Mencinta Suami Cacat

Mencinta Suami Cacat
Part.32


__ADS_3

***


Pras menjatuhkan kepalanya tepat di bahu Alina yang polos setelah mencapai pelepasan nya. Keduanya tampak mengatur nafas sisa pergulatan panjang dan panas yang baru saja selesai mereka lakukan.


"Terima kasih," bisik Pras tepat ditelinga Alina sebelum menggulingkan tubuh nya ke samping Alina.


Pras langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya lalu menarik Alina masuk kedalam pelukan nya.


"Tidurlah, kamu pasti lelah," lanjut Pras setelah menyelimuti dan memeluk tubuh polos Alina.


"Bukan kah tadi Mas bilang, Mas ingin bicara sesuatu? Apa itu?" tanya Alina yang saat ini ada didalam dekapan Pras.


"Jangan salah paham, aku tidak ada hubungan apapun dengan Monica. Dia memang memohon padaku untuk kembali. Tapi aku menolak akan hal itu,"


"Kenapa?"


"Kenapa? Kenapa apanya?"


"Kenapa Mas menolaknya?"


"Aku sudah lama melupakan dia dan aku sudah tidak mencintainya,"


"Kalau Mas sudah tidak mencintainya, apa Mas sudah mencintaiku?"


Deg...


Pras tercengang, dia tidak menyangka jika Alina akan bertanya tentang hal yang begitu di hindari oleh Pras.


Berbagai cara dilakukan oleh Pras demi meyakinkan jika dirinya tidak akan pernah mencintai gadis yang sudah membuat nya seorang duda mati.


Itulah kenapa Pras kerap bersikap kasar, cuek dan kejam pada Alina. Pras hanya ingin meyakinkan dirinya jika Pras tidaklah memiliki perasaan apapun untuk Alina.


Namun, semakin Pras berusaha menghindar dan menolak. Arus untuk mengakui perasaan nya kian besar menyeret Pras menuju ke pintu pengakuan.


Pras bergeming, mencoba memikirkan perasaannya selama ini pada Alina. Jujur rasa benci terhadap mantan adik iparnya itu masih ada di dalam hatinya, namun tidak Pras pungkiri jika Pras akan selalu marah dan merasa cemburu jika Alina berdekatan dengan pria lain.

__ADS_1


Entah kata apa yang cocok untuk menggambarkan perasaan Pras saat ini pada Alina. Jika itu dikatakan cinta Rasanya pun masih terlalu dini untuk diakui jika itu cinta.


Pasalnya Pras masih kerap merindukan mendiang istrinya dan belum bisa menggantikan posisi Alisa dihatinya.


"Mas Kenapa diam? aku bertanya padamu?" lanjut Alina saat tidak ada respon dari Pras.


"Tidurlah ini sudah larut malam aku lelah," jawab Pras mengalihkan pembicaraan diantara keduanya perihal perasaan masing-masing.


Mendapat jawaban yang tidak sesuai dengan pertanyaan yang dia berikan Alina pun hanya bisa menghela nafas lelah. Dia tahu jika jawaban Pras akan selalu menjawab seperti ini. Tidak jelas dan tidak ada kepastian.


"Apa yang kamu harapkan dari semua ini Alina? suamimu selamanya tidak akan pernah mencintaimu," gumam Alina dalam hati.


Hari kian larut dan kian sepi, Alina yang merasa jika Pra sudah tertidur lelap pun akhirnya bangkit dari sisi Pras lalu memakai kembali piyamanya yang tadi tergeletak begitu saja di lantai karena dilempar oleh Pras saat kabut hasrat telah menyelimuti pria itu.


Setelah selesai memakai kembali pakaiannya, Alina pun terduduk sejenak di pinggir ranjang sambil menatap wajah tampan Pras yang masih terlelap damai dalam tidur nya.


"Harus dengan cara apa dan bagaimana agar aku bisa meluluhkan hatimu Mas," gumam Alina lagi dalam hati sambil menatap wajah tampan Pras yang tertidur lelap.


Tidak ingin semakin sakit hati, Alina pun akhirnya Pergi Kembali ke kamarnya bersama dengan Alesya. Alina membaringkan tubuh lelahnya di samping tubuh mungil Alesya lalu mendekap erat balita yang tertidur lelap di samping nya.


*


*


*


Keesokan paginya seperti biasa Alina terlebih dulu akan mengurusi si kecil Alesya. Mulai dengan memandikan balita kecil itu, lalu memberi susu dan sarapan.


Setelah semua urusannya dengan Alesya selesai Alina pun beranjak menuju ke kamar Pras. Alina menatap ke arah ranjang di mana Pras masih tertidur lelap di sana. Mengabaikan Pras yang masih tertidur, Alina pun langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat yang akan digunakan oleh suaminya membersihkan diri.


Usai menyiapkan air hangat di dalam kamar mandi Alina pun beranjak menuju ke lemari pakaian Pras dan menyiapkan satu stel pakaian kerja lengkap dengan jas, dasi dan juga baju bagian dalam nya.


Usai Urusannya di dalam kamar Pras rampung, Alina pun kembali ke dalam kamarnya dan kali ini dia akan mengurus dirinya sendiri. Hari ini rencananya Alina akan pergi ke butik mertuanya.


Rupanya Alina menerima tawaran dari mama Widya untuk membantu mengelola butiknya setelah lulus kuliah. Dan merasa tidak memiliki kegiatan selain mengurusi Alesya dan juga Pras, Alina pun akhirnya setuju untuk membantu mengelola butik Mama Widia.

__ADS_1


Dan hari ini keduanya pun berjanji untuk bertemu di butik mama Widia.


"Mbok ini sarapan untuk Tuan, tolong nanti kalau Tuan mau sarapan dipanasin ya? saya harus segera pergi ke butik karena sudah membuat janji dengan Mama di sana. Tolong titip pesan untuk Tuhan ya kalau saya pergi ke butik mama Widia. Saya mau izin langsung tapi tuannya masih tidur," ucap Alina pada Mbok Ijah.


"Baik nyonya, Nanti akan saya sampaikan pada tuan,"


"Baiklah, terima kasih ya Mbok. Kalau begitu saya pergi ya," pamit Alina.


"Iya nyonya hati-hati di jalan."


"Iya terima kasih ya Mbok,"


Alina pun segera pergi keluar dari rumah besar itu menuju ke mobil yang sudah disiapkan. Dengan membawa Alesya serta, Alina pun akhirnya Pergi ke butik memenuhi janji bertemu dengan mama mertuanya.


Sementara Pras sendiri baru terbangun tepat di jam 09.00 pagi. Menyadari jika Alina sudah tidak ada lagi di sampingnya. Pras pun akhirnya bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Tumben, Kenapa dia tidak membangunkan ku," gumam Pras saat melakukan aktivitasnya di kamar mandi.


Hari ini beras memiliki jadwal meeting dengan kliennya tepat di jam 10.00 pagi harusnya Pras sudah ke kantor saat jam 08.00 pagi tadi. Namun, sayangnya Alina yang tidak membangunkan nya membuat Pras baru terbangun di jam 09.00.


Aneh itulah yang dirasakan Pras saat ini, tidak biasanya Alina membiarkan Pras bangun kesiangan. Apalagi ada jadwal Meeting pagi.


"Ke mana Gadis itu?" gumam Pras lagi saat memakai pakaian kerjanya dan tentu saja kali ini tanpa bantuan Alina yang entah pergi ke mana karena sedari Pras membuka matanya Alina sama sekali tidak muncul di kamar itu


Usah berpakaian Pras pun kembali duduk di kursi rodanya dan mengayuh kursi roda itu menuju ke luar kamar dan menuju ke arah dapur, dimana istirnya akan berada di sana saat pagi hari.


"Alina dan Alesya t


Kemana Mbok? kok rumah tampak sepi?" tanya Pras saat tiba di ruang makan dan hanya menemukan Mbok Ijah Tengah sibuk menyiapkan sarapan untukmu tanpa Alina di sana.


"Non Alina sudah pergi ke butik nyonya besar tuan," jawab Mbok Ijah.


"Ke butik mama? Memangnya kenapa dia harus ke sana?" tanya Pras penuh selidik.


"Kalau untuk itu, Saya kurang tahu tuan. Silakan tuan sarapannya sudah siap," lanjut Mbok Ijah.

__ADS_1


Pras pun akhirnya sarapan tanpa ditemani oleh anak dan istrinya. Lalu setelah itu terus langsung berangkat menuju ke kantornya karena memang sudah ditunggu oleh klien kliennya.


__ADS_2