Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Season 2. Bab.8


__ADS_3

***


“Eh bukan nya itu Aina? dia sama siapa ya?” tanya Hani saat mereka tiba di parkiran mall hendak pulang dan memasuki mobilnya.


“Kok kaya kenal ya sama mobil yang dia masuki?” sambung Sulis saat melihat teman nya itu memasuki sebuah mobil mewah yang tidak asing di mata mereka.


“Kok mirip mobil Pak Gunawan ya? Iya nggak sih?” tambah Sulis lagi saat menyadari jika mobil yang dinaiki oleh Aina begitu mirip dengan mobil salah seorang guru di sekolah mereka.


“Gue nggak tahu kalau mereka juga dekat saat di luar sekolah,”


“Jangan suudzon dulu, siapa tahu itu kerabat nya. Bukan Pak Gunawan guru kita. Kita juga nggak lihat kan siapa yang bawa itu mobil. Udah yuk, katanya mau pulang malah ghibah,” gerutu Raya yang merasa lelah dan ingin segera pulang.


Sulis dan Hani pun akhirnya masuk ke dalam mobil. Lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah Raya terlebih dahulu karena memang rumah Raya yang lebih dekat.


“Kok kesini?” celetuk Raya spontan saat mobil yang Hani bawa memasuki gerbang komplek rumah nya bersama dengan kedua orang tua nya.


“Lah, ini kan komplek rumah lo Ay. Gue nggak salah masuk komplek kok,” jawab Hani heran.


“Ah iya, sorry. Iya, udah bener kok.” jawab Raya gugup.


Gadis itu merutuki sikap ceroboh nya itu. Raya lupa, jika pernikahan nya dengan Dipta tidak ada yang tahu dan memang dirahasiakan dari publik.


“Dah Raya, sampai ketemu hari senin di sekolah ya,” ucap Hani dan Sulis sambil melambaikan tangan mereka untuk menutup pertemuan dengan sahabatnya itu.


Raya pun membalas lambaian tangan para sahabat nya. Raya terlihat menghela nafas panjang saat mobil yang dibawa oleh Hani menghilang dari pandangan nya.


Raya pun segera mengambil ponselnya untuk memesan taksi online untuk kembali ke rumah mertua yang kini jadi rumah nya juga.


Tot


Tot

__ADS_1


Raya menghentikan pergerakan tangan nya di layar ponsel saat mendengar suara klakson mobil yang tampaknya sengaja dibunyikan agar dia menoleh ke arah sumber suara.


“Dipta,” gumam Raya saat melihat siapa yang turun dari dalam mobil yang baru saja membunyikan klakson nya.


“Ayo, kenapa bengong?” tanya Dipta yang berdiri di depan pintu mobilnya.


“Kok lo tahu gue di sini”


“Eh, koko ngomong nya gitu?”


“Ah, maaf lupa, hihihi. Kenapa Mas tahu aku di sini?” tanya Raya yang langsung berlari ke arah mobil suaminya.


“Kak Ale bilang, tadi dia nggak bisa jemput kamu karena masih ada urusan. Ya udah aku yang jemput, eh pas nyampe mall malah lihat mobil Hani sudah keluar dari mall. Dan disinilah aku kini, ayo masuk kita pulang,”


“Iya Mas,”


Raya pun segera membuka pintu mobil bagian depan lalu masuk kesana, diikuti oleh Dipta yang masuk setelah Raya masuk ke dalam mobilnya.


keduanya pun kembali ke rumah yang kini mulai ditempati oleh keduanya. Setiba nya di rumah, Raya dibuat kaget dengan beberapa orang yang tengah mengangkut barang yang akan dimasukkan ke dalam rumah.


“Ada yang pindahan ya Mas? siapa?” tanya Raya yang melihat para pekerja dari sebuah toko mebel tengah menurunkan beberapa barang di depan rumah Dipta.


“Nggak, itu Mama beli barang barang baru. Ayo masuk, nanti juga kamu tahu untuk apa itu,” Dipta berjalan lebih dulu memasuki rumah dan di ikuti oleh Raya.


“Ini, ada apa ya Ma?” tanya Raya sesudah menyalami mertuanya dengan takzim.


“Ayo, ikut Mama ke atas,” mama Alina tidak langsung menjawab namun langsung membawa Raya ke lantai atas.


Mama Alina tampak menuntun sang menantu menuju ke arah kamar yang saat ini tengah disiapkan untuk nya.


“Ini?” tanya Raya kaget.

__ADS_1


“Ini kamar kamu sayang,” jawab mama Alina.


“Ka_kamar Raya?”


“Iya, sini duduk di sini. Biar Mama jelaskan,” ajak Mama Laras menuntun kembali menantunya untuk duduk di sofa yang sudah tersedia di kamar itu.


“Begini, Mama sudah dengar semua cerita tentang kalian. Dan jujur, Mama senang jika hal itu tidak pernah terjadi pada kalian berdua. Dan Dipta juga cerita kalau saat ini dia tengah menyukai seseorang. Dan Mama juga tahu kalau Raya mengetahui siapa gadis itu. Karena itu, Mama tidak bisa membiarkan kalian bercampur dulu. Bukan nggak boleh, tapi ini untuk kebaikan kalian juga, terutama kamu sayang. Pertahankan kehormatan kamu untuk pria yang benar benar mencintai kamu dan kamu cintai. Jangan hanya karena sekarang Dipta suami kamu maka kamu akan menyerahkan itu padanya. Tidak, jangan lakukan itu, jangan berikan itu jika Dipta masih menyimpan nama wanita lain di hati nya. Mama lakukan ini bukan berharap jika nanti kalian akan berpisah. Tidak, bukan begitu. Tapi, biarkan kamu dan Dipta meyakini perasaan kalian sendiri mau nya bagaimana dan mau dibawa kemana hubungan kalian. Baru setelah itu keputusan akhir ada di tangan kalian berdua. Mau lanjut atau mau menyelesaikan nya secara baik baik.” jelas mama Alina yang di angguki oleh Raya.


“Tapi, apa Mas Dipta setuju dengan semua ini Ma? Raya tidak bisa mengambil keputusan tanpa sepengetahuan Mas Dipta,”


Mama Alina tersenyum tipis, tangannya terulur membelai lembut surai hitam dan panjang milik menantunya itu.


“Iya, dia tahu. Mama juga sudah bicara dengan nya. Ini hanya bersifat sementara sayang, sampai kalian berdua menemukan jalan dan jawaban akan dibawa kemana hubungan kalian ini,” jawab Mama Alina.


"Semoga kalian memang benar benar berjodoh Nak. Mungkin, bisa saja jika saat ini Dipta belum menyadari perasaan nya terhadap kamu. Ada pancaran aneh dari mata Dipta saat dia melihat Kamu Raya, semoga ini memang jalan kalian untuk bersama," lanjut Mama Alina dalam hati yang memang menangkap sinyal aneh dari dalam diri putranya saat pemuda itu menatap Raya.


"Ya sudah, sekarang lebih baik kamu beres beres saja. Semua isi kamar ini, sekarang murni hak milik kamu jadi. Kamu bebas menatanya sesuai dengan selera kamu,".


"Iya baik Ma, terima kasih."


"Iya sayang, Mama keluar dulu ya. Nanti kamu beres beresnya di temani Dipta saja,"


"Nggak usah Ma, Raya bisa sendiri kok,"


"Baiklah, ya sudah. Mama kembali ke kamar Mama dulu ya,"


"Iya Ma, terima kasih," jawab Raya tersenyum haru.


Dia tidak menyangka jika ibu dari sahabatnya itu begitu baik. Bahkan menyediakan yang dia butuhkan. Tidak menunggu waktu lagi Raya pun segera beranjak dan segera membuka koper yang dia bawa dari rumah nya untuk di bereskan ke dalam lemari yang sudah tersedia di sana.


"Ada yang bisa aku bantu?"

__ADS_1


*


*****


__ADS_2