
***
“Aku titip putri ku Pras. Tolong, ajari dan bimbing dia agar bisa melakukan tugasnya dengan baik dan benar sebagai seorang istri.” ucap Ayah Bara saat akan melepaskan putrinya keluar dari rumah nya dan ikut bersama dengan mertua nya kini.
“Baiklah, jangan khawatir. Aku akan memperlakukan nya sama dengan putri putriku karena kini dia juga adalah putriku,” jawab Papa Pras yang kini mengemban beban baru dengan hadirnya anggota baru didalam keluarga nya, yaitu menantu pertama nya Rayana.
“Ayah titip Raya Dipta, tolong jaga dan lindungi dia seperti Ayah menjaga dan melindungi nya,”
“Iya Ayah, akan Dipta usahakan,”
“Jaga diri kamu baik baik Nak. Ingat, kamu seorang istri sekarang. Kamu harus nurut dan patuh pada apa yang di katakan oleh suami mu. Jangan buat Ayah dan Bunda kecewa lagi,”
“Iya Ayah,”
“Pergilah sayang, jaga diri kamu baik baik. Ingat, nurut apa kata suami,”
“Iya Bunda, maafkan Raya,”
Raya pun berhambur masuk kedalam pelukan sang Bunda. Ini pertama kalinya mereka berpisah, tentu saja hal ini terasa begitu berat untuk masing masing.
Raya yang masih sangat bergantung pada sang Bunda, tentu saja memiliki rasa takut saat harus tinggal di rumah baru tanpa kehadiran Bundanya di sana.
Sedangkan Bunda Aulia yang begitu menyayangi putrinya itu, tentu saja banyak hal yang di khawatirkan oleh nya prihal putri tunggalnya itu.
Seketika ruangan itu pun menjadi haru karena perpisahan anak dan kedua orang tuanya. Raya adalah anak tunggal dan tentu saja melepaskan gadis itu untuk tinggal bersama dengan suami nya tidak pernah terbayang kan oleh Bunda Aulia dan Ayah Bara akan secepat itu moment itu datang.
Bahkan masih banyak rencana Bunda Aulia untuk putri tunggal nya itu yang mungkin sejak saat ini harus kembali dipikirkan dan di pertimbangkan.
Termasuk melanjutkan study di luar negeri yang sudah Bunda Aulia siapkan jauh jauh hari. Karena kini, putrinya sudah hampir lulus tingga menunggu ujian akhir sekolah.
Pasalnya, kini putri kecil mereka sudah berpindah tangan pertanggung jawaban nya. Bukan pada mereka lagi namun pada pemuda yang tadi malam mengucap ijab kabul atas nama putrinya, Rayana Wijaya.
“Kalau begitu, kami pergi dulu. Kalian tenang lah, Raya akan aman bersama dengan kami. Kami akan memberikan yang terbaik untuknya sebagai menantu pertama di keluarga Wiratama.” lanjut Papa Pras sebelum beranjak meninggalkan rumah sahabatnya Dokter Bara Wijaya.
Seketika, tangis Bunda Aulia pun pecah setelah mobil yang membawa putrinya menghilang dari pandangan. Ayah Bara dengan begitu sabar mencoba menenangkan sang istri yang tengah menangis tersedu di pelukan nya.
"Tenanglah, putri kita pasti baik baik saja bersama dengan keluarga baru nya. Kita doakan saja, semoga ini adalah takdir baik untuk putri kita."
__ADS_1
*
*
Sementara di dalam mobil, Raya belum busa menghentikan air matanya yang terus keluar dari maya hazel miliknya. Bahkan gadis itu sudah hampir menghabiskan satu bungkus tisu yang tersedia di dalam mobil mewah milik ayah mertuanya.
Dipta sendiri hanya bisa menatap iba pada gadis itu. Namun, dia sendiri juga tidak bisa berbuat apa apa selama dia belum memiliki bukti jika bukan mereka yang berbuat asusila di sekolah.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah utama Wiratama suasana di dalam mobil hanya di isi oleh keheningan. Papa Pras sendiri tidak mengeluarkan sedikit pun suaranya. Pria paruh baya itu membiarkan saja mengeluarkan tangisnya.
Papa Pras tahu, tidak semua wanita akan siap untuk di bawa oleh pria yang menjadi suami untuknya. Butuh waktu bagi mereka menerima dan menyesuaikan diri dengan kehidupan baru mereka.
Setelah hampir satu jam berada di jalanan, menembus keramaian ibu kota. Akhirnya mobil yang membawa Raya pun tiba di halaman rumah keluarga suaminya.
Dengan di bantu oleh Dipta, Raya keluar dari mobil itu dengan wajah sendu dan mata yang sembab. Mama Alina menyambut hangat kedatangan anggota baru di dalam rumah nya itu.
Bahkan tanpa berucap sepatah kata pun Mama Alina langsung memeluk tubuh gadis yang kini sudah jadi menantu untuknya itu.
"Tidak apa apa. Semua akan baik baik saja, kami akan menjaga dan merawat mu sama seperti Ayah dan Bunda," ucap Mama Alina mengusap lembut punggung Raya.
"Iya tante, terima kasih."
"Ah iya, maaf Ma. Belum terbiasa soalnya."
"Iya, tidak apa apa. Nanti juga terbiasa, ayo Dipta. Bawa istrimu ke kamar, biarkan dia istirahat kalian pasti cape,"
"Iya Ma. Ayo Ra, ikut gue,"
"Hus, ngomong nya yang baik dong Dipta. Masa sama istri lo gue,"
"I_iya maaf Ma, lupa."
"Biasakan mulai sekarang, jangan gunakan kata lo gue lagi. Raya juga ya, mulai sekarang biasakan panggil Dipta dengan sebutan Mas, mengerti?"
"Ba_baik Ma," jawab keduanya yang tiba tiba merasa canggung antara satu sama lain.
"Ayo Ra, ikut aku masuk."
__ADS_1
"I_iya Ma_Mas," jawab Raya terbata sembari mengikuti langkah kaki Dipta menuju ke lantai dua rumah nya.
Saat tiba di lantai atas, Dipta dan Raya berpapasan dengan Pak Wahyu yang baru saja keluar dari dalam kamar Dipta.
"Kopernya sudah saya simpan di kamar ya Mas," ucap Pak Wahyu yang tadi membantu membawakan koper Raya untuk di masukan ke dalam kamar Dipta.
"Iya Pak, terima kasih. Maaf sudah merepotkan,"
"Tidak kok Mas, saya permisi kalau begitu."
"Baik Pak, terima kasih."
Dipta pun kembali melanjutkan langkahnya memasuki ruang pribadinya yang di ikuti oleh Raya yang kini akan menjadi penghuni kamar itu.
"Masuk Ra, sorry berantakan," ucap Dipta yang tiba tiba merasa kikuk saat berhadapan langsung dengan Raya setelah status mereka berubah.
Begitu pun dengan Raya yang tampak bingung harus berbuat apa dan harus ngapain. Gadis itu tampak cukup kagum pada situasi kamar Dipta yang cukup rapih meski dia seorang laki laki.
"Berantakan apanya, ini rapih banget lagi Ta. Upss, maaf maksudnya Mas. Kamarnya rapih banget,"
"Aneh ya?"
"Apanya?"
"Biasanya lo gue, sekarang harus pake aku kamu, ditambah harus panggil Mas lagi. Kaku banget,"
"Ya, gimana lagi. Tapi, aku masih kepikiran siapa ya suka berbuat mesum di sekolah? Bikin rugi orang lain aja,"
"Ciee yang sudah manggil aku kamu," goda Dipta mencoba mencairkan suasana, dan menetralkan perasaan nya yang sebenarnya dilanda rasa gugup yang luar biasa.
"Dipta ih, serius."
"Mas, Raya. Mas Dipta,"
Dipta pun terlihat menghela nafas panjang sebelum melanjutkan ucapan nya prihal pelaku tindakan asusila itu, yang sebenarnya.
"Aku juga penasaran banget, siapa sebenarnya mereka? Karena mereka kita yang kena imbasnya, lihat saja. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja setelah apa yang mereka lakukan pada kita,"
__ADS_1
*
****