
...***...
..."Maaf ya, lagi lagi tertahan di review. Semoga kali ini lolos dan berhasil up. Sedih Othor kalau sudah begini, berusaha memberikan yang terbaik eh malah macet di review."...
.
Dipta masih menatap heran pada pria yang sudah lebih dari 10 ini menjadi sahabatnya. Hari ini, Radit meminta nya untuk tidak berangkat ke kantor.
Meski bingung dengan permintaan dari sahabatnya itu, namun Dipta menuruti permintaan dari Radit dan akhirnya memutuskan untuk bekerja di rumah sambil menunggu ke datangan teman nya itu yang sengaja membuat janji untuk bersilaturahmi ke rumah utama keluarga Wiratama.
Kebetulan Dipta dan Raya memang masih tinggal di sana. Karena mama Alina tidak mengijinkan putranya untuk pindah di masa masa kehamilan Raya yang saat ini sudah memasuki trimester akhir.
“Lalu, apa yang ingin kamu sampaikan Dit?” tanya Dipta setelah beberapa saat, mencoba memberi ruang bagi sahabat nya itu untuk mengutarakan akan yang ingin dia sampaikan.
Radit masih bergeming. Namun kali ini tangan nya tampak bergerak mengambil sesuatu dari dalam tas kerja yang biasa dia bawa saat pergi ke kantornya.
Seluruh keluarga Wiratama termasuk Raya menatap heran pada selembar sertifikat asli yang di sana tertera nama seorang Raditya Hermawan Subagyo.
Yang lebih mencengangkan lagi adalah, sertifikat yang dibawa dan di perlihatkan oleh Radit adalah sertifikat mualaf yang berhasil dia dapatkan setelah resmi berpindah keyakinan.
“Apa maksudnya ini Dit? Dan, sejak kapan kamu berpindah keyakinan?” tanya Dipta sungguh sangat dibuat terkejut oleh aksi sahabat nya itu.
__ADS_1
Entah kapan pria tengil yang terlihat santai dalam segala hal itu mengubah jalur ibadah nya. Dan hal itu, seketika membuat Dipta merasa gagal menjadi seorang teman dan juga sahabat.
Pasalnya, Dipta sama sekali tidak tahu jika Radit sudah mengambil keputusan yang besar dan juga berat seorang diri tanpa melibatkan teman teman nya.
“Akan saya jelaskan semua nya. Namun sebelum itu, ijinkan saya menghadap pada Om dan Tante untuk berbicara cukup serius,” jawab Radit yang kian membuat Dipta kebingungan.
Pasalnya, setelah belasan tahun berteman dan bersahabat, ini pertama kalinya pemuda yang kini telah menjadi pria dewasa itu berbicara secara formal pada dirinya.
"Bicara serius, apa itu? Katakan saja?" Jawab Papa Pras yang di angguki oleh Mama Alina.
"Terima kasih atas kesempatan dan waktunya Om, Tante. Sebenarnya, kedatangan saya kemari bertujuan untuk memenuhi janji saya 5 tahun yang lalu pada salah satu anggota keluarga ini."
"Dia adalah Alesya, iya Om. Saya datang kemari untuk putri Om, Alesya."
"APA??"
Semua orang yang ada di sana kompak dibuat terkejut untuk kesekian kalinya setelah mendengar penuturan dari Radit.
Radit sendiri masih terlihat tenang dan siap untuk melanjutkan penjelasannya.
"Dulu sekali, saat untuk pertama kalinya saya memiliki perasaan spesial pada lawan jenis, Alesya lah yang jadi wanita pertama yang membuat saya jatuh cinta. Kepandaiannya, kemandirian nya, kedewasaan nya. Semua tentang nya begitu spesial di mata saya Om, Tante. Namun, waktu itu saya hanya bisa mencintai dia dalam diam karena selisih usia kami yang terpaut cukup jauh belum lagi keyakinan kami yang berbeda. Tapi, seiring berjalannya waktu saya, sudah tidak bisa menyembunyikan lagi perasaan saya terhadap Alesya. Hingga lima tahun yang lalu, saya memberanikan diri mendatangi nya dan mengutarakan semua isi hati saya, dengan perasaan takut ditolak dan takut kecewa hingga sakit hati. Saya pun tetap nekat mengutarakan semua isi hati saya padanya. Gayung bersambut, namun tidak serta merta Alesya menerima perasaan saya meski kami memiliki perasaan yang sama pada waktu itu. Hingga Alesya pun memberikan saja kesempatan untuk datang kembali setelah saya bisa memantaskan diri saya dan cukup layak untuk bersanding dengannya dikemudian hari. Dan kini, saya ingin menepati janji saya untuk datang setelah saya siap untuk menghalalkan nya," Jelas Radit yang jelas jelas membuat semua orang yang ada di sana semakin shock.
__ADS_1
"Dan akhirnya, setelah berpikir dan mempertimbangkan hal ini selama 4 tahun lamanya. Akhirnya, satu tahun yang lalu saya pun memantapkan hati untuk berpindah keyakinan. Namun tolong jangan salah paham dulu. Mengenai keyakinan ini, saya melakukan kan nya bukan serta merta hanya demi Alesya. Namun demi diri saya sendiri yang memang sempat kehilangan arah dan pegangan setelah kedua orang tua saya meninggal dan meninggalkan beban yang cukup berat untuk saya jalankan. Namun, setelah mengenal keyakinan yang sama dengan Alesya, saya menemukan kedamaian hati saya. Saya merasa nyaman dan tenang setelah mengenalnya lebih jauh dan lebih dalam lagi. Disini saja juga mendapatkan bonusnya, yaitu dengan di mudahkan nya saya dalam meraih wanita impian saya yang selama bertahun tahun saya perjuangkan. Dengan ini, saya nyatakan dengan keadaan yang sadar sesadar sadarnya. Jika saya, ingin meminta Alesya untuk dipersunting oleh saya untuk menjadi pasangan hidup saya, kini dan hingga kami menua bersama." lanjut Radit penuh ketegasan, dan lagi hal itu membuat semua orang speechless.
"Jujur Om sangat terkejut dengan kenyataan ini. Om juga tidak tahu harus menjawab apa, tapi jika kamu adalah pria yang dipilih oleh putriku untuk menjadi penanggung jawab hidupnya nanti, maka. Sebagai orang tua, Om hanya bisa memberikan doa restu dan juga dukungan. Semoga kamu memang yang terbaik untuk mendampingi putri Om nantinya," jawab Papa Pras yang membuat perasaan Radit sedikit merasa lega.
Karena Radit tidak bisa berbangga hati lebih dulu jika sang pujaan hati belum menerima jawaban atas lamaran dadakan yang di lakukan olehnya. Bahkan gadis itu tidak tahu menahu perihal lamaran dadakan ini.
Meski sempat bertukar pesan lewat aplikasi chat si hijau. Namun Radit tidak membahas masalah lamaran nya sedikit pun. Pria itu hanya memintanya cuti dari kantor karena ada yang mau di sampaikan.
Dan tentu saja, orang pertama yang di buat kaget adalah Alesya sendiri. Alesya bahkan tidak berani mengangkat kepalanya meski hanya untuk sekedar memastikan jika telinganya tidak salah dengar.
"Sekarang, semua keputusan ada di tangan Alesya. Apapun keputusannya, tentu saja Om akan menjadi orang pertama yang mendukung dan merestuinya. Bagaimana nak apa kamu menerima lamaran dari nak Radit ini?" tanya papa Pras yang kini beralih kepada Alesya.
Orang yang menjadi pemeran utamanya hari ini. Perlahan tapi pasti, Alesya pun mulai mengangkat kepalanya yang sedari tadi terus saja menunduk.
Jantungnya berdebar hebat manakala netra beningnya bertemu dengan Netral Teduh milik Radit. Perasaannya bercampur aduk sekarang, sungguh rasanya bahagia sekali jika pria yang sudah bertata didalam hatinya kini datang untuk menepati janjinya.
Namun di sisi lain Alesya juga merasa takut, Aleysa benar-benar takut menerima lamaran Radit. Pasalnya, usia mereka terpaut cukup jauh dan itu masih menjadi hal yang aneh di dalam kalangan masyarakat ramai.
*
*****
__ADS_1