
***
Pras mengepalkan kedua tangan nya saat netra nya menangkap sepasang muda mudi yang tengah berbincang hangat di ruang terbuka di salah satu sudut yang ada di butik mama Widia.
Hati Pras kian terasa terbakar tatkala melihat tangan si pria terulur, untuk membenahi rambut si wanita yang terurai ke bagian wajah dan cukup menghalangi saat dia akan menyuapkan makanan yang tersedia di atas meja.
"Bawa aku pada mereka," titah nya yang di angguki oleh Wahyu, sang asisten.
"Baik tuan,"
Wahyu pun langsung mendorong kursi roda yang di duduki oleh Pras menuju ke teras butik dimana di sana ada Alina yang tengah makan bersama dengan Denis.
Lagi dan lagi, Pras selalu saja dibuat kesal dengan ke hadiran pemuda itu. Pemuda yang selalu aja ada di sekitar Alina. Dan sungguh, Pras tidak suka akan hal itu.
Eehhheemmm
Eehhheemmm
"Apa boleh saya bergabung?" tanya Pras pada kedua orang yang tengah berbincang hangat di sana.
"Mas Pras, sudah pulang? Ayo sini, sekalian makan bareng sama kita," jawan Alina langsung bangkit dari duduknya lalu menyingkirkan salah satu kursi agar Pras bisa menempati ruang itu.
Wahyu kembali mendorong kursi roda milik Pras untuk menempati tempat yang sudah disediakan oleh Alina.
"Saya akan menunggu diluar tuan," ucap Wahyu setelah selesai membantu Pras menduduki tempat nya.
"Loh, kenapa menunggu diluar? Ayo, Mas Wahyu juga ikut makan sama kami," ujar Alina menghentikan langkah Wahyu yang akan beranjak dari sana.
"Tapi saya___,"
"Sudah, saya tidak menerima penolakan,"
Alin pun langsung menarik lengan Wahyu dan membawa nya ke salah satu kursi kosong dan menyuruh pria itu duduk di sana untuk ikut makan bersama.
Rahang Pras kembali mengeras saat melihat Alina menggandeng lengan Wahyu dan membawa pria itu ke salah satu kursi yang kosong yang ada disamping Denis.
__ADS_1
Sementara Denis sendiri hanya diam memperhatikan interaksi di antara ketiga orang itu.
"Tadi Mama pesan makanan yang banyak, dari pada tidak kemakan. Lebih baik kita makan ramai ramai," lanjut Alina lagi setelah dirinya kembali duduk di kursi nya.
"Mama nya dimana?" tanya Pras yang sejak dia datang, tidak melihat wanita paruh baya yang sudah melahirkan nya itu.
"Mama lagi temani Alesya, ayo lebih baik kita makan dulu, baru setelah itu kita lanjut lagi ngobrolnya," jawab Alina yang langsung menyantap makanan yang sudah tersedia di meja.
Semua juga tampak ikut makan, begitu juga dengan Wahyu. Ini kali pertama dirinya makan dalam satu meja bersama atasan nya.
Tentu saja hal itu membuat pria itu sedikit canggung dan kaku. Hingga untuk mengambil menu makanan yang ada dimeja pun teraa begitu kaku.
"Sini, biar aku ambilkan," ujar Alina yang dengan suka rela mengisi piring kosong milik Wahyu dengan menu yang ada dimeja.
Dan hal itu kembali membuat hati seseorang memanas. Namun demi sebuah gengsi yang selama ini dia pertahan nya, pria itu pun mencoba menekan rasa sabar nya.
"Loh, kok nggak makan Mas? Makanan nya nggak enak ya?" tanya Alina saat Pras hanya diam menatap menu makanan yang ada di piring nya.
"Tidak, aku tida__mmffff,"
Potong Alina yang langsung memasukkan satu sendok nasi lengkap dengan lauknya ke dalam mulut Pras, saat melihat pria itu tidak kunjung memakan makanan nya.
Pras sendiri hanya bisa terdiam tapi tetap mengunyah nasi yang sudah ada didalam mulutnya.
Alin terus saja menyuapi Pras tanpa ragu dan malu disaat dua pasang mata terus saja memperhatikan nya.
Bahkan Alina sampai menambah porsi makan nya karena dia makan berdua dengan suaminya dalam satu piring yang sama.
Pras sendiri hanya bisa pasrah saat istrinya itu terus saja menyuapi dirinya. Terkesan lebay, namun entah kenapa Pras menyukai kegiatan yang baru dia lakukan bersama dengan Alina saat ini.
"Alhamdulillah, kenyang nya," ucap gadis itu saat porsi ketiga sudah ludes dilahap oleh kedua nya.
"Gimana nggak kenyang, lo habisin 3 porsi," ucap Denis berdecak kagum dan juga kaget secara bersamaan.
Karena ini kali pertama untuk Alina makan sebanyak itu. Meski 3 porsi itu dia makan bersama dengan Pras. Namun ini adalah kali pertama Alina menambah makanan nya saat dia makan.
__ADS_1
Biasanya, seenak apapun makanan itu dan sesuka apapun Alina dengan makanan itu, Alina tidak pernah menambah porsi makan nya.
Bukan karena diet, karena bukan ALina tipe wanita yang terobsesi dengan tubuh langsing. Toh tanpa diet juga tubuh gadis itu sudah bagus dan kecil, hanya sedikit berisi.
Namun, Alina memang tidak bisa makan dengan nambah porsi. Namun berbeda dengan kali ini, dimana dirinya nambah sampai 3 kali hingga membuat nya kekenyangan.
"Makanan nya enak sekali, terima kasih nyonya," ucap Wahyu saat pria itu selesai memakan makanan nya.
"Sama sama Mas Wahyu," jawab Alina dengan tangan yang bergerak membereskan piring kotor yang ada di atas meja.
"Kebiasaan mu tidak pernah berubah ya. Selalu bertanggung jawab, termasuk masih suka membersihkan piring kotor setelah makan. Padahal ada orang yang bisa di andalkan melakukan itu," celetuk Denis yang seketika membuat Pras tertegun.
Iri, itulah yang di rasakan oleh Pras akan sosok Denis. Pria muda itu begitu kenal dekat dengan istrinya itu. Sedangkan Pras yang sudah resmi menikahi nya, hal sekecil ini pun tidak diketahui oleh nya.
Selama ini, Pras mengira jika Alina tidak pernah melakukan hal lain selain memasak. Namun ternyata Pras salah, wanita muda yang lahir di keluarga kaya itu nyata nya tidak segan segan mengerjakan pekerjaan yang ahrus nya di kerjakan art.
Selama ini, Pras terlalu terbelenggu cinta sang mendiang istri pertama nya hingga dia menutup mata tentang segala hal yang menyangkut istri keduanya itu.
Alisa memang istri yang baik dan sempurna dimata Pras. Wanita itu begitu mandiri dan penyayang, ya itu wajah pikir Pras karena Alisa adalah anak pertama.
Namun Pras tidak menyangka jika istri keduanya itu juga memiliki sifat yang sama. Bahkan Alina jauh lebih mandiri dan tidak manja seperti Alisa. Pras pikir, ALina akan lebih manja dan merepotkan, mengingat jika wanita muda itu adalah anak bungsu.
Namun lagi lagi Pras salah mengira. Ternyata gadis yang hidup dengan segala fasilitas lengkap yang diberikan oleh kedua orang tuanya itu tidak lah manja seperti yang dia kira.
"Ini sudah kebiasaan ku, lagi pula, jika kita bisa melakukan nya sendiri kenapa harus mengandalkan orang lain," jawab nya santai sembari membawa semua piring kotor itu ke arah dalam butik.
Di bagian dalam memang tersedia dapur kecil dengan fasilitas yang cukup lengkap untuk menunjang kebutuhan karyawan butik jika membutuhkan makanan atau sebagainya.
"Sudah berapa lama kalian saling mengenal?" tanya Pras tiba tiba pada Denis saat Alina sudah tidak ada bersama mereka.
"Sejak masih kecil tentu nya. Seandainnya takdir berpihak padaku, mungkin saat ini kami sudah menikah," jawab Denis yang membuat Pras tersedak oleh minuman yang tengah dia minum.
*
***
__ADS_1