
***
“Sstt, Lo yakin kalau Lo ga pernah ketemu sama Dipta selama 7 tahun ini?” tanya Hani menyikut lengan Raya saat kedua nya tengah sibuk membersihkan piring piring kotor yang baru saja mereka pakai untuk makan bersama beberapa saat yang lalu.
“Yakinlah, Lo tahu sendiri kan kalau selama 5 tahun Gue Paris dan dua tahun ini Gue di Dubai. Kami bahkan tidak pernah saling komunikasi lewat apapun,"
"Serius Lo? Bukan nya Lo suka ya sama dia?"
"Iya, tapi aku benar benar ingin berserah diri saja Han. Tidak mau banyak berharap, biar kan Allah yang menentukan jalan kita menemukan takdirnya, baik untuk aku ataupun untuk Dipta,” jawab Raya benar adanya.
Iya, baik Raya atau pun Dipta sama sama mencoba sama sama menahan diri untuk tidak berkomunikasi satu sama lain. Selain untuk memantapkan hati, mereka juga ingin sama sama memantaskan diri lebih dulu sebelum takdir membawa mereka bertemu dengan seseorang yang sudah di takdirkan untuk keduanya.
Entah itu adalah Dipta dengan Raya atau Dipta, Raya dan pasangan mereka masing masing nantinya. Yang pasti, baik Dipta atau pun Raya ingin memantaskan diri untuk pasangan mereka masing masing lebih dahulu dan memantapkan hati mereka masing masing.
Jujur, Raya sendiri sudah mengikhlaskan jika seandainya bukan Dipta yang ditakdirkan untuk dirinya. Namun, setelah pertemuan nya hari ini. Ternyata perasaan itu masih tetap ada dan sama seperti dulu sebelum dia memutuskan untuk pergi menjauh dari kehidupan Dipta.
Apa lagi saat Dipta di dekati oleh wanita lain, rasanya kesal sekali hingga tanpa sadar dia melakukan hal yang membuat orang lain menaruh curiga terhadap dirinya dan juga Dipta tentu nya.
“Kok tingkah Lo aneh tadi?”
“Aneh gimana? Nggak kok, biasa aja,”
“Aneh lah, aneh banget malah,”
“Enggak aneh kok sayang, itu hal yang wajar dilakukan oleh pasangan. Apalagi hubungan mereka juga halal, tinggal nunggu di resmikan saja, iya kan Ta?” sambung Edo yang bertanya pada Dipta yang ikut datang bersama dengan Edo ke dapur.
Kedua pria itu akhirnya ikut nimbrung di dapur mengikuti sang kekasih yang tidak kunjung kembali dari dapur dan tenyata tengah sibuk bergosip bersama dengan sahabat nya Raya.
__ADS_1
“Iya, insya Allah. Doakan saja semua nya lancar ya,” jawab Dipta ambigu yang membuat dahi Hani kian mengerut.
“Maksud kalian apa sih? Aku bingung deh, kamu pasti tahu sesuatu kan sayang?” tanya Hani pada Edo yang saat ini tengah memeluk pinggang nya dengan sangat erat dari arah belakang.
“Lebih baik sekarang kita keluar yuukkk ga enak sama yang lain yang masih ada di luar. Untuk masalah mereka, biar mereka yang jelaskan nanti,” jawab Edo membawa calon istrinya keluar dari dapur meninggalkan Raya dan juga Dipta yang tiba tiba kembali merasa canggung satu sama lain nya.
“Le_lebih baik kita juga keluar,” ucap Raya yang begitu gugup saat Dipta menatap nya dengan sangat intens.
Gadis itu segera melangkah hendak keluar dari arah dapur, namun. Baru saja dua langkah, tangan Raya sudah di tarik oleh Dipta hingga tubuh gadis itu tertarik lalu menabrak tubuh kekar Dipta. Dipta mendekap erat tubuh mungil Raya, pria itu menyesap aroma tubuh Raya yang sudah lama dia rindukan.
“Mas, jangan begini,” bisik Raya dengan suara tercekat.
Jujur, Raya juga sangat merindukan pelukan yang dulu bisa di dapat kan kapan saja dari pria itu. Dan tentu saja atas nama persahabatan. Namun berbeda dengan saat ini, dimana mereka belum tahu akan kemana mereka membawa hubungan kedua nya saat ini.
“Sebentar saja Ay, aku sangat merindukan kamu,” jawab Dipta tidak kalah berbisik dengan Raya.
"Kita masih resmi suami istri Raya, jadi tidak akan dosa. Malah akan dapat pahala," jawab Dipta langsung memotong ucapan Raya.
Hingga membuat gadis itu terdiam dan membiarkan pria itu memeluk erat tubuh nya. Dipta semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Raya yang tertutup oleh hijab yang tengah di pakai oleh gadis itu.
Dengan tangan yang gemetar, Raya mencoba mengangkat kedua tangan nya lalu membalas pelukan dari pria yang 7 tahun lalu mengucapkan ijab kabul atas nama dirinya, Rayana Wijaya.
*
*
Sementara itu, diluar ruangan dapur. Tampak seorang gadis terlihat duduk tidak tenang dengan terus saja melirik ke arah dapur ruangan yang tengah dia tempati saat ini.
__ADS_1
“Kamu kenapa sih? kok gelisah gitu?” tanya Winda pada sang adik yang tengah duduk di samping nya.
"Kok Kak Dipta nggak keluar keluar ya Mbak? Wanita tadi juga," jawab Manda terlihat tidak tenang.
"Wanita? Wanita yang mana?" tanya Winda.
"Itu, yang pake hijab. Apa jangan jangan mereka berbuat aneh aneh lagi di dapur? Ih, gaya nya aja pake hijab tapi kelakuan kok gitu," cibir Manda saat menyadari jika bukan hanya Dipta yang ada di dapur, namun Raya juga.
"Tidak aneh kok Dek, bukan hal aneh. Toh mereka pasangan halal. Jadi mereka mau melakukan apapun, ya bebas. Toh hubungan mereka sudah resmi," kini bukan Winda yang menjawab, namun Haris yang sejak datang tidak beranjak dari samping tunangan nya.
"Maksud Abang apa?" tanya Manda masih belum paham.
"Mereka itu sudah menikah, bahkan sudah sejak masih sama sama sekolah. Tapi memang, karena urusan pribadi dan lain hal, pernikahan mereka terpaksa di rahasiakan." jelas Haris yang membuat wajah Manda berubah sendu.
"Pantas saja Mas selalu menolak jika aku mau mengenalkan salah satu teman ku padanya. Jadi sudah ada pemiliknya ya?" tanya Winda yang memang sempat ingin bertemu dengan Dipta untuk menjodohkan pria gila kerja itu pada salah satu teman nya.
Winda kira, selama ini absen nya Dipta di acara acara sang sahabat hanya karena pria itu gila kerja. Dan berinisiatif untuk mencarikan nya pasangan. Ternyata pemikiran Winda salah, ternyata Dipta sudah dimiliki wanita lain.
"Iya, waktu itu kami tidak bisa bercerita karena itu privasi mereka kan. Tapi, melihat Manda yang sepertinya tertarik pada Dipta ya mau nggak mau harus di ungkapkan agar Manda tidak menaruh harapan apapun pada Dipta," jelas Haris yang memang menangkap gelagat aneh di dalam diri Manda saat berhadapan dengan Dipta.
Tidak lama, Dipta dan Raya pun keluar dari dalam dapur dengan bergandengan tangan. Dipta menautkan jari jarinya di jari jari Raya. Seolah olah tangan itu tidak mau terlepas dari genggaman nya.
Dan tentu saja hal itu semakin membuat salah satu gadis yang ada di sana kian merasa sakit hati bahkan sebelum perasaan nya tumbuh berkembang dan terbalaskan.
*
****
__ADS_1