_1
Namun hal itu tidak untuk Pras, dimana dirinya merasa kesal tapi harus menahannya saat melihat Alina berbincang hangat dengan Denis.
Banyak yang kedua muda mudi itu obrolkan, mulai dari tugas kuliah hingga rencana ke depan nya setelah mereka sama sama lulus kuliah.
Dan hal itu membuat hati Pras memanas hingga menimbulkan rasa dongkol setengah mati pada istri nya itu.
Setelah hampir satu jam menghabiskan waktu di meja makan, dan setelah berbincang sejenak di ruang keluarga.
Akhirnya satu persatu tamu yang datang pun mulai berangsur pamit satu demi satu hingga ruangan yang tadinya ramai itu kini hanya meninggalkan keluarga Alina saja.
"Kalian menginap lah disini saja. Kasihan Ale sudah tidur nyaman dikamar Mama," ucap mama Tari meminta anak dan menantu nya menginap di rumah mereka.
"Alina sih tidak keberatan, tapi semua tergantung sama Mas Pras Ma," jawab Alina yang tentu saja akan sangat senang jika bisa menginap di rumah kedua orang tuanya.
Karena sejak menikah, ALina tidak pernah lagi menginap di sana. Alina juga sudah cukup kangen dengan situasi kamar pribadi nya yang sudah berbulan bulan tidak dia tempati.
"Menginap saja ya Nak Pras. Kamar nya sudah di Mbok bersihkan kok," bujuk mama Tari yang sudah merindukan sang putri dan berharap bisa menghabiskan waktu bersama dengan nya meski satu hari.
"Baiklah Ma, malam ini kami akan menginap," jawab Pras yang tidak membuat binar bahagia itu muncul di wajah mama Tari, namun di wajah Alina juga.
'Baiklah kalau begitu, terima kasih ya. Sekarang bawa suamimu ke kamar Lin, biar kan dia istirahat,"
"Iya Ma,"
Alina pun segera membawa kursi roda milik Pras menuju ke lift agar mereka berdua bisa dengan mudah naik ke lantai atas.
Apa lagi melihat ke adaan Pras yang pasti akan sangat kesulitan untuk naik ke lantai atas dengan kursi roda nya.
Beruntung rumah Hartanto sudah dilengkapi lift hingga mempermudah Alina membawa suaminya menuju ke kamar nya yang ada dilantai atas.
*
***
__ADS_1